JATENGKU.COM, BATANG – Pengembangan Agrowisata Kebun Buah di Desa Bandung, Kecamatan Pecalungan, bukan hanya soal menanam bibit, melainkan juga bagaimana mengelola hasil panennya agar bernilai ekonomi tinggi. Menjawab kebutuhan tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) menyerahkan dokumen Standard Operating Procedure (SOP) Distribusi Hasil Panen kepada Pemerintah Desa Bandung pada 24/01/2026.
Penyusunan modul SOP ini merupakan bagian krusial dari Masterplan Agrowisata yang sedang digarap bersama. Fokus utamanya adalah menata sistem logistik hasil bumi, mulai dari pemetikan hingga sampai ke tangan konsumen, baik wisatawan maupun pasar luar.
Logistik Pertanian yang Terstandarisasi
Seringkali, potensi keuntungan petani atau desa wisata tergerus akibat penanganan pascapanen yang kurang tepat dan jalur distribusi yang tidak efisien. Melalui program kerja ini, mahasiswa KKN menerapkan prinsip-prinsip Administrasi Logistik untuk membedah alur distribusi yang paling efektif bagi Desa Bandung.
“Kebun buah yang indah harus didukung dengan manajemen ‘di belakang layar’ yang rapi. Dalam modul SOP ini, kami mengatur detail teknis mulai dari sorting (pemilahan kualitas), grading (pengelompokan kelas buah), packaging (pengemasan), hingga alur distribusi ke mitra atau penjualan langsung di lokasi wisata,” jelas. Fachri Afrizal
Mencegah Kerugian, Meningkatkan Nilai Jual
Dalam dokumen SOP yang diserahkan, terdapat panduan jelas mengenai:
- Manajemen Stok: Pencatatan hasil panen yang masuk dan keluar untuk transparansi aset desa.
- Penanganan Pascapanen (Handling): Cara membawa dan menyimpan buah agar tidak rusak (busuk/memar) sebelum terjual, sehingga mengurangi angka kerugian (loss).
- Saluran Distribusi: Strategi pemisahan stok untuk pengunjung agrowisata (petik sendiri/buah tangan) dan stok untuk disuplai ke pasar/pengepul.
Kepala Desa Bandung menyambut baik inisiatif teknis ini. Keberadaan SOP tertulis dinilai akan sangat membantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau kelompok tani pengelola dalam menjalankan operasional agrowisata secara profesional dan akuntabel di masa depan.
“Ini yang kami butuhkan. Bukan hanya sekadar rencana wisata, tapi panduan kerja yang jelas. Dengan SOP ini, pengelola kebun nanti punya standar kerja, jadi hasil panen desa kami punya kualitas dan harga yang bersaing,” ujar perwakilan Pemerintah Desa Bandung.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal transformasi Desa Bandung menjadi sentra agrowisata unggulan di Kabupaten Batang yang dikelola dengan manajemen modern dan berkelanjutan.
Penulis: Fachri Afrizal
