JATENGKU.COM, Surabaya — Industri film saat ini berada di persimpangan antara kemajuan teknologi, dinamika pasar global, dan tantangan struktural yang kompleks. Sebagai sektor ekonomi kreatif, perfilman menyumbang miliaran dolar bagi perekonomian dunia. Menurut laporan UNESCO Global Report on Culture and Creative Industries (2022), industri film global menciptakan lebih dari 6 juta lapangan kerja dan menyumbang lebih dari 2% terhadap PDB global. Film tidak hanya menjadi produk hiburan, tetapi juga alat diplomasi budaya dan identitas nasional.
Korea Selatan menjadi contoh sukses integrasi industri film dengan kebijakan negara. Pemerintahnya menargetkan ekspor drama Korea (drakor) mencapai 25 miliar dolar AS pada 2027, serta menerapkan kuota siaran film asing di televisi terestrial untuk melindungi produksi lokal. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan kebijakan yang konsisten dapat memperkuat daya saing film nasional di pasar global.
Indonesia pun menunjukkan geliat serupa. Film-film lokal seperti KKN di Desa Penari dan Pengabdi Setan berhasil menembus pasar internasional dan mendominasi layar bioskop domestik. Namun, dominasi genre horor juga menandakan keterbatasan eksplorasi tema dan kurangnya dukungan terhadap film edukatif, dokumenter, atau sejarah. Hal ini diperkuat oleh temuan Muallif (2025) dalam artikel Menelusuri Perkembangan dan Pengaruh Film Indonesia dalam Industri Global, yang menyatakan bahwa “film Indonesia masih cenderung mengejar pasar domestik dengan genre yang aman secara komersial, bukan keberagaman narasi yang mencerminkan kompleksitas budaya bangsa”.
Tantangan lain yang signifikan adalah ketidakpastian ekonomi dalam produksi film. Melati Kusuma Wardhani (2025) dalam jurnal Facing the Challenges of Film Production menulis bahwa “biaya produksi yang tinggi tidak menjamin keberhasilan film di pasar, terutama ketika preferensi audiens berubah cepat dan dipengaruhi oleh tren media sosial”. Di era digital, keberhasilan film sangat dipengaruhi oleh strategi pemasaran daring, viralitas konten, dan algoritma platform streaming.
Teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) memang membawa efisiensi dalam produksi film—dari penulisan skenario, pemilihan aktor, hingga efek visual. Namun, kemajuan ini juga menciptakan kesenjangan antara studio besar yang memiliki akses teknologi tinggi dan sineas independen yang terbatas sumber dayanya. Wardhani juga menekankan pentingnya “praktik produksi berkelanjutan dan inklusif agar industri film tidak hanya dikuasai oleh segelintir pemain besar”.
Di sisi lain, pembajakan film masih menjadi ancaman serius. Menurut data dari Coalition Against Piracy (2024), Indonesia termasuk negara dengan tingkat pembajakan film digital tertinggi di Asia Tenggara. Hal ini berdampak langsung pada pendapatan industri legal dan menurunkan insentif bagi para kreator. Hanna Aulia (2025) dalam jurnal Konflik Regulasi dan Kebijakan menyoroti bahwa “kurangnya penegakan hukum terhadap pelanggaran hak cipta melemahkan ekosistem perfilman nasional”.
Untuk menjawab tantangan ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat. Pemerintah perlu menyediakan insentif fiskal, memperluas infrastruktur produksi di luar Jawa, serta memperkuat perlindungan hukum terhadap hak cipta. Di sisi lain, masyarakat—terutama generasi muda—perlu didorong untuk mengonsumsi dan memproduksi konten secara legal dan etis.
Film adalah cermin dan palu: ia merefleksikan realitas sekaligus membentuknya. Seperti dikatakan Jean-Luc Godard, “Film bukanlah cermin yang memantulkan kenyataan, tetapi palu yang membentuknya.” Maka, masa depan industri film Indonesia bergantung pada keberanian kita untuk menciptakan karya yang tidak hanya laku di pasar, tetapi juga bermakna bagi bangsa.
Referensi:
- Aulia, H. (2025). Konflik Regulasi dan Kebijakan: Studi Kasus Film Indonesia yang Mendapat Pengakuan Global namun Dilarang Tayang Domestik. Jurnal SINDA.
- Lee, Hye-Kyung. (2022). Rethinking creativity: creative industries, AI and everyday creativity. SagePub Journals.
- Muallif. (2025). Menelusuri Perkembangan dan Pengaruh Film Indonesia dalam Industri Global. Universitas Islam An-Nur Lampung.
- McKenzie, J. (2022). The economics of movies (revisited): A survey of recent literature. Journal of Economic Surveys.
- Wardhani, M. K. (2025). Facing the Challenges of Film Production: From Economic Uncertainty to Digital Era Sustainable Practices. ProFilm: Jurnal Ilmiah Ilmu Perfilman dan Pertelevisian.
Penulis: Elvaretta Rif’ah Rashida, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga








