Uang Tak Lagi “Hilang Begitu Saja”, Mahasiswa K...

Uang Tak Lagi “Hilang Begitu Saja”, Mahasiswa KKN UNDIP Kenalkan Pencatatan Arus Kas pada UMKM Keripik Singkong di Desa Wringingintung

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Batang — Aroma singkong goreng memenuhi udara siang itu, Selasa, 27 Januari. Di sebuah rumah sederhana milik Bapak Abadi, aktivitas produksi keripik singkong tetap berjalan seperti biasa. Namun hari itu, di antara suara minyak mendidih dan plastik kemasan yang berdesir, hadir sesuatu yang tak biasa: buku tulis terbuka, bolpoin di tangan, dan deretan angka yang perlahan mulai dipahami. Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro menggelar pelatihan penyusunan arus kas langsung di kediaman pelaku usaha yang hanya dijalankan berdua oleh Bapak Abadi dan istrinya.

Selama ini usaha berjalan berdasarkan kebiasaan. Mereka membeli bahan, memproduksi, menjual, lalu mengulang keesokan harinya tanpa catatan dan tanpa perhitungan, hanya mengandalkan ingatan. “Wah saya belum pernah mencatat keluar/masuknya uang mas, kalau mau beli ya saya beli saja,” ujar Bapak Abadi sambil tersenyum ringan. Akibatnya, uang usaha kerap bercampur dengan kebutuhan rumah tangga. Hasil penjualan terasa ada, tetapi di akhir minggu sering tidak jelas berapa yang benar-benar tersisa sehingga untung dan rugi tidak pernah benar-benar diketahui.

Pelatihan dimulai dari obrolan santai. Istilah arus kas terdengar asing bagi pasangan tersebut dan beberapa kali mereka saling berpandangan ketika dijelaskan bahwa banyak penjualan belum tentu berarti ada uang tunai yang tersedia. Diskusi kemudian berlanjut ke simulasi menggunakan transaksi usaha mereka sendiri, mulai dari membeli singkong, gas, plastik, hingga uang yang diambil untuk kebutuhan rumah. Setiap angka ditulis perlahan dan beberapa kali mereka berhenti untuk memastikan kategori pengeluaran tidak salah, hingga akhirnya mereka menyadari bahwa selama ini usaha tidak pernah benar-benar dihitung, hanya dijalani.

Ketika saldo akhir berhasil dihitung, ekspresi keduanya berubah bukan karena jumlahnya besar melainkan karena akhirnya terlihat jelas. Untuk pertama kalinya mereka mengetahui berapa uang yang benar-benar tersisa setelah produksi. Mereka kembali membuka halaman catatan dan membaca ulang angka-angka yang baru saja dibuat. Kini pengeluaran tidak lagi terasa hilang begitu saja karena mereka dapat melihat pengeluaran terbesar dan memahami berapa uang yang seharusnya tetap menjadi modal usaha, bukan kebutuhan rumah tangga.

Pasangan tersebut berencana melanjutkan pencatatan menggunakan modul yang diberikan agar keuangan usaha tetap terpisah dari keuangan pribadi. Pelatihan sederhana itu menghadirkan pemahaman baru bahwa menjalankan usaha bukan hanya soal memproduksi dan menjual, tetapi juga mengendalikan aliran uang. Dari ruang tamu kecil di Desa Wringingintung, perubahan kecil mulai terjadi ketika angka-angka mulai menggantikan perkiraan dan usaha rumahan perlahan bergerak menuju pengelolaan yang lebih terarah.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan