Rekomendasi
    Rekomendasi
    PMI dan Hong Kong Red Cross Salurkan 8.000 Paket Sekolah untuk Anak-anak di Sumatera

    PMI dan Hong Kong Red Cross Salurkan 8.000 Paket Sekolah untuk Anak-anak di Sumatera

    Bukan Cuma Label Halal, Ini Alasan Gen-Z Mulai Melirik Bank Syariah

    Bukan Cuma Label Halal, Ini Alasan Gen-Z Mulai Melirik Bank Syariah

    Lewat Booklet “Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar”, Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS Ajak Siswa dan Orang Tua Optimalkan Potensi Belajar dari Rumah

    Lewat Booklet “Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar”, Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS Ajak Siswa dan Orang Tua Optimalkan Potensi Belajar dari Rumah

    Bank Syariah Dukung Ekonomi Kreatif, Rangkul Kreator Digital

    Bank Syariah Dukung Ekonomi Kreatif, Rangkul Kreator Digital

    Opini

    Bukan Cuma Label Halal, Ini Alasan Gen-Z Mulai Melirik Bank Syariah
    11.06 AM WIB

    Bukan Cuma Label Halal, Ini Alasan Gen-Z Mulai Melirik Bank Syariah

    Penulis: Hanna Arina Al-Haq Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah JakartaJATENGKU.COM, Jakarta -- Dulu, bank syariah sering diasosiasikan dengan hal-hal yang serius dan "boomer banget": antre di teller, formulir kertas, dan citra yang kaku. Tapi coba lihat sekarang. Makin banyak anak muda pindah atau mulai buka rekening di bank syariah, dan alasannya nggak melulu soal agama. Ada dua kata kunci yang bikin gen Z dan milenial mulai serius melirik: digital experience yang makin kece, dan ethical banking alias keuangan yang lebih etis.Gen-Z dan Uang: Bukan Sekadar Nabung, Tapi Juga Soal ValueRiset akademik terbaru soal minat generasi Z terhadap bank syariah maupun konvensional di Indonesia menemukan hal yang menarik: sustainability dan financial ethics terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat generasi Z, baik pada bank syariah maupun bank konvensional. Artinya, isu keberlanjutan dan etika keuangan bukan lagi sekadar jargon CSR ini beneran jadi salah satu pertimbangan anak muda saat memilih ke mana uangnya "dititipkan".Ini masuk akal kalau kita lihat siapa yang lagi masuk usia produktif sekarang. <cite index="22-1">Generasi Z sudah mencapai 27,9% dari total penduduk Indonesia, sementara generasi milenial mendominasi dengan porsi 28,87% atau sekitar 69,38 juta orang</cite>. Dua generasi ini gabungannya lebih dari separuh populasi usia produktif Indonesia dan mereka tumbuh besar dengan ekspektasi yang beda soal bagaimana institusi keuangan seharusnya berperilaku.Bukan Cuma Halal, Tapi Juga "Adil"Prinsip dasar bank syariah bagi hasil, larangan riba, larangan spekulasi berlebihan ternyata resonan dengan cara gen Z memandang uang: nggak melulu soal untung sebesar-besarnya, tapi juga soal keadilan dan dampak. Sistem bagi hasil bikin risiko dan keuntungan ditanggung bersama antara bank dan nasabah, bukan sepihak. Buat generasi yang tumbuh di tengah diskursus soal ketimpangan ekonomi dan greenwashing korporasi, model bisnis yang "transparan by design" ini jadi nilai plus tersendiri bukan cuma soal label halal di brosur. Industrinya Juga Lagi Serius Berbenah Secara Digital Bukan cuma soal nilai, industrinya sendiri memang sedang all-in membenahi sisi digital. OJK, lewat Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023–2027, secara eksplisit menjadikan optimalisasi infrastruktur teknologi informasi dan layanan digital sebagai salah satu langkah strategis, di samping peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah bagi masyarakat luas. Jadi bukan kebetulan kalau makin banyak bank syariah berlomba merilis fitur mobile banking yang setara bahkan mencoba menyamai bank digital konvensional.Biar nggak cuma modal feeling, aset industri perbankan syariah tercatat sebesar Rp979 triliun hingga Agustus 2025, tumbuh 8,15 persen secara tahunan, menurut OJK dan pertumbuhan ini konsisten mengungguli bank konvensional: aset perbankan syariah nasional tumbuh 7,83 persen yoy pada Juni 2025, lebih tinggi dibanding pertumbuhan aset perbankan konvensional yang hanya 6,29 persen di periode yang sama. Artinya, bank syariah bukan cuma "niche" buat kalangan tertentu, tapi industri yang lagi tumbuh lebih cepat dari rata-rata pasar. Instrumen yang Makin Relevan Buat Gaya Hidup Anak Muda Selain tabungan dan deposito biasa, bank syariah sekarang juga mengembangkan produk-produk yang lebih "kekinian" dan gampang dipahami anak muda mulai dari instrumen investasi sosial seperti Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), sampai layanan berbasis aplikasi yang memudahkan transaksi harian tanpa perlu ke cabang. Asosiasi perbankan syariah bahkan secara terbuka mendorong pengembangan instrumen semacam ini agar makin diminati masyarakat, karena mereka sadar generasi muda menuntut kombinasi antara kemudahan digital dan nilai yang bisa dipertanggungjawabkan.Hal ini juga sejalan dengan gaya hidup gen Z yang serba cepat dan serba transparan. Buka rekening nggak perlu lagi antre di cabang, mutasi transaksi bisa dicek real-time, sampai fitur-fitur seperti pembayaran zakat, infak, atau wakaf yang kini terintegrasi langsung di aplikasi mobile banking. Dulu, urusan "ibadah finansial" kayak zakat atau wakaf identik dengan proses manual dan berbelit. Sekarang, semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik semudah transfer saldo ke teman. Kombinasi kemudahan teknis dan kemudahan berbuat baik inilah yang bikin bank syariah terasa relevan buat generasi yang terbiasa serba instan tapi tetap peduli dampak.Jadi, Kenapa Gen-Z Mulai Beralih?Kalau dirangkum, ada tiga alasan utama:Fitur digital yang makin setara dengan bank digital konvensional, hasil dari dorongan regulator lewat roadmap digitalisasi industri. Prinsip ethical banking bagi hasil, transparansi, dan larangan spekulasi yang resonan dengan cara gen Z memandang uang dan dampak sosial. Pertumbuhan industri yang nyata secara angka, bukan cuma citra, dengan laju pertumbuhan aset yang konsisten mengungguli bank konvensional.Buat gen Z, memilih bank bukan cuma soal bunga atau promo cashback lagi. Ini soal ke mana uangmu "bekerja" dan nilai apa yang dibawanya. Dan bank syariah, dengan kombinasi digitalisasi yang makin matang plus fondasi etika yang sudah built-in dari sananya, pelan-pelan jadi pilihan yang masuk akal bukan cuma buat yang cari label halal, tapi buat yang cari cara ngatur uang yang lebih align sama value mereka.
    Lewat Booklet “Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar”, Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS Ajak Siswa dan Orang Tua Optimalkan Potensi Belajar dari Rumah
    10.07 PM WIB

    Lewat Booklet “Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar”, Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS Ajak Siswa dan Orang Tua Optimalkan Potensi Belajar dari Rumah

    JATENGKU.COM, SURAKARTA -- Setelah menyelesaikan penelitian mengenai peran modal budaya keluarga terhadap prestasi akademik siswa SMA di Surakarta, Tim Hibah Jarpak Pendidikan Sosiologi Antropologi UNS menindaklanjuti temuan tersebut menjadi produk yang lebih aplikatif.Tim tim menyusun booklet bertajuk "Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar" yang dirancang untuk siswa, orang tua, dan guru di lingkungan sekolah menengah atas sebagai wujud diseminasi hasil riset kepada masyarakat. sesuai dengan tujuan SDG 4 (Quality for Education) dan SDG 17 (Partnership for the Goals) pada 10 Juli 2026.Booklet ini lahir dari kesadaran bahwa temuan penelitian sebaiknya tidak berhenti di ruang akademik. Jika penelitian sebelumnya mengungkap bahwa komunikasi terbuka, pola asuh yang responsif, dan kebiasaan disiplin di rumah turut menentukan prestasi siswa, maka booklet ini menerjemahkan temuan tersebut menjadi panduan praktis yang mudah dipahami dan diterapkan sehari-hari oleh keluarga maupun sekolah.Secara garis besar, booklet ini memuat tiga bagian utama. Bagian pertama berisi tips belajar dari lingkungan sekitar seperti menciptakan suasana belajar yang mendukung. Kemudian bersosial dengan teman, siswa maupun guru dan penggunaan teknologi secara optimal.Bagian selanjutnya mengajak pembaca mengenali gaya belajar yang paling sesuai dengan dirinya, baik itu visual, auditori, maupun kinestetik, serta manajemen waktu sebagai langkah awal belajar yang lebih efektif. Bagian terakhir menampilkan profil tokoh-tokoh yang menginspirasi di bidang pendidikan, seperti Maudy Ayunda yang menempuh S1 di Oxford University dan melanjutkan S2 dengan gelar ganda MBA dan MA di bidang pendidikan dari Stanford University, serta Tasya Kamila yang menyelesaikan S1 di Universitas Indonesia sebelum meraih gelar magister administrasi publik dari Columbia University lewat beasiswa LPDP. Kisah keduanya dihadirkan untuk menunjukkan bahwa prestasi akademik tinggi dibangun dari kebiasaan, konsistensi, dan dukungan lingkungan, bukan semata bawaan kecerdasan sejak lahir."Kami ingin hasil penelitian ini benar-benar sampai dan bisa dipakai, bukan cuma jadi laporan yang disimpan. Dengan adanya produk ini kami kemas ulang temuannya jadi booklet yang ringan dibaca tapi tetap berbasis data dari lapangan," ungkap anggota Tim Hibah JarPak.Respons positif juga datang dari pihak sekolah yang menerima booklet ini. Sekolah-sekolah yang menerima produk ini untuk menjadi koleksi perpustakaan pun menerima dengan baik adanya booklet ini.Melalui booklet ini, tim berharap dapat mendorong sinergi yang lebih erat antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi proses belajar siswa, sekaligus menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat.. Tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada Hibah Jarpak UNS atas dukungannya, serta kepada siswa dan guru SMA di Surakarta, tak lupa dosen pembimbing yang telah berkontribusi dalam penelitian ini.
    Bank Syariah Dukung Ekonomi Kreatif, Rangkul Kreator Digital
    5.00 PM WIB

    Bank Syariah Dukung Ekonomi Kreatif, Rangkul Kreator Digital

    Penulis: Yolanda Safitri Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah JakartaJATENGKU.COM, Jakarta -- Pertumbuhan ekonomi kreatif merupakan peluang besar bagi bank syariah dalam mendukung kreator digital. Banyak generasi muda saat ini memilih untuk menjadi konten kreator, ilustrator, animator, desainer grafis, sampai pembuat aplikasi sebagai profesi mereka. Kondisi ini akhirnya menimbulkan istilah yang dikenal sebagai ekonomi kreatif, konsep yang mengandalkan ide, kreativitas, dan keterampilan digital sebagai sumber penghasilan. Menyadari potensi yang besar dan luas, beberapa bank syariah di Indonesia mulai mengambil langkah nyata untuk merangkul dan membantu para kreator digital agar usaha mereka dapat tumbuh lebih pesat dan berkelanjutan.Mengapa Ekonomi Kreatif Penting?Ekonomi kreatif sudah menjadi salah satu penyumbang penting bagi perekonomian nasional dan bukan lagi tren, terutama karena kemampuan sektor yang menyerap tenaga kerja berjumlah sangat besar, terutama generasi muda saat ini. Konten kreator, misalnya, kini tidak hanya membuat video hiburan, tetapi juga membangun bisnis lewat endorsement, merchandise, kelas online, hingga kolaborasi dengan brand ternama. Pemerintah Indonesia pun sering menyoroti bagaimana sektor ini terus berkembang dengan pesat.Potensi besar tersebut masih menghadapi kendala klasik seperti terbatasnya akses permodalan, pendapatan yang tidak stabil, serta minimnya literasi dan pelatihan manajemen bisnis, terutama bagi kreator digital. Bank konvensional sering kali menganggap profesi kreator digital sebagai usaha berisiko tinggi karena penghasilannya cenderung fluktuatif dan sulit diprediksi. Di sinilah bank syariah melihat peluang sekaligus tanggung jawab untuk hadir sebagai solusi.Peran Bank Syariah bagi Kreator DigitalBank syariah menawarkan pendekatan yang berbeda dari perbankan konvensional. Prinsip dasar seperti bagi hasil (mudharabah) yang merupakan jenis akad kerja sama usaha antara pemilik modal dengan pengelola modal dengan sistem bagi hasil kerja berupa bank menyediakan modal 100% dan kreator mengelola usahanya. Hasil usahanya bisa dihitung berdasarkan pendapatan proyek atau keuntungan proyek karena sifatnya bagi hasil. Bank ikut menanggung risiko ketidakstabilan pendapatan kreator. Lalu, kerja sama usaha (musyarakah) merupakan jenis akad kerja sama antara dua pihak atau lebih yang masing-masing pihak sama-sama memberikan modal dengan ketentuan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan.Mengapa kedua prinsip tersebut cocok untuk kreator digital? Kedua-duanya tidak kaku dengan jaminan aset fisik karena aset utama kreator justru bersifat ide, konten, follower, dan hak cipta. Kedua akad ini jauh lebih fleksibel karena berbasis kepercayaan dan kesepakatan bersama, bukan hanya jaminan fisik. Lalu, prinsip bagi hasil yang sesuai dan selaras dengan perbedaan pendapatan kreator yang tidak stabil karena mengutamakan keadilan dibandingkan dengan sistem bunga tetap, di mana nasabah tetap wajib membayar bunga walaupun sedang merugi. Serta dapat menyesuaikan tahap bisnis kreator yang berbeda-beda, karena akad mudharabah cocok untuk kreator pemula yang belum mempunyai modal sama sekali dan musyarakah cocok untuk kreator yang sudah punya modal awal dan ingin mengembangkan skala usahanya, serta risiko akan ditanggung bersama sesuai porsi modal.Beberapa bentuk dukungan yang mulai digulirkan bank syariah kepada kreator digital antara lain:1. Pembiayaan modal usaha tanpa ribaSemua kebutuhan kreator digital untuk membeli peralatan seperti kamera, laptop, atau perangkat lunak editing membutuhkan modal yang kini bisa mengakses pembiayaan syariah bebas dari bunga (riba), namun tetap menguntungkan bagi kedua belah pihak melalui skema bagi hasil.2. Pelatihan dan pendampingan bisnisSelain memberikan dana, bank syariah juga kerap menggandeng komunitas kreator untuk memberikan pelatihan literasi keuangan, manajemen bisnis, hingga strategi pemasaran digital. Ini penting karena banyak kreator yang mahir berkarya, tetapi belum terbiasa mengelola keuangan usahanya secara profesional.3. Produk tabungan dan investasi khususMerancang produk tabungan yang fleksibel di beberapa bank syariah dan menyesuaikan dengan arus kas kreator digital yang tidak menentu. Ada juga produk investasi syariah sebagai sarana kreator untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan.4. Kolaborasi ekosistem digitalBank syariah juga mulai menjalin kerja sama dengan platform digital, marketplace, dan komunitas kreator untuk menciptakan ekosistem yang saling mendukung, mulai dari pembayaran digital, dompet elektronik syariah, hingga program loyalitas khusus kreator.Manfaat bagi Kreator dan IndustriLangkah bank syariah merangkul kreator digital ini membawa dampak positif dari berbagai sisi. Bagi kreator, mereka mendapatkan akses permodalan yang lebih adil dan sesuai dengan prinsip syariah, tanpa perlu khawatir terjerat bunga tinggi. Bagi bank syariah sendiri, ini menjadi peluang untuk memperluas basis nasabah baru dari kalangan generasi muda yang melek digital.Sementara itu, bagi industri ekonomi kreatif secara keseluruhan, sinergi ini dapat mempercepat pertumbuhan sektor tersebut. Semakin banyak kreator yang mendapat dukungan finansial yang sehat, semakin besar pula peluang lahirnya konten berkualitas, inovasi produk digital, dan lapangan kerja baru di sekitarnya.Tantangan yang Masih Perlu DiatasiMeski langkah ini patut diapresiasi, masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi bersama. Pertama, literasi keuangan syariah di kalangan kreator digital masih tergolong rendah, sehingga sosialisasi harus terus digencarkan. Kedua, proses verifikasi penghasilan kreator digital yang bersumber dari berbagai platform (YouTube, TikTok, Instagram, hingga marketplace) masih memerlukan sistem penilaian yang lebih adaptif dibandingkan dengan usaha konvensional pada umumnya.Kolaborasi antara bank syariah dan kreator digital menjadi bukti bahwa sektor keuangan syariah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dukungan ini bukan hanya soal memberikan pinjaman, tetapi juga membangun ekosistem yang membuat ekonomi kreatif Indonesia semakin kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Jika sinergi ini terus diperkuat, bukan tidak mungkin lahir lebih banyak kreator digital Indonesia yang sukses membangun bisnis dari passion mereka, dengan fondasi keuangan yang sehat dan sesuai prinsip syariah.

    KKN

    Bukan Cuma Label Halal, Ini Alasan Gen-Z Mulai Melirik Bank Syariah
    11.06 AM WIB

    Bukan Cuma Label Halal, Ini Alasan Gen-Z Mulai Melirik Bank Syariah

    Penulis: Hanna Arina Al-Haq Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah JakartaJATENGKU.COM, Jakarta -- Dulu, bank syariah sering diasosiasikan dengan hal-hal yang serius dan "boomer banget": antre di teller, formulir kertas, dan citra yang kaku. Tapi coba lihat sekarang. Makin banyak anak muda pindah atau mulai buka rekening di bank syariah, dan alasannya nggak melulu soal agama. Ada dua kata kunci yang bikin gen Z dan milenial mulai serius melirik: digital experience yang makin kece, dan ethical banking alias keuangan yang lebih etis.Gen-Z dan Uang: Bukan Sekadar Nabung, Tapi Juga Soal ValueRiset akademik terbaru soal minat generasi Z terhadap bank syariah maupun konvensional di Indonesia menemukan hal yang menarik: sustainability dan financial ethics terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat generasi Z, baik pada bank syariah maupun bank konvensional. Artinya, isu keberlanjutan dan etika keuangan bukan lagi sekadar jargon CSR ini beneran jadi salah satu pertimbangan anak muda saat memilih ke mana uangnya "dititipkan".Ini masuk akal kalau kita lihat siapa yang lagi masuk usia produktif sekarang. <cite index="22-1">Generasi Z sudah mencapai 27,9% dari total penduduk Indonesia, sementara generasi milenial mendominasi dengan porsi 28,87% atau sekitar 69,38 juta orang</cite>. Dua generasi ini gabungannya lebih dari separuh populasi usia produktif Indonesia dan mereka tumbuh besar dengan ekspektasi yang beda soal bagaimana institusi keuangan seharusnya berperilaku.Bukan Cuma Halal, Tapi Juga "Adil"Prinsip dasar bank syariah bagi hasil, larangan riba, larangan spekulasi berlebihan ternyata resonan dengan cara gen Z memandang uang: nggak melulu soal untung sebesar-besarnya, tapi juga soal keadilan dan dampak. Sistem bagi hasil bikin risiko dan keuntungan ditanggung bersama antara bank dan nasabah, bukan sepihak. Buat generasi yang tumbuh di tengah diskursus soal ketimpangan ekonomi dan greenwashing korporasi, model bisnis yang "transparan by design" ini jadi nilai plus tersendiri bukan cuma soal label halal di brosur. Industrinya Juga Lagi Serius Berbenah Secara Digital Bukan cuma soal nilai, industrinya sendiri memang sedang all-in membenahi sisi digital. OJK, lewat Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023–2027, secara eksplisit menjadikan optimalisasi infrastruktur teknologi informasi dan layanan digital sebagai salah satu langkah strategis, di samping peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah bagi masyarakat luas. Jadi bukan kebetulan kalau makin banyak bank syariah berlomba merilis fitur mobile banking yang setara bahkan mencoba menyamai bank digital konvensional.Biar nggak cuma modal feeling, aset industri perbankan syariah tercatat sebesar Rp979 triliun hingga Agustus 2025, tumbuh 8,15 persen secara tahunan, menurut OJK dan pertumbuhan ini konsisten mengungguli bank konvensional: aset perbankan syariah nasional tumbuh 7,83 persen yoy pada Juni 2025, lebih tinggi dibanding pertumbuhan aset perbankan konvensional yang hanya 6,29 persen di periode yang sama. Artinya, bank syariah bukan cuma "niche" buat kalangan tertentu, tapi industri yang lagi tumbuh lebih cepat dari rata-rata pasar. Instrumen yang Makin Relevan Buat Gaya Hidup Anak Muda Selain tabungan dan deposito biasa, bank syariah sekarang juga mengembangkan produk-produk yang lebih "kekinian" dan gampang dipahami anak muda mulai dari instrumen investasi sosial seperti Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), sampai layanan berbasis aplikasi yang memudahkan transaksi harian tanpa perlu ke cabang. Asosiasi perbankan syariah bahkan secara terbuka mendorong pengembangan instrumen semacam ini agar makin diminati masyarakat, karena mereka sadar generasi muda menuntut kombinasi antara kemudahan digital dan nilai yang bisa dipertanggungjawabkan.Hal ini juga sejalan dengan gaya hidup gen Z yang serba cepat dan serba transparan. Buka rekening nggak perlu lagi antre di cabang, mutasi transaksi bisa dicek real-time, sampai fitur-fitur seperti pembayaran zakat, infak, atau wakaf yang kini terintegrasi langsung di aplikasi mobile banking. Dulu, urusan "ibadah finansial" kayak zakat atau wakaf identik dengan proses manual dan berbelit. Sekarang, semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik semudah transfer saldo ke teman. Kombinasi kemudahan teknis dan kemudahan berbuat baik inilah yang bikin bank syariah terasa relevan buat generasi yang terbiasa serba instan tapi tetap peduli dampak.Jadi, Kenapa Gen-Z Mulai Beralih?Kalau dirangkum, ada tiga alasan utama:Fitur digital yang makin setara dengan bank digital konvensional, hasil dari dorongan regulator lewat roadmap digitalisasi industri. Prinsip ethical banking bagi hasil, transparansi, dan larangan spekulasi yang resonan dengan cara gen Z memandang uang dan dampak sosial. Pertumbuhan industri yang nyata secara angka, bukan cuma citra, dengan laju pertumbuhan aset yang konsisten mengungguli bank konvensional.Buat gen Z, memilih bank bukan cuma soal bunga atau promo cashback lagi. Ini soal ke mana uangmu "bekerja" dan nilai apa yang dibawanya. Dan bank syariah, dengan kombinasi digitalisasi yang makin matang plus fondasi etika yang sudah built-in dari sananya, pelan-pelan jadi pilihan yang masuk akal bukan cuma buat yang cari label halal, tapi buat yang cari cara ngatur uang yang lebih align sama value mereka.
    Lewat Booklet “Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar”, Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS Ajak Siswa dan Orang Tua Optimalkan Potensi Belajar dari Rumah
    10.07 PM WIB

    Lewat Booklet “Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar”, Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS Ajak Siswa dan Orang Tua Optimalkan Potensi Belajar dari Rumah

    JATENGKU.COM, SURAKARTA -- Setelah menyelesaikan penelitian mengenai peran modal budaya keluarga terhadap prestasi akademik siswa SMA di Surakarta, Tim Hibah Jarpak Pendidikan Sosiologi Antropologi UNS menindaklanjuti temuan tersebut menjadi produk yang lebih aplikatif.Tim tim menyusun booklet bertajuk "Belajar Cerdas dari Lingkungan Sekitar" yang dirancang untuk siswa, orang tua, dan guru di lingkungan sekolah menengah atas sebagai wujud diseminasi hasil riset kepada masyarakat. sesuai dengan tujuan SDG 4 (Quality for Education) dan SDG 17 (Partnership for the Goals) pada 10 Juli 2026.Booklet ini lahir dari kesadaran bahwa temuan penelitian sebaiknya tidak berhenti di ruang akademik. Jika penelitian sebelumnya mengungkap bahwa komunikasi terbuka, pola asuh yang responsif, dan kebiasaan disiplin di rumah turut menentukan prestasi siswa, maka booklet ini menerjemahkan temuan tersebut menjadi panduan praktis yang mudah dipahami dan diterapkan sehari-hari oleh keluarga maupun sekolah.Secara garis besar, booklet ini memuat tiga bagian utama. Bagian pertama berisi tips belajar dari lingkungan sekitar seperti menciptakan suasana belajar yang mendukung. Kemudian bersosial dengan teman, siswa maupun guru dan penggunaan teknologi secara optimal.Bagian selanjutnya mengajak pembaca mengenali gaya belajar yang paling sesuai dengan dirinya, baik itu visual, auditori, maupun kinestetik, serta manajemen waktu sebagai langkah awal belajar yang lebih efektif. Bagian terakhir menampilkan profil tokoh-tokoh yang menginspirasi di bidang pendidikan, seperti Maudy Ayunda yang menempuh S1 di Oxford University dan melanjutkan S2 dengan gelar ganda MBA dan MA di bidang pendidikan dari Stanford University, serta Tasya Kamila yang menyelesaikan S1 di Universitas Indonesia sebelum meraih gelar magister administrasi publik dari Columbia University lewat beasiswa LPDP. Kisah keduanya dihadirkan untuk menunjukkan bahwa prestasi akademik tinggi dibangun dari kebiasaan, konsistensi, dan dukungan lingkungan, bukan semata bawaan kecerdasan sejak lahir."Kami ingin hasil penelitian ini benar-benar sampai dan bisa dipakai, bukan cuma jadi laporan yang disimpan. Dengan adanya produk ini kami kemas ulang temuannya jadi booklet yang ringan dibaca tapi tetap berbasis data dari lapangan," ungkap anggota Tim Hibah JarPak.Respons positif juga datang dari pihak sekolah yang menerima booklet ini. Sekolah-sekolah yang menerima produk ini untuk menjadi koleksi perpustakaan pun menerima dengan baik adanya booklet ini.Melalui booklet ini, tim berharap dapat mendorong sinergi yang lebih erat antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi proses belajar siswa, sekaligus menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat.. Tim peneliti mengucapkan terima kasih kepada Hibah Jarpak UNS atas dukungannya, serta kepada siswa dan guru SMA di Surakarta, tak lupa dosen pembimbing yang telah berkontribusi dalam penelitian ini.
    Bank Syariah Dukung Ekonomi Kreatif, Rangkul Kreator Digital
    5.00 PM WIB

    Bank Syariah Dukung Ekonomi Kreatif, Rangkul Kreator Digital

    Penulis: Yolanda Safitri Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah JakartaJATENGKU.COM, Jakarta -- Pertumbuhan ekonomi kreatif merupakan peluang besar bagi bank syariah dalam mendukung kreator digital. Banyak generasi muda saat ini memilih untuk menjadi konten kreator, ilustrator, animator, desainer grafis, sampai pembuat aplikasi sebagai profesi mereka. Kondisi ini akhirnya menimbulkan istilah yang dikenal sebagai ekonomi kreatif, konsep yang mengandalkan ide, kreativitas, dan keterampilan digital sebagai sumber penghasilan. Menyadari potensi yang besar dan luas, beberapa bank syariah di Indonesia mulai mengambil langkah nyata untuk merangkul dan membantu para kreator digital agar usaha mereka dapat tumbuh lebih pesat dan berkelanjutan.Mengapa Ekonomi Kreatif Penting?Ekonomi kreatif sudah menjadi salah satu penyumbang penting bagi perekonomian nasional dan bukan lagi tren, terutama karena kemampuan sektor yang menyerap tenaga kerja berjumlah sangat besar, terutama generasi muda saat ini. Konten kreator, misalnya, kini tidak hanya membuat video hiburan, tetapi juga membangun bisnis lewat endorsement, merchandise, kelas online, hingga kolaborasi dengan brand ternama. Pemerintah Indonesia pun sering menyoroti bagaimana sektor ini terus berkembang dengan pesat.Potensi besar tersebut masih menghadapi kendala klasik seperti terbatasnya akses permodalan, pendapatan yang tidak stabil, serta minimnya literasi dan pelatihan manajemen bisnis, terutama bagi kreator digital. Bank konvensional sering kali menganggap profesi kreator digital sebagai usaha berisiko tinggi karena penghasilannya cenderung fluktuatif dan sulit diprediksi. Di sinilah bank syariah melihat peluang sekaligus tanggung jawab untuk hadir sebagai solusi.Peran Bank Syariah bagi Kreator DigitalBank syariah menawarkan pendekatan yang berbeda dari perbankan konvensional. Prinsip dasar seperti bagi hasil (mudharabah) yang merupakan jenis akad kerja sama usaha antara pemilik modal dengan pengelola modal dengan sistem bagi hasil kerja berupa bank menyediakan modal 100% dan kreator mengelola usahanya. Hasil usahanya bisa dihitung berdasarkan pendapatan proyek atau keuntungan proyek karena sifatnya bagi hasil. Bank ikut menanggung risiko ketidakstabilan pendapatan kreator. Lalu, kerja sama usaha (musyarakah) merupakan jenis akad kerja sama antara dua pihak atau lebih yang masing-masing pihak sama-sama memberikan modal dengan ketentuan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan.Mengapa kedua prinsip tersebut cocok untuk kreator digital? Kedua-duanya tidak kaku dengan jaminan aset fisik karena aset utama kreator justru bersifat ide, konten, follower, dan hak cipta. Kedua akad ini jauh lebih fleksibel karena berbasis kepercayaan dan kesepakatan bersama, bukan hanya jaminan fisik. Lalu, prinsip bagi hasil yang sesuai dan selaras dengan perbedaan pendapatan kreator yang tidak stabil karena mengutamakan keadilan dibandingkan dengan sistem bunga tetap, di mana nasabah tetap wajib membayar bunga walaupun sedang merugi. Serta dapat menyesuaikan tahap bisnis kreator yang berbeda-beda, karena akad mudharabah cocok untuk kreator pemula yang belum mempunyai modal sama sekali dan musyarakah cocok untuk kreator yang sudah punya modal awal dan ingin mengembangkan skala usahanya, serta risiko akan ditanggung bersama sesuai porsi modal.Beberapa bentuk dukungan yang mulai digulirkan bank syariah kepada kreator digital antara lain:1. Pembiayaan modal usaha tanpa ribaSemua kebutuhan kreator digital untuk membeli peralatan seperti kamera, laptop, atau perangkat lunak editing membutuhkan modal yang kini bisa mengakses pembiayaan syariah bebas dari bunga (riba), namun tetap menguntungkan bagi kedua belah pihak melalui skema bagi hasil.2. Pelatihan dan pendampingan bisnisSelain memberikan dana, bank syariah juga kerap menggandeng komunitas kreator untuk memberikan pelatihan literasi keuangan, manajemen bisnis, hingga strategi pemasaran digital. Ini penting karena banyak kreator yang mahir berkarya, tetapi belum terbiasa mengelola keuangan usahanya secara profesional.3. Produk tabungan dan investasi khususMerancang produk tabungan yang fleksibel di beberapa bank syariah dan menyesuaikan dengan arus kas kreator digital yang tidak menentu. Ada juga produk investasi syariah sebagai sarana kreator untuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk masa depan.4. Kolaborasi ekosistem digitalBank syariah juga mulai menjalin kerja sama dengan platform digital, marketplace, dan komunitas kreator untuk menciptakan ekosistem yang saling mendukung, mulai dari pembayaran digital, dompet elektronik syariah, hingga program loyalitas khusus kreator.Manfaat bagi Kreator dan IndustriLangkah bank syariah merangkul kreator digital ini membawa dampak positif dari berbagai sisi. Bagi kreator, mereka mendapatkan akses permodalan yang lebih adil dan sesuai dengan prinsip syariah, tanpa perlu khawatir terjerat bunga tinggi. Bagi bank syariah sendiri, ini menjadi peluang untuk memperluas basis nasabah baru dari kalangan generasi muda yang melek digital.Sementara itu, bagi industri ekonomi kreatif secara keseluruhan, sinergi ini dapat mempercepat pertumbuhan sektor tersebut. Semakin banyak kreator yang mendapat dukungan finansial yang sehat, semakin besar pula peluang lahirnya konten berkualitas, inovasi produk digital, dan lapangan kerja baru di sekitarnya.Tantangan yang Masih Perlu DiatasiMeski langkah ini patut diapresiasi, masih ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi bersama. Pertama, literasi keuangan syariah di kalangan kreator digital masih tergolong rendah, sehingga sosialisasi harus terus digencarkan. Kedua, proses verifikasi penghasilan kreator digital yang bersumber dari berbagai platform (YouTube, TikTok, Instagram, hingga marketplace) masih memerlukan sistem penilaian yang lebih adaptif dibandingkan dengan usaha konvensional pada umumnya.Kolaborasi antara bank syariah dan kreator digital menjadi bukti bahwa sektor keuangan syariah mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dukungan ini bukan hanya soal memberikan pinjaman, tetapi juga membangun ekosistem yang membuat ekonomi kreatif Indonesia semakin kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Jika sinergi ini terus diperkuat, bukan tidak mungkin lahir lebih banyak kreator digital Indonesia yang sukses membangun bisnis dari passion mereka, dengan fondasi keuangan yang sehat dan sesuai prinsip syariah.

    Terbaru