Rekomendasi
    Rekomendasi
    Kampanye SEHATI Ajak Masyarakat Usia Produktif Peduli Pencegahan Diabetes Melitus Melalui Edukasi Interaktif di CFD Semarang

    NEW Kampanye SEHATI Ajak Masyarakat Usia Produktif Peduli Pencegahan Diabetes Melitus Melalui Edukasi Interaktif di CFD Semarang

    UNDIP Berangkatkan 9.030 Mahasiswa KKN, Siap Dukung Pembangunan Berkelanjutan di Jawa Tengah

    UNDIP Berangkatkan 9.030 Mahasiswa KKN, Siap Dukung Pembangunan Berkelanjutan di Jawa Tengah

    Mahasiswa Manajemen UPGRIS Ikuti International Community Service di Bali

    Mahasiswa Manajemen UPGRIS Ikuti International Community Service di Bali

    Mahasiswa UPGRIS Pelajari Pengelolaan “Yarn Knitting Crafts” Melalui International Community Service di Desa Serangan Bali

    Mahasiswa UPGRIS Pelajari Pengelolaan “Yarn Knitting Crafts” Melalui International Community Service di Desa Serangan Bali

    Opini

    Tekanan APBN, Mampukah Perbankan Syariah Jadi Solusi?
    11.17 AM WIB

    Tekanan APBN, Mampukah Perbankan Syariah Jadi Solusi?

    JATENGKU.COM, Jakarta -- Tekanan APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Bukan sekedar menjadi tantangan bagi pemerintah, tapi juga bisa menjadi kesempatan buat perbankan syariah nunjukin perannya dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pembangunan nasional.1.Tekanan APBN di Tengah Ketidakpastian EkonomiAPBN itu yang kita tau seperti “dompet” utamanya pemerintah buat menjalankan pembangunan. Dari situ, pemerintah membiayai banyak hal penting, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, subsidi, sampai program bantuan sosial. Tapi yang kita lihat belakangan ini, APBN lagi mengalami tekanan yang cukup berat. Ketidak pastian ekonomi global, naik-turunya nilai tukar rupiah, perlambatan perdagangan yang makin besar bikin ruang fiskal jadi makin sempit.Meskipun hingga kuartal pertama 2026 kondisi APBN masih berada di kondisi yang terkendali, pemerintah tetap harus menjaga keseimbangan antara penerimaan negara, belanja, dan pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Strategi pembiayaan juga terus diperkuat agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengganggu staabilitas fiskal.Di sisi lain, pemerintah harus tetap menjaga pertumbuhan ekonomi supaya nggak melambat. Jadinya, pemerintah perlu cari sumber pembiayaan yang aman, efisien, dan berkelanjutan tanpa bikin kondisi ekonomi makin goyah. Di sinilah peran berbagai sektor uangan syariah seperti perbakan syariah, supaya tekanan ke APBN nggak makin berat, Karena bank syariah memiliki berbagai produk yang di tawarkan yang adil dan transparan melalui sistem bagi hasil, akad yang jelas, dan bebas riba (bunga).Menurut saya, kondisi ini tidak perlu dilihat sebagai masalah semata. Justru kita lihat sebagai kesempatan buat perbankan syariah menunjukan kalau sistem ke uangan berbasis syariah juga bisa berdampak nyata dalam mendukung pembangunan ekonomi Indonesia.2. Perbankan Syariah Punya Peran Lebih BesarSelama ini yang saya lihat masih banyak yang menganggap bahwa bank syariah cuman beda karena tidak pakai bunga. Padahal, peran bank syariah jauh lebih luas dari itu. Lewat berbagai akad seperti mudharabah, musyarakah, murabahah, dan ijarah, bank syariah bisa mendorong aktivitas ekonomi indonesia yang lebih produktif dan fokus ke sektor rill.Selain menerima dan menyalurkan dana, bank syariah juga ikut mendukung pembiayaan pemerintah lewat Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara. Mekanisme ini mejadi salah satu alternatif pembiayaan APBN yang sesuai prinsip syariah dan sudah dipakai untuk membiayai berbagai proyek pembangunan.Adanya sukuk ini memperlihatkan kalau keuangan syariah nggak hanya fokus ke industri perbankan saja, tapi juga bisa memberi manfaat lebih luas buat negara. Saat masyarakat investasi di sukuk lewat bank syariah, secara nggak langsung mereka ikut mendukung pembangunan. Nah ini menjadi bukti kalau perbankan syariah punya posisi yang cukup strategis dalam memperkuat pembiayaan negara.3. Pembiayaan UMKM Harus Jadi PrioritasMenurut saya, kontribusi perbankan syariah nggak boleh berhenti hanya di sukuk saja. Tantangan ekonomi yang sekarang kita lihat juga butuh penguatan sektor riil, terutama UMKM. Sektor ini sudah lama jadi tulang punggung ekonomi karena mampu menyerap banyak tenaga kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.Di tengah tekanan APBN, pemerintah jelas nggak bisa jalan sendiri. Nah perbankan syariah bisa ambil peran dengan memperluas akses pembiayaan untuk UMKM yang sebenarnya punya potensi, tapi masih kesulitan dapat modal. Dengan pembiayaan yang tepat UMKM bisa meningkatkan produksi, memperluas pasar, dan membuka lapangan kerja baru.Dari sinilah keunggulan bank syariah. Seperti sistem bagi hasil memungkinkan pembagian risiko yang lebih adil antara bank dan nasabah. Ini bisa jadi solusi buat pelaku usaha yang butuh pembiayaan tanpa harus terbebani bunga yang terus bertambah saat usaha lagi turun.Kalau perbankannya syariah mampu memperkuat pembiayaan yang benar-benar menyentuh sektor produktif, dampaknya tidak hanya membantu dan di rasakan oleh pelaku UMKM saja, tetapi juga oleh perekonomian secara keseluruhan. Pertumbuhan usaha-usaha kecil dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya beli masyarakat, dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah kondisi ekonomi sekarang. Ini lah yang seharusnya menjadi fokus utama pengembangan perbankan syariah, yakni menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekedar menawarkan sistem keuangan yang berbeda.4. Tantangan yang Masih Harus DihadapiPerbankan syariah walaupun mempunyai potensi yang besar, tetapi masih mempunyai beberapa tantangan. Pangsa pasarnya di Indonesia masih kecil dibandingkan bank konvensional. Bukan hanya itu, literasi keuangan syariah di masyarakat juga belum merata. Masih banyak yang belum paham produk dan layanan yang ditawarkan.Di era digital sekarang, tantangan lainnya adalah soal inovasi. Masyarakat maunya layanan yang cepat, praktis, dan bisa diakses lewat gadget. Oleh sebab itu, bank syariah perlu terus berinvestasi di teknologi, meningkatkan layanan digital, dan menhadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan zaman.Menurut pendapat saya, kalau inovasi dan literasi bisa ditingkatkan secara bersamaan, kepercayaan masyarakat ke bank syariah juga bakal makin kuat. Jadi, bank syariah nggak Cuma dipilih karena alasan agama, tapi juga karena kualitas layanan dan daya saingnya.5. Momentum untuk Membuka DiriTekanan APBN memang jadi tantangan besar bagi pemerintah. Tapi di sisi lain, ini juga peluang bagi perbankan syariah memperlihatkan perannya dalam menjaga stabilitas ekonomi. Lewat pengembangan sukuk, peningkatan pembiayaan ke sektor produktif, dan inovasi layanan, bank syariah bisa jadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan ekonomi saat ini.Pada akhirnya, perbankan syariah nggak cuman berhasil dilihat dari besar aset atau jumlah nasabah. Tetapi yang lebih penting adalah seberapa besar dampaknya bagi masyarakat dan ekonomi Indonesia. Di tengah tekanan APBN, sudah saatnya perbankan syariah membuktikan kalau sistem keuangan syariah bukan hanya alternatif, tapi juga bisa jadi salah satu pilar penting dalam mendukug ekonomi yang lebih inklusif, adil, dan berkelanjutan.Penulis: Fitri Ramdani Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    Pelajaran Marketing Communication dari Parfum Mykonos yang Viral
    11.03 PM WIB

    Pelajaran Marketing Communication dari Parfum Mykonos yang Viral

    JATENGKU.COM, Semarang -- Fenomena parfum Mykonos yang belakangan ramai di kalangan anak-anak bukan sekadar tren yang mengundang tawa di media sosial. Di balik viralnya fenomena tersebut, ada strategi marketing communication yang berhasil membuat sebuah produk menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Jika dilihat dari perspektif komunikasi massa, kasus ini menunjukkan bahwa promosi sebuah brand tidak lagi hanya bergantung pada iklan. Kini, sebuah pesan dapat menyebar melalui konten kreator, video pendek, unggahan media sosial, hingga percakapan sehari-hari yang justru terasa lebih meyakinkan dibandingkan iklan resmi. Visual produk yang menarik, cerita yang mudah diingat, dan citra premium yang tetap dekat dengan anak muda menjadi beberapa faktor yang membuat Mykonos cepat dikenal.Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa saat ini konsumen tidak hanya membeli sebuah produk karena fungsinya, tetapi juga karena makna dan identitas yang melekat pada produk tersebut. Bagi banyak anak muda, sebuah produk dapat menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus cara untuk mengekspresikan diri. Hal inilah yang membuat sebuah merek lebih mudah berkembang ketika mampu membangun citra yang sesuai dengan budaya digital. Generasi Z dan Gen Alpha sendiri tumbuh di tengah arus media sosial yang serba visual, cepat, dan dipenuhi rekomendasi dari para kreator. Dalam situasi seperti ini, sebuah produk dapat menjadi viral tanpa harus mengandalkan kampanye iklan dalam skala besar.Fenomena Mykonos juga memperlihatkan bagaimana promosi modern bekerja dengan cara yang jauh lebih halus dibandingkan sebelumnya. Kehadiran produk dalam konten para kreator, streamer, maupun komunitas tertentu sering kali tidak dianggap sebagai iklan. Audiens justru melihatnya sebagai rekomendasi yang muncul secara alami sehingga lebih mudah dipercaya. Cara seperti ini membuat pesan pemasaran terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak mengherankan apabila sebuah produk dapat dikenal luas hanya dalam waktu singkat karena penyebarannya berlangsung melalui percakapan antarpengguna media sosial.Keberhasilan tersebut juga memperlihatkan bahwa harga bukan lagi satu-satunya alasan seseorang tertarik pada sebuah produk. Di era media sosial, tampilan visual yang menarik, cerita yang kuat, dan kedekatan dengan komunitas sering kali memiliki pengaruh yang sama besarnya, bahkan bisa lebih kuat daripada faktor harga. Karena itu, tidak sedikit orang membeli sebuah produk setelah melihatnya berulang kali di media sosial atau karena banyak digunakan oleh figur yang mereka ikuti.Di sisi lain, fenomena banyaknya anak-anak yang ikut mengenal dan menginginkan parfum Mykonos juga memunculkan pertanyaan. Viralnya sebuah produk memang menunjukkan keberhasilan strategi pemasaran, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan bahwa promosi digital dapat menjangkau kelompok yang jauh lebih luas daripada target pasar yang direncanakan. Sebuah brand mungkin menargetkan remaja atau anak muda, tetapi algoritma media sosial dan kebiasaan pengguna dalam membagikan konten membuat produk tersebut akhirnya dikenal bahkan oleh anak-anak. Akibatnya, batas antara target pasar dan orang yang akhirnya ikut terpapar promosi menjadi semakin kabur.Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui konsep komunikasi massa. Brand menyampaikan pesan kepada publik, kemudian pesan tersebut diperkuat oleh berbagai perantara seperti kreator konten, influencer, maupun pengguna media sosial lainnya. Setelah itu, audiens menerima, menafsirkan, dan menyebarkan kembali pesan tersebut sehingga jangkauannya semakin luas. Dalam proses inilah sebuah produk tidak hanya dikenal sebagai barang yang dijual, tetapi juga berubah menjadi topik pembicaraan yang terus berkembang di ruang digital.Kasus Mykonos memberikan pelajaran bahwa keberhasilan sebuah brand tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering produknya muncul di hadapan publik, tetapi juga oleh kemampuannya membangun identitas yang mudah dikenali dan relevan dengan budaya digital. Visual yang konsisten, cerita yang kuat, serta kedekatan dengan komunitas mampu membuat sebuah produk lebih cepat menyebar melalui percakapan masyarakat. Namun, keberhasilan tersebut juga perlu disertai kesadaran bahwa viralitas membawa konsekuensi. Ketika sebuah produk menyebar tanpa batas melalui media sosial, audiens yang mengenalnya bisa jauh lebih muda daripada sasaran yang sejak awal direncanakan.Fenomena Mykonos tidak seharusnya dipandang sebagai tren sesaat yang hanya menghibur. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana marketing communication berkembang di era media sosial, yaitu melalui percakapan, rekomendasi, dan penyebaran konten yang berlangsung sangat cepat. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah brand bukan hanya diukur dari banyaknya produk yang terjual, tetapi juga dari kemampuannya membangun makna dan menempatkan dirinya dalam percakapan publik. Dalam kasus Mykonos, sebuah parfum telah berkembang menjadi fenomena sosial yang menunjukkan besarnya pengaruh komunikasi di era digital.DAFTAR PUSTAKAKompasiana. (2026, 29 Mei). Rahasia Parfum Lokal MyKonos Diburu Gen Z & Alpha! Ternyata Bukan Soal Harga. Kompasiana. (2026, 27 Januari). Mykonos X Ade Setiawan: Kolaborasi Parfum Lokal dan Streamer, Ludes Dalam Hitungan Detik. Kompasiana. (2025, 7 April). Setiawan Ade dan Mykonos Luncurkan Parfum Eksklusif, Bukti Sinergi Dunia Gaming dan Lifestyle. Kompasiana. (2026, 29 Juni). Viralnya Parfum Mykonos: Ketika Two Step Flow Mengalahkan Iklan. https://www.tiktok.com/@beauty.pku/video/7658189865292418312Penulis: Valesco Beretta Aristian Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
    Ketika Amanah Bank Syariah Diuji oleh Serangan Siber
    11.02 AM WIB

    Ketika Amanah Bank Syariah Diuji oleh Serangan Siber

    JATENGKU.COM, Jakarta -- Ketika seluruh aktivitas mulai bergantung pada sistem digital, sentuhan jari sudah cukup untuk merubah kehidupan manusia. Semua ini tentu memberikan peluang besar bagi semua industri, termasuk industri keuangan bank syariah agar semakin dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Aktivitas keuangan masyarakat, seperti transfer, membayar tagihan, dan mengecek saldo sudah dapat dilakukan lewat layar ponsel. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada ancaman baru bagi industri bank syariah yang tidak bisa dianggap sepele: serangan siber. Risiko ini bukan hanya bisa mengganggu layanan saja, tetapi juga menggerus kepercayaan nasabah yang menjadi fondasi utama perbankan syariah. Karena itu, keamanan siber kini bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam menjaga keberlangsungan layanan perbankan.Menurut data BSI bidik yang diambil dari sebuah riset, pengguna mobile banking yang terdiri atas superapp BYOND by BSI dan BSI Mobile telah mencapai lebih dari 10 juta pengguna per tahun 2026. Ini menunjukkan bahwa transformasi digital memang membawa banyak keuntungan bagi industri perbankan syariah. Bank jadi lebih efisien, layanan makin cepat, dan masyarakat pun bisa mengakses produk keuangan dengan lebih mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi bahkan menjadi salah satu strategi penting agar bank syariah tetap relevan di tengah perubahan perilaku nasabah yang serba praktis dan serba instan. Namun ironisnya, semakin besar ketergantungan terhadap sistem digital, semakin besar pula peluang munculnya celah keamanan. Setiap aplikasi, server, dan jaringan yang terhubung ke internet berpotensi menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan siber.Ancaman siber hadir dalam berbagai bentuk yang sulit dikenali oleh nasabah. Bayangkan, ketika kamu menerima sebuah email ataupun chat yang tampak resmi dari sebuah bank dengan logo resmi dan tampilan yang sangat meyakinkan, terlihat sangat aman bukan? tetapi ketika jari kamu salah mengklik, maka dalam satu detik data pribadi kamu telah jatuh ke tangan pelaku kejahatan. Modus ini dikenal dengan istilah phishing yaitu salah satu ancaman yang peling sering terjadi. Selain itu, ada juga modus lain seperti ransomware, yaitu ketika akses data kamu terkunci dan pelaku meminta tebusan kepada kamu agar akses data tersebut dapat kembali normal. Tidak berhenti disitu, ada juga ancaman malware yang dapat mencuri informasi penting dan merusak sistem secara diam-diam. Berdasarkan laporan OJK, jumlah rekening yang terindikasi adanya aktivitas penipuan digital telah mencapai puluhan ribu sejak beroperasianya Indonesia Anti Scam Centre (IASC).Bagi perbankan syariah, dampak serangan siber jauh lebih luas daripada sekadar kerugian finansial. Ada aspek kepercayaan yang langsung ikut dipertaruhkan. Bank syariah dibangun di atas prinsip amanah, transparansi, dan tanggung jawab kepada nasabah. Karena itu, ketika terjadi kebocoran data atau gangguan sistem, citra bank bisa langsung terdampak. Nasabah bisa mulai ragu menggunakan layanan digital jika merasa data pribadinya tidak aman. Padahal, kepercayaan adalah salah satu modal terbesar dalam dunia perbankan. Jika kepercayaan itu menurun, proses untuk pulih tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh waktu, konsistensi, dan pembuktian bahwa sistem bank benar-benar aman.Ironisnya, selain mengganggu reputasi, serangan siber juga berdampak langsung pada operasional harian bank. Layanan yang terhenti, transaksi yang tertunda, atau data yang rusak dapat menimbulkan kerugian besar, baik bagi lembaga keuangan maupun nasabah. Dalam beberapa kasus, bank juga harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk pemulihan sistem, investigasi insiden, dan peningkatan keamanan setelah serangan terjadi. Artinya, keamanan siber bukan lagi beban tambahan yang bisa diabaikan, melainkan investasi penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis.Karena itu, bank perlu melakukan pembaruan sistem dan audit keamanan secara rutin agar celah yang mungkin dimanfaatkan pelaku kejahatan bisa segera ditutup. Selain itu, perbankan syariah juga seharusnya sudah mulai membangun cyber resilience agar aktivitas perbankan tetap bisa berjalan normal saat gangguan ataupun serangan terjadi Dengan pendekatan seperti ini, bank tidak hanya bereaksi setelah serangan terjadi, tetapi juga lebih siap mencegah ancaman sejak awal.Masalahnya, faktor manusia juga punya peran besar dalam keamanan siber. Banyak serangan berhasil bukan karena sistemnya lemah, tetapi karena pengguna kurang waspada. Banyak korban phishing yang berasal dari kelengahan saat mendapatkan kode OTP ataupun whatsapp, terbukti dengan data OJK sepanjang tahun 2024, kasus phishing ada sebanyak 85.414 kasus. Oleh karena itu, pegawai bank perlu mendapatkan pelatihan keamanan siber secara berkala agar lebih siap mengenali modus penipuan dan tahu cara meresponsnya. Nasabah pun perlu diedukasi agar tidak mudah percaya pada tautan mencurigakan, pesan palsu, atau permintaan data pribadi yang mengatasnamakan bank. Literasi digital menjadi kunci penting agar masyarakat tidak menjadi korban dari kejahatan siber yang terus berkembang. Dalam hal ini, kerja sama antara bank, regulator, penyedia teknologi, dan nasabah sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.Ancaman perampokan bersenjata bukan lagi sebagai gangguan paling berbahaya. Di era digital, cyber security terhadap perbankan justru mendatangkan tantangan nyata yang tidak bisa disepelekan. Bagi nasabah, amanah tidak hanya di ukur dari kepatuhan bank terhadap prinsip yang di emban. Amanah juga berarti memastikan bahwa setiap data dan transaksi nasabah harus dijaga dan terlindungi. Jika kepercayaan nasabah adalah bangunan nya, maka keamanan siber adalah pondasi utamanya.Penulis: Sabila Sapta Nabilla Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    KKN

    Ketika Amanah Bank Syariah Diuji oleh Serangan Siber
    11.02 AM WIB

    Ketika Amanah Bank Syariah Diuji oleh Serangan Siber

    JATENGKU.COM, Jakarta -- Ketika seluruh aktivitas mulai bergantung pada sistem digital, sentuhan jari sudah cukup untuk merubah kehidupan manusia. Semua ini tentu memberikan peluang besar bagi semua industri, termasuk industri keuangan bank syariah agar semakin dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Aktivitas keuangan masyarakat, seperti transfer, membayar tagihan, dan mengecek saldo sudah dapat dilakukan lewat layar ponsel. Namun, di balik kenyamanan tersebut, ada ancaman baru bagi industri bank syariah yang tidak bisa dianggap sepele: serangan siber. Risiko ini bukan hanya bisa mengganggu layanan saja, tetapi juga menggerus kepercayaan nasabah yang menjadi fondasi utama perbankan syariah. Karena itu, keamanan siber kini bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam menjaga keberlangsungan layanan perbankan.Menurut data BSI bidik yang diambil dari sebuah riset, pengguna mobile banking yang terdiri atas superapp BYOND by BSI dan BSI Mobile telah mencapai lebih dari 10 juta pengguna per tahun 2026. Ini menunjukkan bahwa transformasi digital memang membawa banyak keuntungan bagi industri perbankan syariah. Bank jadi lebih efisien, layanan makin cepat, dan masyarakat pun bisa mengakses produk keuangan dengan lebih mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, digitalisasi bahkan menjadi salah satu strategi penting agar bank syariah tetap relevan di tengah perubahan perilaku nasabah yang serba praktis dan serba instan. Namun ironisnya, semakin besar ketergantungan terhadap sistem digital, semakin besar pula peluang munculnya celah keamanan. Setiap aplikasi, server, dan jaringan yang terhubung ke internet berpotensi menjadi pintu masuk bagi pelaku kejahatan siber.Ancaman siber hadir dalam berbagai bentuk yang sulit dikenali oleh nasabah. Bayangkan, ketika kamu menerima sebuah email ataupun chat yang tampak resmi dari sebuah bank dengan logo resmi dan tampilan yang sangat meyakinkan, terlihat sangat aman bukan? tetapi ketika jari kamu salah mengklik, maka dalam satu detik data pribadi kamu telah jatuh ke tangan pelaku kejahatan. Modus ini dikenal dengan istilah phishing yaitu salah satu ancaman yang peling sering terjadi. Selain itu, ada juga modus lain seperti ransomware, yaitu ketika akses data kamu terkunci dan pelaku meminta tebusan kepada kamu agar akses data tersebut dapat kembali normal. Tidak berhenti disitu, ada juga ancaman malware yang dapat mencuri informasi penting dan merusak sistem secara diam-diam. Berdasarkan laporan OJK, jumlah rekening yang terindikasi adanya aktivitas penipuan digital telah mencapai puluhan ribu sejak beroperasianya Indonesia Anti Scam Centre (IASC).Bagi perbankan syariah, dampak serangan siber jauh lebih luas daripada sekadar kerugian finansial. Ada aspek kepercayaan yang langsung ikut dipertaruhkan. Bank syariah dibangun di atas prinsip amanah, transparansi, dan tanggung jawab kepada nasabah. Karena itu, ketika terjadi kebocoran data atau gangguan sistem, citra bank bisa langsung terdampak. Nasabah bisa mulai ragu menggunakan layanan digital jika merasa data pribadinya tidak aman. Padahal, kepercayaan adalah salah satu modal terbesar dalam dunia perbankan. Jika kepercayaan itu menurun, proses untuk pulih tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh waktu, konsistensi, dan pembuktian bahwa sistem bank benar-benar aman.Ironisnya, selain mengganggu reputasi, serangan siber juga berdampak langsung pada operasional harian bank. Layanan yang terhenti, transaksi yang tertunda, atau data yang rusak dapat menimbulkan kerugian besar, baik bagi lembaga keuangan maupun nasabah. Dalam beberapa kasus, bank juga harus mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk pemulihan sistem, investigasi insiden, dan peningkatan keamanan setelah serangan terjadi. Artinya, keamanan siber bukan lagi beban tambahan yang bisa diabaikan, melainkan investasi penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis.Karena itu, bank perlu melakukan pembaruan sistem dan audit keamanan secara rutin agar celah yang mungkin dimanfaatkan pelaku kejahatan bisa segera ditutup. Selain itu, perbankan syariah juga seharusnya sudah mulai membangun cyber resilience agar aktivitas perbankan tetap bisa berjalan normal saat gangguan ataupun serangan terjadi Dengan pendekatan seperti ini, bank tidak hanya bereaksi setelah serangan terjadi, tetapi juga lebih siap mencegah ancaman sejak awal.Masalahnya, faktor manusia juga punya peran besar dalam keamanan siber. Banyak serangan berhasil bukan karena sistemnya lemah, tetapi karena pengguna kurang waspada. Banyak korban phishing yang berasal dari kelengahan saat mendapatkan kode OTP ataupun whatsapp, terbukti dengan data OJK sepanjang tahun 2024, kasus phishing ada sebanyak 85.414 kasus. Oleh karena itu, pegawai bank perlu mendapatkan pelatihan keamanan siber secara berkala agar lebih siap mengenali modus penipuan dan tahu cara meresponsnya. Nasabah pun perlu diedukasi agar tidak mudah percaya pada tautan mencurigakan, pesan palsu, atau permintaan data pribadi yang mengatasnamakan bank. Literasi digital menjadi kunci penting agar masyarakat tidak menjadi korban dari kejahatan siber yang terus berkembang. Dalam hal ini, kerja sama antara bank, regulator, penyedia teknologi, dan nasabah sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman.Ancaman perampokan bersenjata bukan lagi sebagai gangguan paling berbahaya. Di era digital, cyber security terhadap perbankan justru mendatangkan tantangan nyata yang tidak bisa disepelekan. Bagi nasabah, amanah tidak hanya di ukur dari kepatuhan bank terhadap prinsip yang di emban. Amanah juga berarti memastikan bahwa setiap data dan transaksi nasabah harus dijaga dan terlindungi. Jika kepercayaan nasabah adalah bangunan nya, maka keamanan siber adalah pondasi utamanya.Penulis: Sabila Sapta Nabilla Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    Mahasiswa KKN UNS Gelar EcoFun Project 2, Edukasi dan Praktik Pembuatan Eco-Enzyme untuk Mendukung SDGs melalui Pengelolaan Limbah Organik di Desa Tugu
    10.58 AM WIB

    Mahasiswa KKN UNS Gelar EcoFun Project 2, Edukasi dan Praktik Pembuatan Eco-Enzyme untuk Mendukung SDGs melalui Pengelolaan Limbah Organik di Desa Tugu

    JATENGKU.COM, Karanganyar – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok Eduvara Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan EcoFun Project 2: Edukasi dan Pembuatan Eco-Enzyme sebagai Inovasi Pengelolaan Limbah Organik di Desa Tugu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar, pada Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam mengelola limbah organik rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat, bernilai guna, serta ramah lingkungan.Program ini juga menjadi bagian dari implementasi Hibah Pembelajaran Berdampak melalui Program Asistensi Mengajar Mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sebelas Maret, yang mendorong mahasiswa untuk menghadirkan inovasi pembelajaran sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya volume limbah organik rumah tangga yang dihasilkan masyarakat Desa Tugu. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan. Melalui program ini, mahasiswa KKN UNS menghadirkan solusi sederhana namun berkelanjutan berupa pemanfaatan limbah organik menjadi eco-enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi limbah organik yang memiliki berbagai manfaat, mulai dari pembersih alami, pupuk cair, pengusir hama, hingga membantu mengurangi pencemaran lingkungan.Kegiatan yang dipusatkan di rumah Ketua RT 02 Dusun Pondok Etan ini dihadiri oleh Kepala Dusun Pondok Etan, Dosen Pembimbing Lapangan, Ketua RT 01 dan RT 02 Dusun Pondok Etan, anggota Kelompok Tani Desa Tugu, serta puluhan warga yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.Sebagai narasumber utama, Ibu Ester Tantri dari Eco Enzyme Nusantara (EEN) menyampaikan materi edukatif mengenai konsep dasar eco-enzyme beserta manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan perbedaan mendasar antara eco-enzyme dan kompos.Selain menjelaskan konsep dasar, Ibu Ester Tantri juga memaparkan berbagai manfaat eco-enzyme dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari penggunaannya sebagai cairan pembersih rumah tangga, penyubur tanaman, penghilang bau pada saluran air, hingga sebagai salah satu upaya sederhana dalam mengurangi timbulan sampah organik rumah tangga. Materi disampaikan secara komunikatif dan disertai contoh-contoh penerapan sehingga mudah dipahami oleh seluruh peserta.Tidak hanya menerima materi, peserta juga diajak mengikuti praktik langsung pembuatan eco-enzyme. Dalam sesi ini, mahasiswa KKN UNS bersama narasumber mendampingi warga mulai dari proses pemilahan limbah organik, penyiapan bahan, hingga pencampuran menggunakan molase maupun gula merah sebagai sumber gula alternatif dengan komposisi yang tepat. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai proses fermentasi, lama penyimpanan, hingga cara memanen dan memanfaatkan eco-enzyme setelah fermentasi selesai.Dalam sambutannya, Kepala Dusun Pondok Etan, Bapak Suyadi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Menurutnya, kegiatan yang diinisiasi mahasiswa KKN UNS memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dalam mengatasi permasalahan sampah organik sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih."Kami sangat berterima kasih atas kehadiran dan dedikasi mahasiswa KKN UNS. Program ini sangat bermanfaat karena dapat memberikan solusi terhadap banyaknya sampah organik rumah tangga sekaligus mendukung terwujudnya desa yang mandiri dan ramah lingkungan," ujar Bapak Suyadi.Melalui edukasi dan praktik pembuatan eco-enzyme, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Program ini berkontribusi terhadap SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan mendorong terciptanya lingkungan yang lebih bersih melalui pengurangan limbah organik rumah tangga dan pemanfaatannya menjadi produk yang aman serta bermanfaat. Lingkungan yang lebih bersih dapat membantu mengurangi pencemaran dan mendukung kesehatan masyarakat.Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengolah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta berpotensi dikembangkan menjadi inovasi berbasis lingkungan maupun peluang usaha skala rumah tangga, sehingga dapat meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.Melalui EcoFun Project 2, mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret berharap masyarakat Desa Tugu dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semakin banyaknya warga yang mengolah limbah organik menjadi eco-enzyme, diharapkan volume sampah rumah tangga dapat berkurang, kepedulian terhadap lingkungan semakin meningkat, serta tercipta budaya hidup yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Program ini juga menjadi wujud kolaborasi antara mahasiswa KKN UNS, masyarakat Desa Tugu, dan Eco Enzyme Nusantara (EEN) dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya pengelolaan limbah organik sebagai langkah nyata menuju desa yang lebih lestari.
    Pemberdayaan Keluarga dan Masyarakat dalam Mengurangi Sampah Plastik Melalui Pemanfaatan Galon Bekas Menjadi Tempat Serbaguna
    5.04 PM WIB

    Pemberdayaan Keluarga dan Masyarakat dalam Mengurangi Sampah Plastik Melalui Pemanfaatan Galon Bekas Menjadi Tempat Serbaguna

    JATENGKU.COM, Sragen -- Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penggunaan plastik yang terus meningkat dalam kehidupan sehari-hari memberikan berbagai kemudahan karena sifatnya yang ringan, kuat, tahan lama, dan memiliki harga yang relatif murah. Plastik banyak dimanfaatkan sebagai bahan kemasan makanan dan minuman, peralatan rumah tangga, hingga kebutuhan industri. Namun, di balik berbagai keunggulan tersebut, plastik memiliki kelemahan utama, yaitu sulit terurai secara alami sehingga dapat bertahan di lingkungan selama puluhan bahkan ratusan tahun (United Nations Environment Programme [UNEP], 2023).Peningkatan jumlah penduduk, perkembangan industri, serta perubahan pola konsumsi masyarakat menyebabkan volume sampah plastik terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (2025), komposisi sampah plastik mencapai sekitar 20,45% dari total timbulan sampah nasional. Sementara itu, sektor rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar dengan persentase sekitar 56,7%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah plastik masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan secara bersama-sama oleh pemerintah, dunia pendidikan, sektor swasta, maupun masyarakat.Permasalahan sampah plastik tidak hanya berdampak terhadap pencemaran lingkungan, tetapi juga memengaruhi kualitas kesehatan masyarakat. Sampah plastik yang dibuang secara sembarangan dapat menyumbat saluran air sehingga meningkatkan risiko banjir. Selain itu, pembakaran sampah plastik secara terbuka menghasilkan zat berbahaya seperti dioksin yang dapat mengganggu kesehatan manusia, terutama sistem pernapasan. Plastik yang terbawa ke sungai dan laut juga berpotensi terurai menjadi mikroplastik yang masuk ke dalam rantai makanan dan akhirnya dikonsumsi oleh manusia (World Bank, 2018).Besarnya dampak yang ditimbulkan menunjukkan bahwa pengelolaan sampah plastik tidak dapat hanya mengandalkan sistem pengangkutan menuju tempat pembuangan akhir (TPA). Pengelolaan sampah perlu dimulai dari sumbernya melalui perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan, memilah, serta memanfaatkan kembali limbah plastik yang masih memiliki nilai guna. Oleh karena itu, pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu strategi yang efektif dalam mengatasi permasalahan sampah plastik secara berkelanjutan.Salah satu pendekatan yang banyak diterapkan dalam pengelolaan sampah adalah konsep 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). Konsep ini menekankan pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, serta mendaur ulang limbah menjadi produk baru yang bermanfaat. Penerapan konsep 3R tidak hanya bertujuan mengurangi jumlah sampah, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia (KLHK, 2023). Selain itu, penerapan konsep ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang kota dan permukiman berkelanjutan serta tujuan ke-12 mengenai konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.Dalam penerapan prinsip tersebut, limbah plastik yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Salah satunya adalah galon bekas air minum. Galon bekas memiliki karakteristik yang kuat, tahan lama, dan mudah dimodifikasi sehingga dapat dimanfaatkan menjadi berbagai produk serbaguna, seperti tempat penyimpanan, pot tanaman, tempat sampah, maupun wadah perlengkapan rumah tangga. Pemanfaatan galon bekas menjadi produk baru merupakan salah satu bentuk inovasi sederhana yang mampu mengurangi jumlah sampah plastik sekaligus meningkatkan nilai guna limbah. Program pemanfaatan galon bekas menjadi tempat serbaguna juga memiliki nilai lebih karena tidak hanya berorientasi pada aspek lingkungan, tetapi juga pada aspek sosial dan ekonomi. Melalui kegiatan seminar dan workshop, masyarakat memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya pengelolaan sampah plastik serta keterampilan dalam mengolah limbah menjadi produk yang bermanfaat. Kegiatan tersebut menjadi sarana pemberdayaan masyarakat karena mampu meningkatkan kreativitas, keterampilan, dan membuka peluang untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.Yayasan Lentera Bangsa Indonesia, Kabupaten Sragen (16 Mei 2026)Berdasarkan hasil analisis kebutuhan masyarakat di Yayasan Lentera Bangsa Indonesia, Kabupaten Sragen, masih banyak warga yang belum memanfaatkan galon bekas secara optimal. Sebagian besar galon yang sudah tidak digunakan hanya disimpan atau dibuang karena masyarakat belum mengetahui cara mengolahnya menjadi barang yang memiliki fungsi baru. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permasalahan utama bukan hanya banyaknya limbah plastik, tetapi juga masih terbatasnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pemanfaatan limbah. Oleh sebab itu, diperlukan kegiatan edukasi dan pelatihan yang mampu meningkatkan kesadaran sekaligus kemampuan masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri.Program pemberdayaan melalui seminar dan workshop mengkreasikan galon bekas menjadi tempat serbaguna diharapkan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Selain mengurangi timbulan sampah plastik, kegiatan ini juga mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan barang bekas, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk plastik baru. Apabila dilakukan secara berkelanjutan, program ini dapat menciptakan lingkungan yang lebih bersih, meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, serta mendukung terciptanya pola hidup yang lebih ramah lingkungan.Artikel ini bertujuan untuk membahas pentingnya pengelolaan sampah plastik melalui penerapan prinsip 3R dengan memanfaatkan galon bekas menjadi tempat serbaguna sebagai salah satu bentuk pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Selain itu, artikel ini juga mengkaji manfaat kegiatan tersebut terhadap peningkatan kepedulian masyarakat, pengembangan keterampilan, serta relevansinya dengan kegiatan Rekognisi Pembelajaran yang menekankan peran aktif mahasiswa dalam memberdayakan masyarakat dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial melalui solusi yang inovatif dan berkelanjutan.Permasalahan Sampah Plastik dan Penerapan Prinsip 3R sebagai Solusi Pengelolaan SampahSampah plastik menjadi salah satu jenis limbah yang paling sulit ditangani karena memiliki sifat yang tidak mudah terurai secara alami. Berbeda dengan sampah organik yang dapat mengalami proses dekomposisi dalam waktu relatif singkat, plastik membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai sempurna. Selama proses tersebut, plastik akan mengalami fragmentasi menjadi partikel-partikel kecil atau mikroplastik yang dapat mencemari tanah, sungai, laut, bahkan masuk ke dalam rantai makanan manusia (UNEP, 2023).Di Indonesia, peningkatan jumlah sampah plastik dipengaruhi oleh tingginya konsumsi produk dengan kemasan sekali pakai, pertumbuhan jumlah penduduk, dan perubahan gaya hidup masyarakat yang mengutamakan kepraktisan. Berdasarkan data SIPSN, sampah rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah nasional, dengan sampah plastik menempati salah satu persentase tertinggi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permasalahan sampah tidak hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan, tetapi juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam menggunakan dan membuang plastik setelah digunakan.Permasalahan sampah plastik memberikan dampak yang luas terhadap lingkungan. Plastik yang dibuang sembarangan dapat menyumbat saluran drainase sehingga meningkatkan risiko banjir, terutama pada musim hujan. Di kawasan perairan, sampah plastik mengancam kehidupan berbagai biota laut karena sering kali tertelan oleh ikan, penyu, maupun burung laut. Selain itu, pembakaran sampah plastik secara terbuka menghasilkan emisi berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, seperti iritasi saluran pernapasan, penyakit paru-paru, bahkan meningkatkan risiko penyakit kronis akibat paparan zat kimia beracun (World Bank, 2018).Selain berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan, pengelolaan sampah yang kurang optimal juga menimbulkan kerugian ekonomi. Pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk proses pengangkutan dan pengelolaan sampah di tempat pemrosesan akhir. Di sisi lain, masih banyak limbah yang sebenarnya memiliki nilai guna dan nilai ekonomi, tetapi berakhir menjadi sampah karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai cara pemanfaatannya. Oleh karena itu, diperlukan perubahan paradigma bahwa sampah bukan hanya barang sisa, tetapi juga sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui pengelolaan yang tepat.Hasil identifikasi kondisi masyarakat di Yayasan Lentera Bangsa Indonesia menunjukkan bahwa limbah galon bekas masih belum dimanfaatkan secara optimal. Sebagian besar galon yang sudah tidak digunakan hanya disimpan atau dibuang karena masyarakat belum mengetahui cara mengolahnya menjadi barang yang memiliki fungsi baru. Kondisi tersebut menjadi dasar dilaksanakannya seminar dan workshop pemanfaatan galon bekas menjadi tempat serbaguna sebagai salah satu bentuk implementasi prinsip 3R. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu mengurangi jumlah sampah plastik, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari serta menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.Salah satu pendekatan yang terbukti efektif dalam mengurangi timbulan sampah adalah penerapan konsep 3R. Konsep ini telah menjadi dasar berbagai kebijakan pengelolaan sampah di banyak negara, termasuk Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UU 18/2008). Konsep 3R bertujuan untuk mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan sejak dari sumbernya sehingga beban terhadap tempat pemrosesan akhir dapat diminimalkan.Prinsip pertama, yaitu Reduce, merupakan upaya mengurangi penggunaan barang-barang yang berpotensi menjadi sampah. Langkah ini dianggap sebagai cara paling efektif dalam mengatasi permasalahan sampah karena berfokus pada pencegahan sebelum limbah dihasilkan. Contoh penerapan reduce antara lain membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum isi ulang, mengurangi penggunaan sedotan plastik, memilih produk dengan kemasan ramah lingkungan, dan menghindari penggunaan plastik sekali pakai. Kebiasaan sederhana tersebut apabila dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap pengurangan volume sampah plastik.Prinsip kedua adalah Reuse, yaitu menggunakan kembali barang yang masih layak pakai tanpa melalui proses pengolahan yang rumit. Reuse bertujuan memperpanjang masa pakai suatu barang sehingga tidak langsung berubah menjadi sampah. Contohnya adalah menggunakan kembali kantong belanja, memanfaatkan botol atau toples bekas sebagai wadah penyimpanan, serta menggunakan galon bekas untuk berbagai keperluan rumah tangga. Dengan menerapkan reuse, masyarakat dapat menghemat pengeluaran sekaligus mengurangi kebutuhan terhadap produk baru.Sementara itu, prinsip ketiga adalah recycle, yaitu mendaur ulang limbah menjadi produk baru yang memiliki fungsi dan nilai guna. Recycle tidak hanya berperan dalam mengurangi jumlah sampah, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi suatu limbah. Saat ini, berbagai jenis sampah plastik telah berhasil diolah menjadi produk kerajinan, peralatan rumah tangga, hingga bahan baku industri. Kegiatan daur ulang juga menjadi salah satu bentuk ekonomi kreatif yang mampu membuka peluang usaha bagi masyarakat.Penerapan konsep 3R tidak akan berjalan optimal tanpa adanya partisipasi aktif masyarakat. Kesadaran untuk memilah sampah sejak dari rumah menjadi langkah awal yang sangat penting dalam proses pengelolaan limbah. Sampah organik dan anorganik perlu dipisahkan agar limbah yang masih memiliki nilai guna dapat dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan, seperti penyuluhan, seminar, maupun pelatihan berbasis praktik.Salah satu bentuk penerapan prinsip recycle yang mudah dilakukan oleh masyarakat adalah memanfaatkan galon bekas menjadi tempat serbaguna. Galon bekas dipilih karena memiliki bahan yang kuat, tahan lama, serta mudah dimodifikasi menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Dibandingkan langsung membuangnya sebagai sampah, pemanfaatan galon bekas dapat memperpanjang masa pakainya sekaligus mengurangi jumlah limbah plastik yang mencemari lingkungan.Dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan, pemanfaatan galon bekas dipilih sebagai solusi karena sesuai dengan kondisi masyarakat yang masih menghasilkan limbah plastik rumah tangga dalam jumlah cukup banyak. Selain mudah diperoleh, galon bekas juga dapat diolah menggunakan peralatan sederhana sehingga kegiatan ini dapat diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Melalui seminar dan workshop, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga mendapatkan keterampilan praktis dalam mengolah galon bekas menjadi produk yang memiliki fungsi baru.Dengan demikian, penerapan konsep 3R bukan hanya menjadi strategi pengurangan sampah plastik, tetapi juga menjadi sarana membangun budaya peduli lingkungan di tengah masyarakat. Apabila diterapkan secara konsisten, konsep ini mampu mengurangi pencemaran lingkungan, meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya, serta mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.Pemanfaatan Galon Bekas Menjadi Tempat Serbaguna sebagai Upaya Pemberdayaan Keluarga dan MasyarakatPemanfaatan galon bekas menjadi tempat serbaguna merupakan salah satu bentuk inovasi sederhana dalam pengelolaan sampah plastik yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah plastik, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan pemberdayaan masyarakat agar lebih kreatif dalam memanfaatkan barang bekas. Galon yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diubah menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna, seperti tempat penyimpanan alat tulis, tempat sampah, pot tanaman, wadah perlengkapan rumah tangga, hingga tempat penyimpanan mainan anak.Pemilihan galon bekas sebagai bahan utama didasarkan pada karakteristiknya yang kuat, tahan lama, dan mudah dibentuk. Dibandingkan dengan jenis plastik lainnya, galon memiliki struktur yang lebih kokoh sehingga dapat digunakan kembali dalam jangka waktu yang lama. Selain itu, galon bekas juga mudah ditemukan di lingkungan masyarakat, sehingga bahan baku untuk kegiatan ini relatif mudah diperoleh tanpa memerlukan biaya yang besar. Kondisi tersebut menjadikan pemanfaatan galon bekas sebagai solusi yang sederhana, ekonomis, dan mudah diterapkan oleh berbagai kalangan.Program ini dilaksanakan melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan partisipasi aktif peserta dalam setiap tahapan kegiatan. Tahap pertama dimulai dengan pelaksanaan seminar mengenai pengelolaan sampah plastik dan penerapan prinsip 3R. Seminar bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai dampak negatif sampah plastik terhadap lingkungan, pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta peluang yang dapat diperoleh melalui pemanfaatan limbah menjadi produk yang bernilai guna.Penyampaian materi dilakukan secara interaktif sehingga peserta dapat berdiskusi mengenai permasalahan sampah yang dihadapi di lingkungan masing-masing. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari lingkungan keluarga. Selain itu, seminar juga menjadi media untuk memperkenalkan berbagai contoh keberhasilan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah diterapkan di berbagai daerah sebagai inspirasi bagi peserta.Setelah seminar selesai, kegiatan dilanjutkan dengan workshop pembuatan tempat serbaguna dari galon bekas. Pada tahap ini peserta memperoleh pendampingan secara langsung mulai dari proses pembersihan galon, pembuatan pola, pemotongan, perakitan, hingga proses finishing. Kegiatan praktik dipilih karena memberikan pengalaman belajar yang lebih efektif dibandingkan penyampaian materi secara teori. Peserta tidak hanya memahami konsep pengelolaan sampah, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang dapat langsung dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.Selama workshop berlangsung, peserta didorong untuk mengembangkan kreativitas sesuai kebutuhan masing-masing. Beberapa peserta membuat tempat penyimpanan alat kebersihan, sementara peserta lainnya membuat pot tanaman atau wadah penyimpanan perlengkapan rumah tangga. Kebebasan dalam menentukan desain memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinovasi sehingga produk yang dihasilkan memiliki fungsi yang beragam. Selain meningkatkan keterampilan teknis, workshop juga memperkuat interaksi sosial antarwarga. Peserta saling bertukar ide, membantu proses pembuatan produk, serta berdiskusi mengenai berbagai kemungkinan pengembangan hasil kerajinan. Suasana belajar yang kolaboratif tersebut menjadi salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat karena mendorong tumbuhnya rasa kebersamaan, gotong royong, dan kepedulian terhadap lingkungan.Pelaksanaan seminar dan workshop diharapkan mampu menghasilkan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah plastik. Masyarakat tidak lagi memandang limbah sebagai barang yang tidak berguna, tetapi sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai manfaat. Perubahan pola pikir ini menjadi dasar dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.Program ini juga memberikan manfaat yang nyata bagi keluarga. Melalui keterampilan yang diperoleh selama pelatihan, anggota keluarga dapat memanfaatkan galon bekas menjadi berbagai perlengkapan rumah tangga tanpa harus membeli produk baru. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung mengurangi pengeluaran rumah tangga sekaligus menanamkan sikap hemat dan peduli lingkungan kepada seluruh anggota keluarga. Orang tua juga dapat mengajak anak-anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sederhana seperti menghias atau mewarnai hasil kerajinan sehingga kegiatan ini menjadi media edukasi lingkungan sejak usia dini.Di sisi lain, kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Semakin banyak galon bekas yang dimanfaatkan kembali, semakin sedikit limbah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir maupun mencemari lingkungan. Hal tersebut mendukung terciptanya kawasan permukiman yang lebih bersih, sehat, dan nyaman. Pengurangan sampah plastik juga berkontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan karena dapat mengurangi pencemaran tanah, air, dan ekosistem di sekitarnya.Selain manfaat lingkungan, kegiatan ini juga memiliki potensi ekonomi. Produk hasil pemanfaatan galon bekas dapat dikembangkan menjadi kerajinan yang memiliki nilai jual apabila dibuat dengan desain yang menarik dan kualitas yang baik. Kondisi ini membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha kecil berbasis pemanfaatan limbah plastik. Meskipun tujuan utama program adalah meningkatkan kesadaran lingkungan, adanya peluang ekonomi diharapkan dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk terus melaksanakan kegiatan daur ulang secara berkelanjutan.Program pemanfaatan galon bekas menjadi tempat serbaguna sejalan dengan tujuan pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yaitu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan potensi yang dimiliki untuk menyelesaikan permasalahan di lingkungannya. Melalui kegiatan seminar dan workshop, masyarakat tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri. Dengan demikian, program ini tidak hanya menghasilkan produk dari limbah plastik, tetapi juga membentuk masyarakat yang lebih kreatif, mandiri, dan peduli terhadap lingkungan.Program pemanfaatan galon bekas menjadi tempat serbaguna memiliki relevansi dengan Rekognisi Pembelajaran pada aspek pemberdayaan keluarga dan masyarakat. Melalui kegiatan edukasi dan pendampingan, mahasiswa berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan pemecahan masalah. Di sisi lain, masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola limbah plastik sehingga mampu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi sampah plastik sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.KesimpulanSampah plastik merupakan permasalahan lingkungan yang memerlukan penanganan secara terpadu melalui keterlibatan pemerintah, dunia pendidikan, dan masyarakat. Penerapan konsep 3R menjadi salah satu solusi yang efektif untuk mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya. Salah satu implementasi prinsip tersebut adalah pemanfaatan galon bekas menjadi tempat serbaguna yang mampu mengurangi limbah plastik sekaligus meningkatkan nilai guna barang bekas.Pelaksanaan program melalui seminar dan workshop memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah plastik. Selain memberikan manfaat bagi lingkungan melalui pengurangan limbah, kegiatan ini juga memperkuat peran keluarga dalam membangun kebiasaan peduli lingkungan serta membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan produk hasil daur ulang. Program ini sejalan dengan tujuan pemberdayaan keluarga dan masyarakat karena mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.Dengan demikian, pemanfaatan galon bekas menjadi tempat serbaguna dapat menjadi salah satu model pengelolaan sampah plastik berbasis masyarakat yang mudah diterapkan dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, keluarga, dan berbagai pemangku kepentingan, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menciptakan kondisi sosial yang lebih positif sesuai dengan tujuan program pemberdayaan masyarakat.Disusun Oleh:Larassati Meliana Puspa Ningrum Amanda Octhavia Siti Fathonah Rosita Mahardika Nur Aisyah Anisa Eka LailaturrohmahPendidikan Luar Biasa, FKIP, Universitas Sebelas MaretDAFTAR PUSTAKAKementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2023). Pedoman pelaksanaan reduce, reuse, recycle (3R) dalam pengelolaan sampah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. (2024). Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN). https://sipsn.menlhk.go.id Kurniawan, D., & Lestari, S. (2021). Pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui penerapan konsep 3R. Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan, 5(1), 34–42. Sari, R., & Wibowo, A. (2020). Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan daur ulang sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi. Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia, 5(3), 210–218. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. United Nations Environment Programme. (2023). Turning off the tap: How the world can end plastic pollution and create a circular economy. https://www.unep.org United Nations. (2015). Transforming Our World: The 2030 Agenda for Sustainable Development. New York: United Nations. World Bank. (2018). What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050. Washington, DC: World Bank.

    Terbaru

    NEW Kampanye SEHATI Ajak Masyarakat Usia Produktif Peduli Pencegahan Diabetes Melitus Melalui Edukasi Interaktif di CFD Semarang

    NEW Kampanye SEHATI Ajak Masyarakat Usia Produktif Peduli Pencegahan Diabetes Melitus Melalui Edukasi Interaktif di CFD Semarang

     JATENGKU.COM, Semarang – Tim Kampanye SEHATI (Sehat Tanpa Diabetes) sukses menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Pahlawan, Semarang, Minggu (21/6). Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara mahasiswi program studi Informasi dan Hubungan Masyarakat – Universitas Diponegoro bersama dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk meningkatkan awareness masyarakat usia produktif mengenai pentingnya pencegahan diabetes melitus melalui pendekatan edukasi yang interaktif dan partisipatif.Kampanye SEHATI merupakan bagian dari implementasi kampanye public relations yang dirancang untuk menjawab rendahnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko diabetes melitus, khususnya pada kelompok usia produktif. Melalui kombinasi media digital dan aktivasi offline, kampanye ini berupaya menghadirkan edukasi kesehatan yang lebih dekat dan mudah dipahami oleh masyarakat.Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 06.00 hingga 09.00 WIB tersebut menghadirkan berbagai aktivitas menarik, antara lain cek kesehatan gratis, pemeriksaan gula darah, pengukuran massa otot dan komposisi tubuh, permainan edukatif melalui spinwheel, Sugar Shock, serta Wall of Hope "Janji SIGAP" yang mengajak peserta menuliskan komitmen sederhana untuk menerapkan gaya hidup sehat. Berbagai aktivitas tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dapat terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.Selama kegiatan berlangsung, sekitar 100 peserta mengikuti layanan cek kesehatan dan aktivitas edukasi yang disediakan. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam permainan edukatif, konsultasi kesehatan, serta penyampaian komitmen kesehatan melalui Wall of Hope.Selain adanya aktivasi offline, kampanye Sehat Tanpa Diabetes juga turut mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam digital challenge di sosial media Instagram @sehatidisemarang. Challenge ini bertajuk 7 Days Healthy Habbit yang mengajak masyarakat untuk menunjukkan gaya hidup sehat mereka selama satu minggu yang dikemas ke dalam bentuk video reels kreatif. Pemenang dari challenge ini tentunya mendapatkan hadiah menarik seperti saldo dan juga voucher produk.Kegiatan ini didukung oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang, Tropicana Slim, HiLo, serta Balloons by Cici. Kolaborasi berbagai pihak tersebut menjadi bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pencegahan diabetes melitus.Melalui kampanye SEHATI, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa diabetes melitus tidak hanya dapat terjadi pada kelompok usia lanjut, tetapi juga dapat dialami oleh usia produktif akibat berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup. Oleh karena itu, penerapan pola hidup sehat, pembatasan konsumsi gula, aktivitas fisik rutin, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting dalam mencegah diabetes melitus sejak dini.