JATENGKU.COM, SEMARANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IDBU 50 Universitas Diponegoro melaksanakan program edukasi UMKM rumahan dalam rangka mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (13/07/2025) dan menyasar pelaku UMKM lokal, khususnya produsen es mambo rumahan, untuk meningkatkan kapasitas usaha melalui edukasi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan pengenalan aplikasi kasir digital Griyo POS.
Kegiatan berlangsung di rumah salah satu pelaku UMKM, Bu Ulfi, produsen es mambo rumahan. Ia menjadi peserta dalam sesi pelatihan yang dibimbing langsung oleh mahasiswa KKN IDBU 50 UNDIP, Nita Kumala Sari, yang berasal dari program studi Akuntansi Perpajakan.
Materi pelatihan mencakup cara menghitung biaya produksi es mambo secara rinci mulai dari bahan baku, kemasan, hingga biaya operasional. Mahasiswa juga membantu simulasi penentuan harga jual yang sesuai agar UMKM tidak mengalami kerugian, namun tetap kompetitif di pasar.
Melalui edukasi ini, kami berharap pelaku UMKM seperti Bu Ulfi dapat memahami pentingnya menghitung HPP secara tepat agar tidak merugi, sekaligus mampu memanfaatkan aplikasi kasir digital untuk mempermudah pencatatan transaksi harian.
“Harapannya keterampilan ini bisa terus digunakan dan dikembangkan meski program KKN telah selesai,” ujar Nita Kumala Sari, mahasiswa KKN IDBU UNDIP di Desa Tumbrep, Dukuh Buntit.
Selain edukasi soal HPP, mahasiswa KKN IDBU 50 juga mengenalkan Griyo POS, sebuah aplikasi kasir berbasis digital yang dirancang khusus untuk UMKM. Aplikasi ini dapat membantu pelaku usaha mencatat transaksi penjualan, mengelola stok barang, hingga membuat laporan keuangan sederhana.
Kegiatan ini menjadi lebih relevan karena Bu Ulfi sedang dalam tahap persiapan membuka warung UMKM miliknya. Dengan adanya pendampingan ini, ia merasa lebih siap menjalankan usahanya secara tertib dan efisien.
Melalui kegiatan ini, tim KKN IDBU 50 berharap pelaku UMKM di Dukuh Buntit dapat mulai terbiasa menerapkan pencatatan usaha secara digital serta mampu menghitung harga jual produk secara rasional dan kompetitif. Harapannya, keterampilan ini tidak hanya bermanfaat saat program KKN berlangsung, tetapi juga dapat terus digunakan secara mandiri untuk mendukung pertumbuhan usaha lokal di masa depan.
Penulis: Nita Kumala Sari, Mahasiswa Jurusan Akuntansi Perpajakan, Sekolah Vokasi, Universitas Diponegoro








