JATENGKU.COM, SEMARANG — Pada tahun 2025, wilayah Kelurahan Pudakpayung tercatat memiliki delapan anak stunting. Anak yang stunting memerlukan pendekatan khusus berupa pendekatan keluarga. Pendekatan keluarga dinilai memiliki manfaat dalam menjaga privasi karena sebagian keluarga malu dengan kondisi yang dialami oleh anaknya.
Tim KKN T 110 Undip menginisiasikan untuk melakukan pendekatan keluarga, berupa visitasi door to door. Tim KKN T 110 Undip yang berjumlah 12 orang, dibagi menjadi 6 kelompok, sehingga dalam satu kelompok terdiri atas dua orang. Visitasi dan monitoring ini dilakukan selama dua minggu, sejak tanggal 20 Juli-3 Agustus 2025.
Visitasi ini terbagi menjadi beberapa pertemuan. Pertemuan pertama, anggota tim KKN-T 110 akan melakukan pengukuran antropometri, pengambilan data untuk tingkat pengetahuan ibu pengasuh terkait stunting, penjelasan tentang penggunaan website SIGAP sebagai monitoring food diary pada anak, serta pendekatan protein hewani dalam rangka pencegahan stunting.
Pendekatan protein hewani yang di inovasikan adalah “Stik Kembung- Ku”. Stik Kembung-Ku diharapkan mampu menjadi inovasi bagi ibu-ibu ataupun kader untuk membuat PMT dan camilan yang lebih menarik.
Hasil dari pertemuan pertama, sejumlah enam ibu memiliki tingkat pengetahuan stunting yang baik yaitu sekitar 80-90%, oleh karena itu untuk visitasi kedua, tanggal 27 Juli 2025 dilakukan penjelasan terkait pentingnya PHBS serta memantau asupan gizi melalui pengisian food diary dalam upaya pencegahan stunting.
Hasil menunjukkan bahwa ke enam ibu mengisi food diary secara lengkap dan keluarga sudah melakukan variasi menu makanan. Namun, pada salah satu food diary ditemukan adanya keluarga yang terbiasa untuk mengkonsumsi ultra food process. Selain itu, di pertemuan kedua juga dilakukan pemeriksaan HB pada anak stunting dan didapatkan tiga anak memiliki HB < 10 g/dL. Kondisi ini tidak luput untuk di edukasi oleh anggota tim KKN-T 110 Undip.
Tantangan pada setiap keluarga dengan anak stunting berbeda-beda. Ada beberapa anak yang aktif, juga ada anak yang mengalami kekurangan gizi kronis karena TB Paru. Oleh karenanya, di akhir pertemuan Tim KKN-T 110 menggandeng sponsorship SUN untuk membagikan PMT.
Pelengkap program visitasi ini, juga dilakukan dengan melakukan seminar pada ibu-ibu kader. Pada hari Rabu (6/8/2025) telah mengadakan Seminar yang bertempat di Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Semarang. Seminar tersebut ditujukan untuk memberikan edukasi terhadap ibu ibu kader di Kelurahan Pudakpayung dalam upaya merealisasikan tindak pencegahan terhadap masifnya stunting.
Stunting sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah kondisi terganggunya pertumbuhan dan perkembangan pada anak, yang diakibatkan oleh kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. Anak anak yang terindikasi stunting, dapat dilihat dari perawakan mereka yang memiliki tinggi badan kurang dari standar deviasi. Adapun di Kelurahan Pudakpayung, terdapat Delapan anak yang teridentifikasi stunting.
Ketua Kelompok 1, Tim 110 KKN T UNDIP, Adjie Ihsan, menjelaskan bahwa keberadaan stunting, dapat menjadi hambatan serius bagi berjalannya SDG(s) di skala komunitas. “ SDG(s) atau pembangunan berkelanjutan, berupaya mendorong pembangunan yang kontinu di berbagai bidang, termasuk dalam pembangunan sumber daya manusia. Stunting adalah bahaya laten untuk berjalannya pembangunan SDM . Atas dasar itu, maka seminar ini diadakan untuk membentuk kesadaran kolektif atas bahaya stunting bagi SDG(s) .
Selain itu, Rina Putri, selaku PJ seminar juga menambahkan. “Ibu-Ibu Kader mulai dari Kader FKK, PKK, Posyandu hingga satgas stunting, merupakan garda utama bagi kelurahan dalam melaksanakan tindak preventif bagi keberadaan stunting. Maka dari itu, sosialisasi dan edukasi mendalam tentang stunting dan tindak pencegahannya adalah hal yang wajib disiarkan kepada mereka.
Seminar yang bertajuk “Pemberdayaan Keluarga dan Masyarakat Dalam Penurunan Stunting di Komunitas” tersebut, diawali dengan materi tentang bahaya laten stunting bagi pembangunan berkelanjutan atau SDG(s). Seminar kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang pengenalan stunting secara kompleks mulai dari definisinya, penyebabnya, cara pencegahan hingga ditutup dengan pemetaan peran ibu kader dalam upaya pencegahan stunting berskala komunitas di Kelurahan Pudakpayung.
Pasca pemaparan materi, seminar kemudian dilanjutkan dengan SGD ( Small Group Discussion ). Tahapan SGD diawali dengan pembentukan ibu ibu kader menjadi Tiga kelompok kecil dengan masing masing anggota didalamnya Sembilan orang. Tiap kelompok kecil tersebut akan diberikan sebuah studi kasus yang berkaitan erat dengan stunting. Ibu Ibu Kader kemudian diminta berdiskusi dan selanjutnya mempresentasikan temuan atau penyelesaian dari studi kasus yang telah diberikan.

Keberlangsungan seminar dapat dikatakan berjalan dengan baik dan amat lancar. Seminar yang menggandeng serta Kelurahan Pudakpayung dan menghadirkan serta Dosen Pembimbing Lapangan Tim 110 UNDIP, yakni Ibu Arwinda Nugraheni, amat disambut baik oleh Ibu Ibu kader yang menjadi audiensnya.
Ibu Tuti, koor Satgas Stunting Kelurahan Pudakpayung, mengatakan jika seminar ini sedikit banyaknya telah memberi kebermanfaatan. “ Berterima kasih ke adik adik mahasiswa, karena lewat acara ini, ibu ibu jadi banyak tahu soal stunting dan kaitannya dengan pembangunan sumber daya manusia’’ terangnya.
Kegiatan seminar ini merupakan salah satu dari rangkaian program kerja di multidisiplin 1 oleh Kelompok 1 KKN T 110 UNDIP. Berangkat dari topik yang sama, yakni perihal peningkatan pemberdayaan keluarga dan masyarakat dalam upaya penurunan stunting, seminar ini berupaya untuk merealisasikan pokok pokok topik tersebut, serta mengintegrasikannya menjadi sebuah acara seminar atau edukasi kepada ibu ibu kader.
Kelompok 1 KKN T 110 UNDIP berharap, semoga kegiatan kegiatan semacam ini, dapat membawa kebermanfaatan bagi pencegahan stunting di Pudakpayung, sekaligus mampu menjadi suksesor bagi kontinuitas Pembangunan Berkelanjutan atau SDG(s).











