UMKM Go Digital: Bagaimana QRIS mendorong penju...

UMKM Go Digital: Bagaimana QRIS mendorong penjualan UMKM di lingkungan UNNES

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Semarang – Sistem Quick Response Code Indonesian Standard atau yang lebih dikenal dengan QRIS menjadi metode pembayaran digital yang berkembang pesat dalam satu tahun terakhir. Penggunaan QRIS kini semakin membantu pelaku UMKM di sekitar Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam meningkatkan penjualan melalui pembayaran non tunai yang lebih cepat dan praktis. Maraknya penggunaan teknologi QRIS juga dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis digital.

Mendukung Transformasi Digital bagi UMKM

Penerapan QRIS tidak hanya menguntungkan penjual dan pelanggan, tetapi juga mendukung transformasi digital di kalangan UMKM. Di era digital saat ini, adaptasi terhadap teknologi dianggap penting untuk meningkatkan daya saing bisnis dan kualitas layanan.

Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Rasyid Ridlo dkk. (2025), yang menyatakan bahwa penggunaan QRIS mampu meningkatkan efisiensi transaksi, mempercepat proses pembayaran, mengurangi ketergantungan pada uang tunai, serta membantu UMKM dalam pengelolaan keuangan digital.

Meningkatnya penggunaan QRIS di kalangan UMKM di sekitar UNNES juga berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 8, yang berfokus pada pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi. Dengan mengadopsi sistem pembayaran digital, UMKM dapat meningkatkan produktivitas, meningkatkan penjualan, dan mendukung pembangunan ekonomi lokal.

Selain itu, implementasi QRIS juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 9, yang berfokus pada industri, inovasi, dan infrastruktur. Penggunaan teknologi pembayaran digital mencerminkan bagaimana UMKM beradaptasi dengan inovasi dan sistem bisnis modern di era digital.

Kesulitan Sebelum Menggunakan QRIS

Sebelum menggunakan QRIS, banyak UMKM masih sepenuhnya mengandalkan pembayaran tunai. Hal ini sering menimbulkan masalah pada jam-jam sibuk, terutama ketika penjual tidak memiliki uang kembalian yang cukup untuk pelanggan. Akibatnya, transaksi menjadi lebih lambat dan kurang efisien.

Salah satu UMKM yang mengalami situasi ini adalah Warung Bakso Bakar “Mas Bolot”, sebuah warung makan populer di dekat kawasan UNNES yang menjual bakso bakar, sosis, tahu, dan camilan lainnya. Sebagian besar pelanggannya adalah mahasiswa.

Menurut pemiliknya, banyak mahasiswa lebih memilih warung yang sudah menyediakan opsi pembayaran digital. Pelanggan terkadang ragu untuk membeli produk karena tidak membawa uang tunai yang cukup.

UMKM Go Digital: Bagaimana QRIS mendorong penjualan UMKM di lingkungan UNNES
Warung Soto Seger Cempakasari di kawasan UNNES. Foto: Dokumentasi Pribadi

Pengalaman serupa juga dialami oleh penjual Soto Seger Cempakasari. Sebelum menggunakan QRIS, beberapa pelanggan menanyakan apakah tersedia pembayaran digital, namun akhirnya membatalkan pembelian mereka setelah mengetahui bahwa hanya pembayaran tunai yang diterima.

“Sering ada yang nanyain, terus pas tau gaada QRIS, pada gajadi beli”, jelas penjual tersebut.

Transaksi Lebih Cepat dan Penjualan Lebih Tinggi

Setelah menerapkan QRIS, kedua UMKM tersebut mengalami perubahan signifikan dalam bisnis mereka. Transaksi menjadi lebih cepat karena penjual tidak perlu lagi menyiapkan uang kembalian saat jam-jam sibuk. Proses pembayaran juga menjadi lebih praktis bagi pelanggan.

Bagi Bakso Bakar Mas Bolot, dampaknya terlihat jelas dari peningkatan omzet penjualan. Selama dua tahun terakhir, bisnis ini mengalami kenaikan pendapatan yang signifikan setelah mengadopsi QRIS.

“Ya, penjualan lebih banyak saat menggunakan QRIS, karena kan jualan di sekitar kampus yang mayoritasnya mahasiswa, jadi pakai QRIS ini sangat membantu” kata pemiliknya.

Selain meningkatkan efisiensi, QRIS juga membantu menarik lebih banyak pelanggan, terutama mahasiswa yang sudah terbiasa dengan sistem pembayaran digital.

Penjual Soto Seger Cempakasari juga merasakan manfaat serupa. Ketersediaan QRIS mengurangi kemungkinan kehilangan pelanggan karena pembayaran kini dapat dilakukan dengan mudah melalui smartphone.

“Lebih cepat dan ringkas juga,” tambahnya.

Mahasiswa Menyambut Baik Pembayaran Non-Tunai

UMKM Go Digital: Bagaimana QRIS mendorong penjualan UMKM di lingkungan UNNES
Mahasiswa bertransaksi menggunakan QRIS. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Meningkatnya penggunaan QRIS juga mendapat tanggapan positif dari mahasiswa di sekitar UNNES. Bagi banyak mahasiswa, pembayaran digital telah menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari mereka karena lebih cepat dan praktis.

Seorang mahasiswa menyatakan, “Menggunakan QRIS sangat memudahkan dan praktis.”

Hanya dengan smartphone, mahasiswa dapat melakukan transaksi tanpa perlu membawa uang tunai saat mengikuti perkuliahan atau kegiatan kampus.

Secara keseluruhan, penggunaan QRIS memberikan dampak positif bagi perkembangan UMKM di sekitar lingkungan UNNES. Kehadiran sistem pembayaran digital ini tidak hanya mempermudah proses transaksi, tetapi juga membantu meningkatkan penjualan, efisiensi, dan daya saing pelaku usaha di era modern. Dengan semakin banyaknya mahasiswa yang terbiasa menggunakan pembayaran non tunai, QRIS menjadi solusi yang relevan dan efektif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital di tingkat lokal. Adaptasi teknologi seperti ini menunjukkan bahwa UMKM mampu berkembang mengikuti perubahan zaman sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Meski dimulai dari skala kecil di sekitar kampus, transformasi ini mencerminkan pergeseran yang lebih besar dalam cara masyarakat bertransaksi dan berbisnis di era digital.

Profil Penulis

  1. Najwa Salsabila Sajida
  2. Nadya Shofa Anniha
  3. Shofi Aulia Khoirunnisa
  4. Rafif Maula Achsan
  5. Gusti Ayu Balqis
  6. Salma Arie Nurkhosyia
  7. Galuh Ayunda Dwiyana Putri

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan