JATENGKU.COM, Jakarta — Saya sempat ragu. Waktu pertama kali dengar istilah “pasar modal syariah”, reaksi pertama saya bukan “oh, menarik,” tapi lebih ke, “Ini cuma marketing agama, ya?” Seperti produk biasa yang diberi label halal supaya lebih laku untuk kelompok orang tertentu. Tapi satu percakapan dengan teman mengubah cara saya melihatnya. Dia baru mulai investasi saham, semangat banget, sampai tiba-tiba dia berhenti dan bertanya pelan: “Eh, tapi bisnis apa sebenarnya yang gue biayai?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi saya tidak bisa langsung jawab. Dan dari situ saya mulai belajar lebih serius bukan karena urusan agama semata, tapi karena pertanyaan teman saya itu ternyata menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pilihan instrumen investasi.
Bukan Soal Label Halal. Ini Soal Cara Kerja Sistemnya
Kesalah pahaman terbesar tentang pasar modal syariah adalah menganggapnya sekadar “versi religius” dari investasi biasa. Sama saja, cuma ada cap halalnya. Padahal yang membedakannya justru ada di dalam cara sistemnya dirancang.
Ada tiga larangan pokok. Riba, yaitu bunga yang tidak tumbuh dari aktivitas produktif nyata. Gharar, kontrak yang tidak jelas dan membuka celah manipulasi. Dan maysir, spekulasi murni tanpa aset nyata di bawahnya. Tiga hal itu bukan sekadar pantangan moral. Secara ekonomi, ketiganya adalah bahan bakar dari hampir semua krisis keuangan besar yang pernah terjadi. Bubble dot-com 2000. Krisis subprime mortgage 2008 dan ambruknya banyak berspekulasi. Berbagai instrument keuangan yang diperdagangkan semakin jauh dari nilai riilnya, sementara kontrak dan resikonya sendiri tidak transparan. Ketika kepercayaan hilang, seluruh sistem ikut terguncang.
Seorang ahli ekonom dari Rice University, yang bernama Mahmoud El-Gamal beliau menulis dalam “Islamic Finance: Law, Economics, and Practice” (2006) bahwa larangan gharar dan maysir pada dasarnya memaksa pasar syariah untuk selalu terikat pada ekonomi riil. Investor tidak bisa menaruh uang pada sesuatu yang tidak ada. Harus ada aset nyata di baliknya, itulah kenapa instrumen syariah cenderung lebih konservatif, dan justru konservatif itulah yang membuatnya lebih tangguh saat badai datang.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyampaikannya langsung dalam kuliah umum di Universitas Syiah Kuala, Oktober 2025 “Saham merupakan instrumen investasi yang sah, bahkan dalam perspektif syariah telah memperoleh legitimasi dari DSN-MUI melalui fatwanya. Masyarakat Muslim dapat berinvestasi dengan cara yang halal, sesuai prinsip syariah, sekaligus meraih keuntungan finansial yang optimal.”
Dan angkanya berbicara sendiri. Per Kuartal I 2025, pasar modal syariah tumbuh 4,7% secara tahunan sementara pasar modal nasional secara keseluruhan hanya tumbuh 1,4% di periode yang sama (KNEKS, 2025). Hingga akhir Agustus 2025, kapitalisasi pasar syariah sudah menyentuh Rp8.856,95 triliun, setara 62,55% dari total kapitalisasi pasar modal nasional. Lebih dari separuh. Bukan karena kebijakan afirmatif. Tapi karena investor memang mulai memilihnya.
268% Dalam Lima Tahun dan Yang Termasuk Bukan Orang Tua
Kalau ada satu angka yang paling mengejutkan dalam riset saya untuk tulisan ini, bukan soal total aset syariah yang menembus ribuan triliun. Tapi ini jumlah investor saham syariah meningkat pesat 268% dalam lima tahun terakhir hingga November 2024. Dan bukan investor senior berpengalaman yang mendorongnya. Tapi anak muda di bawah 30 tahun. Mereka adalah generasi yang terbiasa riset dulu sebelum beli apa pun. Yang tumbuh dengan kesadaran bahwa pilihan termasuk pilihan investasi punya konsekuensi. Bukan cuma ke kantong mereka sendiri, tapi ke dunia di luar sana.
Total investor pasar modal Indonesia pada Juli 2025 sudah menyentuh 17.016.329 Single Investor Identification (SID). Naik dari 14.871.639 SID di akhir 2024. Dari jumlah itu proporsi yang memilih instrumen syariah terus bertambah tiap kuartalnya. Pemerintah membaca tren ini dan bergerak, distribusi sukuk ritel dan ETF syariah diperluas lewat platform digital yang mudah diakses siapa saja. Hasilnya tidak tanggung-tanggung dukungan investor ritel terhadap Sukuk Negara Ritel bahkan mencapai 150% dari target penerbitan awal.
Seorang ahli Ekonom dari Center for Sharia Economic Development (CSED) INDEF sekaligus Wakil Rektor Universitas Paramadina yang bernama Dr. Handi Risza, beliau mencatat dalam tulisannya sepanjang 2025, Indonesia membukukan investasi halal tertinggi di dunia sebanyak 40 transaksi yang nilainya sebesar USD 1,6 miliar sepanjang 2023, mencakup makanan halal, kosmetik, farmasi, teknologi, hingga gaya hidup Muslim. Menurutnya, ini bukan sekadar angka. Ini bukti bahwa ekosistem halal Indonesia sudah masuk arus utama ekonomi global, bukan lagi pinggiran.
Saya membaca itu dan terdiam sebentar. Negara dengan ekosistem investasi syariah yang saya dulu anggap “cuma label” ternyata sudah diakui dunia.
Tiga Instrumen Dijelaskan Tanpa Bertele-tele
Yang sering menghalangi orang masuk ke pasar modal syariah bukan rasa tidak percaya. Tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi saya coba menjelaskan tiga instrumen utamanya sesingkat mungkin.
Yang pertama Saham Syariah. Dari perusahaan yang sudah lulus seleksi ketat OJK. Setiap Mei dan November, OJK menerbitkan Daftar Efek Syariah (DES) semacam daftar putih yang menjamin kamu tidak akan tanpa sadar mendanai bisnis perjudian, minuman keras, atau pinjaman rentenir. Per DES Periode I 2025, ada 665 saham yang masuk daftar berdasarkan Keputusan OJK Kep-28/D.04/2025. Jakarta Islamic Index (JII), yang berisi 30 saham syariah paling likuid, mencatatkan kenaikan 22,13% sepanjang 2025.
Yang kedua Sukuk. Kalau obligasi konvensional membayar bunga, sukuk membayar imbal hasil dari aset nyata bagi hasil sewa, keuntungan jual beli, dan sejenisnya. Pemerintah rutin menerbitkan Sukuk Tabungan (ST) dan Sukuk Ritel (SR) yang bisa dibeli dengan modal sangat terjangkau. IBPA Government Sukuk Index tumbuh 10,76% sepanjang 2025. Indonesia kini ada di posisi ketiga terbesar penerbit sukuk global, di bawah Arab Saudi dan Malaysia saja.
Yang ketiga Reksa Dana Syariah. Pilihan terbaik buat yang baru mulai. Dananya dikelola manajer investasi profesional, hanya ditempatkan di instrumen syariah, dan sepenuhnya diawasi OJK. Tidak perlu riset panjang. pilih produk, tentukan nominal, selesai.
Soal Ketahanannya Ini Bukan Klaim, Ada Datanya
Wajar kalau masih ada yang skeptis. Kalau semua instrumen keuangan terhubung ke pasar global, bagaimana mungkin pasar syariah bisa lebih tahan dari guncangan?
Saya pun pernah skeptis dengan pertanyaan yang sama.
Jawabannya ada di dua hal yang saling memperkuat. Pertama, karena larangan spekulasi, saham-saham dalam DES hampir semuanya dari perusahaan sektor riil. Bukan perusahaan berbasis derivatif kompleks yang nilainya bisa raib dalam semalam ketika sentimen pasar berbalik. Gelembung finansial sulit terbentuk kalau setiap investasi harus ada aset nyata di bawahnya.
Kedua, sukuk tidak mengikuti gerakan suku bunga bank sentral seperti obligasi konvensional. Di sepanjang 2025, ketika Federal Reserve masih bermanuver dan mengguncang pasar obligasi global, pasar sukuk pemerintah Indonesia justru tumbuh konsisten.
Jurnal Islamic Economic yang diterbitkan Yayasan Ummul Quro Jember (Vol. 1, No. 1, Januari 2026) menyimpulkan hal ini dari kajian empirisnya, prinsip bagi hasil dan keterkaitan dengan sektor riil secara intrinsik membentuk mekanisme penahan risiko yang berbeda dari sistem konvensional. Bukan sekadar argumen normatif ini temuan dari data yang bisa diverifikasi.
Ada PR Yang Belum Selesai dan Saya Tidak Mau Pura-pura Tidak Tahu
Saya tidak sedang menulis iklan untuk pasar modal syariah. Kalau tulisan ini terasa terlalu promosi, tolong koreksi saya.
Karena faktanya, ada masalah yang nyata dan belum selesai.
Tingkat literasi keuangan syariah Indonesia memang sudah mencapai 43,42% menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK 2025. Tapi angka inklusinya yang benar-benar bertransaksi baru sekitar 13%. Jarak antara tahu dan melakukan masih sangat menganga. Banyak orang paham konsepnya, tapi belum merasa instrumen yang ada cukup mudah atau cukup menguntungkan untuk dicoba.
Ada juga soal standar internasional. Standar akuntansi dari AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions) belum kompatibel penuh dengan IFRS yang dipakai sebagian besar investor global. Ini bukan hal kecil ketidak cocokan standar bisa bikin investor institusional asing ragu masuk, dan itu artinya potensi besar yang belum tergarap.
OJK sudah bergerak. Komite Pengembangan Keuangan Syariah (KPKS) dibentuk untuk memperkuat tata kelola. Pada 2025, POJK 8 Tahun 2025 tentang Penerbitan Daftar Efek Syariah diterbitkan untuk memperjelas kriteria DES agar lebih transparan, arahnya benar, tapi pelaksanaannya butuh waktu dan itu jujur harus diakui.
Balik ke Pertanyaan Teman Saya
Di awal tulisan ini saya cerita soal teman yang tiba-tiba bertanya, bisnis apa sebenarnya yang dia biayai?
Saya tidak pernah kasih dia jawaban panjang waktu itu. Saya hanya bilang coba cek daftar efek syariah, dari situ kamu bisa lihat sendiri mana yang bisa dipilih dengan tenang. Tapi pertanyaan itu terus terngiang-ngiang, dan semakin saya pelajari topik ini, semakin saya yakin bahwa pertanyaan itu seharusnya ditanyakan lebih kebanyak investor bukan cuma hanya ke yang muslim, dan bukan cuma hanya ke yang religius, tetapi siapa saja yang mulai sadar bahwa uang yang mereka investasikan punya dampak nyata di luar sana.
Uang yang diinvestasikan pada saham Perusahaan alcohol ikut menduukung kegiatan dan produksi perusahaan tersebut. Uang yang mengalir ke instrumen spekulatif sering kali hanya memperbesar gejolak pasar yang merugikan investor kecil. Sebaliknya, uang yang ditempatkan pada sukuk infrastruktur membantu membiayai Pembangunan jalan, sekolah, dan klinik yang memberikan manfaat nyata bagi Masyarakat.
Laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia dalam Global Islamic Economic Indicator. Indonesia juga berhasil menduduki peringkat pertama dunia pada sektor modest fashion (busana muslim), mengungguli negara-negara pesaing lainnya. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyampaikannya dalam peluncuran Laporan SGIE 2024/2025: “Kalau kita bersinergi, saling memperkuat, dan menyatukan potensi yang tersebar di berbagai sektor, ekonomi syariah Indonesia bukan hanya akan tumbuh, tetapi bisa menjadi kekuatan utama di tingkat global.
Saya tidak akan tutup tulisan ini dengan kalimat motivasi tentang betapa strategisnya posisi kita sebagai mahasiswa UIN. Itu terlalu klise dan kita semua sudah hafal bunyinya.
Yang ingin saya sampaikan cuma satu coba mulai. Rp1.000.000 bisa masuk Sukuk Tabungan. Satu lot saham dari perusahaan yang kamu percaya bisnisnya bisa dibeli dari aplikasi di ponselmu hari ini, tidak perlu tunggu paham semuanya dulu.
Karena investasi yang baik bukan cuma yang paling menguntungkan. Tapi yang paling bisa kamu pertanggung jawabkan kepada diri sendiri, dan kepada pertanyaan sederhana teman saya itu.

