JATENGKU.COM, Semarang – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) Universitas Diponegoro berhasil meraih pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kemendiktisaintek, Jumat (22/5/2026).
Tim PKM-VGK tersebut mengusung gagasan berjudul “Inovasi Sistem Kawasan Pengolahan Sampah Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular dan Valorisasi sebagai Tahapan Menuju Kemandirian Energi Indonesia 2045” melalui inovasi bernama RECULA.
Tim PKM-VGK ini terdiri atas Naurah Safa Labibah (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Muhammad Rafly Andika Putra (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Aulia Keyla Chairunnisa (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), Faishal Rahman Irawan (Fakultas Teknik), dan Loisa Margaret Ambarita (Fakultas Sains dan Matematika), dengan Dosen Pendamping Yohanes Thianika Budiarsa, S.I.Kom., MGMC.

Naurah Safa Labibah, Ketua PKM-VGK Undip, menyampaikan bahwa inovasi RECULA dilatarbelakangi oleh persoalan krisis sampah di Indonesia yang tidak hanya menumpuk di tempat pembuangan akhir, tetapi juga memunculkan dampak lanjutan berupa pencemaran lindi, mikroplastik, hingga emisi gas rumah kaca.
“Permasalahan sampah di Indonesia bukan hanya soal tumpukan sampah, tetapi juga soal sistem pengelolaan yang belum terintegrasi. Karena itu, RECULA kami rancang sebagai model kawasan pengolahan sampah terpadu yang tidak hanya mengolah limbah, tetapi juga mengubahnya menjadi sumber daya dan energi,” ujarnya.
Naurah juga mengatakan RECULA hadir sebagai gagasan sistem kawasan pengolahan sampah terintegrasi yang dirancang untuk mengatasi persoalan sampah secara lebih menyeluruh. Sistem ini tidak hanya berfokus pada pengurangan timbunan sampah, tetapi juga menghubungkan pengolahan lindi, penanganan mikroplastik, pemanfaatan plastik, hingga produksi energi dalam satu alur yang saling terintegrasi.

“RECULA kami rancang sebagai sistem yang tidak berhenti pada pengelolaan sampah semata, tetapi juga mendorong pemanfaatan kembali limbah menjadi sumber daya yang bernilai. Jadi, pendekatannya bukan hanya membersihkan, melainkan juga mengolah dan mengembalikan nilai dari limbah itu sendiri,” jelasnya.
Ia menjelaskan, RECULA dibangun melalui empat modul utama. Pertama, pengolahan lindi dengan anaerobic digestion untuk menghasilkan biogas sebagai sumber energi. Kedua, sistem penyaringan bertahap untuk menangani sampah sungai dan mikroplastik. Ketiga, pemanfaatan biogas melalui direct thermal coupling untuk mendukung proses pengolahan plastik menjadi produk bernilai guna. Keempat, pengolahan residu melalui fitoremediasi agar hasil samping pengolahan dapat dimanfaatkan kembali secara lebih aman dan berkelanjutan.
Menurut Naurah, RECULA tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga mendorong terbentuknya model ekonomi sirkular di kawasan pengolahan sampah. Melalui sistem ini, limbah diupayakan tidak berhenti sebagai residu, melainkan diolah menjadi keluaran yang memiliki nilai tambah, seperti energi maupun produk hasil olahan lain yang dapat dimanfaatkan kembali.
Ia menambahkan implementasi RECULA dirancang secara bertahap dalam jangka satu hingga lima tahun, mulai dari pengembangan prototipe dan pengujian awal, integrasi antarmodul, hingga penyusunan standar operasional dan replikasi sistem pada kawasan TPA prioritas di Indonesia.
“Kami berharap RECULA tidak hanya menjadi gagasan dalam PKM-VGK, tetapi juga dapat menjadi langkah awal menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya.
Informasi dan perkembangan RECULA dapat diikuti melalui Instagram, TikTok, dan kanal YouTube @recula.undip.
Penulis: Naurah Safa Labibah
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Diponegoro
