JATENGKU.COM, GROBOGANMahasiswa KKN-T UNDIP TIM 116 pada Desa Kalangdosari memiliki program KALAS (Kalangdosari Lawan Stunting) dengan salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu pengolahan sampah organik dan anorganik demi mewujudkan desa yang bersih, sehat, dan tentunya anti stunting.

Melalui program tersebut mengedepankan kebersihan desa sebagai wujud pencegahan stunting, dengan menciptakan desa yang bersih maka salah satu aksi dalam pencegahan stunting dapat terwujudkan.

Organik

Dalam Pengolahan Sampah Anorganik Untuk Lingkungan Sehat Anti Stunting ada beberapa program kerja yang terlaksana pada Desa Kalangdosari dengan menciptakan sebuah barang yang berguna dari sampah anorganik, alat pembakaran sampah minim asap (ALPAS), Inovasi Paving Block dari Sampah Plastik.

Dengan mewujudkan program tersebut dalam Desa Kalangdosari dapat menjadikan Desa yang sehat dan Lingkungan yang bersih untuk mencegah Stunting dari kegiatan awalnya yaitu menjaga lingkungan bersih dan desa yang sehat

Ketua Program Kerja, Putri, menyampaikan dengan adanya program multidisiplin 2, lingkungan dan udara menjadi lebih sehat sehingga risiko penyakit menurun dan mencegah terjadinya stunting pada anak karena lingkungan yang tidak bersih. Maka dengan terwujudnya program tersebut pada Desa Kalangdosari dapat menjadi Desa yang Sehat, Bersih, dan dapat Tercegahnya Stunting.

Anorganik

Selain itu, Tim KKN-T UNDIP 116 (KALAS) yang beranggotakan 9 mahasiswa lintas jurusan hadir di Desa Kalangdosari, Kecamatan Ngaringan, dengan misi ganda: mengatasi persoalan sampah dan mendukung pencegahan stunting. Fokus utama program kali ini adalah pengelolaan sampah anorganik, yang kerap menjadi masalah lingkungan karena sulit terurai.

Melalui inovasi pengolahan dan pemanfaatan kembali, tim berupaya mengubah sampah plastik, kaca, dan logam menjadi produk bernilai guna yang tidak hanya menjaga kebersihan desa, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.

Kegiatan dimulai dengan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya penumpukan sampah anorganik yang dapat mencemari lingkungan, memicu penyakit, dan menghambat terciptanya lingkungan sehat. Mahasiswa mengajarkan metode reduce, reuse, recycle, hingga upcycle, termasuk pelatihan pembuatan paving block dari sampah plastik dan kerajinan rumah tangga dari limbah anorganik. Produk-produk tersebut diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan tambahan, yang secara tidak langsung membantu peningkatan gizi keluarga dan menekan risiko stunting pada anak.

Dengan semangat kolaborasi, Tim KKN-T UNDIP 116 (KALAS) menggandeng perangkat desa, kader posyandu, dan warga untuk menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan produktif. Harapannya, program ini tidak berhenti saat KKN usai, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang menjadikan Desa Kalangdosari sebagai desa percontohan dalam pengelolaan sampah anorganik berbasis pemberdayaan masyarakat untuk mendukung generasi bebas stunting.

Kolaborasi

Suasana Desa Kalangdosari belakangan ini terasa berbeda. Bukan tanpa alasan, sembilan mahasiswa lintas jurusan dari Universitas Diponegoro yang tergabung dalam Tim KKN-T 116 (KALAS) hadir dengan misi besar: melawan stunting melalui gerakan pengolahan sampah organik dan anorganik. Program ini mengusung konsep Kalangdosari Lawan Stunting (KALAS) yang mengedepankan kebersihan lingkungan sebagai langkah awal menciptakan desa sehat dan bebas stunting.

“Dengan menciptakan desa yang bersih, salah satu aksi pencegahan stunting dapat diwujudkan,” ujar Putri (Ketua Program Kerja) yang menekankan bahwa lingkungan sehat berarti udara bersih, risiko penyakit berkurang, dan tumbuh kembang anak lebih optimal.

Dalam pengolahan sampah organik, tim menghadirkan inovasi seperti Alat Pembakaran Sampah Minim Asap (ALPAS) serta teknologi pembuatan paving block dari sampah plastik. Tidak hanya mengurangi volume sampah, program ini juga memberi nilai tambah melalui produk bermanfaat yang dapat digunakan kembali oleh warga.

Sementara itu, fokus besar juga diberikan pada sampah anorganik yang selama ini menjadi masalah klasik di desa. Limbah plastik, kaca, dan logam diolah menjadi produk bernilai guna, mulai dari kerajinan rumah tangga hingga bahan bangunan ramah lingkungan. Melalui metode reduce, reuse, recycle, dan upcycle, mahasiswa mengajarkan warga cara mengubah sampah menjadi peluang ekonomi.

Tak hanya berhenti pada pelatihan, tim KALAS juga melakukan sosialisasi tentang bahaya penumpukan sampah yang dapat mencemari tanah, air, dan udara. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kesehatan masyarakat, terutama anak-anak.

Dengan menggandeng perangkat desa, kader posyandu, dan warga, program ini bergerak sebagai gerakan kolaboratif. Harapannya, setelah masa KKN berakhir, Kalangdosari tetap menjadi desa yang bersih, sehat, dan menjadi percontohan pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat mendukung cita-cita besar: generasi bebas stunting.

Editor: Handayat