JATENGKU.COM, Semarang — Mahasiswa PPL Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) gempa bumi yang diikuti oleh siswa kelas 4A dan 4B di SDN Pedurungan Kidul 02 pada Senin 6 April 2026). Kegiatan ini merupakan salah satu upaya strategis dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, serta kesiapsiagaan siswa terhadap potensi bencana alam, khususnya gempa bumi, sejak usia sekolah dasar.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk implementasi pendidikan kebencanaan di lingkungan sekolah yang bertujuan untuk membangun budaya siaga bencana secara berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, siswa tidak hanya diberikan pemahaman secara teoritis, tetapi juga diajak untuk memahami kondisi nyata serta melakukan simulasi langsung agar mampu merespons dengan tepat ketika menghadapi situasi darurat.
Materi sosialisasi yang disampaikan mencakup pengenalan dasar tentang gempa bumi, proses terjadinya gempa, faktor penyebab, serta dampak yang dapat ditimbulkan terhadap lingkungan, bangunan, dan keselamatan manusia. Selain itu, mahasiswa PPL UPGRIS juga menekankan pentingnya mitigasi bencana yang dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu sekolah dan keluarga.
Koordinator mahasiswa PPL UPGRIS, menyampaikan bahwa edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak dini karena anak-anak merupakan kelompok yang membutuhkan pemahaman dasar agar tidak panik ketika menghadapi situasi darurat.
“Kami berupaya memberikan pemahaman sekaligus pengalaman langsung kepada siswa agar mereka terbiasa menghadapi situasi darurat dengan tenang, terarah, dan sesuai prosedur keselamatan,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan metode interaktif, di mana mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi satu arah, tetapi juga melibatkan siswa dalam diskusi ringan, tanya jawab, serta pemberian contoh situasi nyata yang mungkin terjadi saat gempa bumi. Hal ini membuat siswa kelas 4A dan 4B terlihat aktif, antusias, dan responsif selama kegiatan berlangsung.
Setelah sesi penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan simulasi gempa bumi di lingkungan sekolah. Simulasi ini dirancang menyerupai kondisi nyata agar siswa dapat memahami secara langsung langkah-langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi. Dalam simulasi tersebut, siswa dilatih melakukan prosedur keselamatan drop, cover, and hold on, yaitu segera berlindung di bawah meja, melindungi kepala dengan tangan atau benda yang tersedia, serta bertahan hingga kondisi dinyatakan aman.
Tidak hanya itu, siswa juga diarahkan untuk melakukan evakuasi mandiri secara tertib menuju titik kumpul yang telah ditentukan oleh pihak sekolah. Proses evakuasi dilakukan melalui jalur evakuasi yang telah disiapkan sebelumnya, sehingga siswa dapat memahami alur penyelamatan secara sistematis, terstruktur, dan aman.
Selama simulasi berlangsung, mahasiswa PPL UPGRIS turut mendampingi setiap kelompok siswa untuk memastikan kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan sesuai prosedur mitigasi bencana. Suasana kegiatan terlihat aktif namun tetap terkontrol, dengan siswa mengikuti setiap instruksi secara serius.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari pihak sekolah karena dinilai sangat relevan dalam membangun kesiapsiagaan bencana sejak dini. Guru kelas menyampaikan bahwa pembelajaran berbasis praktik seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya penyampaian teori di dalam kelas, karena siswa dapat langsung mempraktikkan tindakan yang benar dalam kondisi simulasi.
“Anak-anak tidak hanya mendengar, tetapi juga melakukan langsung. Ini sangat membantu mereka memahami apa yang harus dilakukan saat terjadi gempa bumi,” ungkap salah satu guru.
Salah satu siswa, Lucky, mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan ini karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari biasanya. Ia merasa kegiatan ini membuatnya lebih memahami pentingnya sikap tenang dan cepat tanggap saat terjadi bencana.
“Menurut saya kegiatannya sangat seru. Saya jadi tahu kalau gempa harus langsung berlindung di bawah meja, melindungi kepala, dan mengikuti instruksi guru. Sekarang saya juga sudah tahu jalur evakuasi di sekolah,” ujar Lucky.
Selain siswa, pihak sekolah juga memberikan apresiasi terhadap mahasiswa PPL UPGRIS yang telah melaksanakan kegiatan ini. Menurut mereka, program SPAB sangat penting untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran karakter dan kesiapsiagaan siswa terhadap risiko bencana alam.
Pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini tidak hanya dilakukan sekali, tetapi dapat menjadi program berkelanjutan yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran sekolah, sehingga budaya sadar bencana dapat terus tertanam kuat dalam diri siswa.
Kegiatan Sosialisasi dan Simulasi SPAB ini berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh antusiasme dari seluruh peserta. Mahasiswa PPL UPGRIS berharap kegiatan ini dapat memberikan dampak jangka panjang dalam membentuk generasi yang lebih tangguh, sigap, dan memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan diri maupun lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPL UPGRIS menunjukkan peran aktif dalam mendukung terwujudnya sekolah aman bencana serta memperkuat pendidikan mitigasi bencana sebagai bagian penting dari pembentukan karakter peserta didik sejak usia dini.









