JATENGKU.COM, Semarang – Mahasiswa Magang Kependidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) mengambil langkah nyata dalam menghadapi tantangan lingkungan global. Melalui program kerja yang kreatif, mereka mengimplementasikan Pendidikan Perubahan Iklim di SDN Pekunden Semarang dengan fokus pada dua aksi utama: penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan edukasi hemat energi.
Kepala Sekolah SDN Pekunden, Pak Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd. , memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, fenomena perubahan iklim yang terjadi di Semarang dan dunia saat ini memerlukan solusi konkret sejak dini.
“Langkah mahasiswa UPGRIS sangat luar biasa. Melalui praktik langsung dan simulasi, anak-anak diajak untuk memahami perubahan iklim dengan cara yang menyenangkan. Ini adalah pembelajaran bermakna yang memberikan bekal bagi mereka untuk memperbaiki lingkungan di masa depan agar Semarang tetap asri dan nyaman,” ujar Bapak Kepala Sekolah.
Senada dengan hal tersebut, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Pak Sukamto, S.Pd., M.Pd. , menekankan pentingnya relevansi materi dengan krisis global. Terkait program hemat energi, beliau menyebutkan bahwa perilaku kecil di sekolah memiliki dampak besar.
“Saat ini kita dihadapkan pada krisis energi. Edukasi seperti mematikan listrik saat meninggalkan ruangan adalah langkah kecil yang manfaatnya banyak. Begitu juga dengan penanaman tanaman obat keluarga (TOGA) , siswa menjadi paham bahwa obat-obatan bisa disiapkan secara mandiri di lingkungan sekolah maupun rumah,” jelasnya.
Program penanaman tanaman obat keluarga (TOGA) disambut antusias oleh guru dan siswa. Pak Tungga Pramudya U., S.Pd. , selaku wali kelas 4 Batak, melihat adanya peningkatan pengalaman siswa dalam cara menanam dan memahami manfaat tanaman herbal bagi kehidupan sehari-hari.
Siswa kelas 4 Batak, Kiyomi Anantavirya Akbar dan Gibran Abdullah Zafran, mengaku sangat senang dengan metode praktik langsung ini.
“Asik dan seru! Kami jadi tahu nama-nama tanaman seperti lidah buaya, jahe, kunyit, dan kencur. Sekarang kami juga tahu cara merawatnya,” ungkap mereka dengan ceria.

Selain penghijauan, kesadaran akan penggunaan energi juga menjadi fokus utama bagi siswa kelas 4. Melalui pembuatan poster dan aksi nyata, siswa diajak menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah.
Nabella Dhea Pranaya dan Arkan Dewanta Putra Hidayat, siswa kelas 4 Madura, menceritakan pengalaman mereka saat membuat proyek edukasi.
“Kemarin kami membuat poster hemat energi dan belajar untuk selalu mematikan listrik jika tidak digunakan. Pembelajarannya sangat menyenangkan,” kata Dila.
Pak Tungga Pramudya U., S.Pd. menambahkan bahwa terjadi progres yang signifikan pada pengetahuan siswa. “Dari yang awalnya belum tahu, setelah praktik dan diberikan pengajaran, anak-anak mulai bisa mengorelasikan pentingnya hemat energi dalam kehidupan mereka,” tambahnya.
Melalui kolaborasi antara akademisi UPGRIS dan SDN Pekunden Semarang, pendidikan perubahan iklim bukan lagi sekadar teori di dalam buku, melainkan aksi nyata yang berkesadaran. Harapannya, semangat yang dibawa oleh mahasiswa magang ini dapat terus bertumbuh dalam diri siswa, menciptakan generasi yang lebih peduli dan tanggap terhadap kelestarian bumi.
Untuk info lebih lanjut dapat melalui Instragram (MAPEN.PEKUNDEN) dan TikTok (mapen_sdnpekunden)







