Potensi Besar, Minat Masih Rendah: Tantangan Pe...

Potensi Besar, Minat Masih Rendah: Tantangan Perbankan Syariah Menarik Generasi Z

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, JakartaDi tengah besarnya peluang pasar, perbankan syariah masih menghadapi tantangan dalam membangun kepercayaan dan minat Generasi Z sebagai calon nasabah masa depan.

Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri perbankan syariah karena didukung oleh jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Namun, besarnya potensi tersebut belum sejalan dengan tingkat pemanfaatan layanan perbankan syariah, khususnya di kalangan Generasi Z. Padahal, Generasi Z merupakan kelompok usia produktif yang akan mendominasi pasar tenaga kerja dan menjadi penggerak ekonomi nasional dalam beberapa dekade mendatang.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara peluang pasar dan tingkat minat masyarakat muda terhadap produk keuangan syariah. Penelitian Faqih Ulil Abshor dkk. (2024) bahkan menyebutkan bahwa “Indonesia’s Islamic banking market accounted for just 7% of the country’s total banking assets“, yang menggambarkan bahwa pangsa pasar perbankan syariah masih relatif kecil dibandingkan perbankan nasional secara keseluruhan.

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi digital, internet, dan media sosial. Mereka cenderung mengutamakan kecepatan, kemudahan, transparansi, serta pengalaman pengguna dalam memilih suatu layanan, termasuk layanan keuangan. Oleh karena itu, keputusan mereka menggunakan bank tidak hanya didasarkan pada faktor agama, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas aplikasi digital, inovasi produk, biaya administrasi, hingga kemudahan transaksi sehari-hari. Francis dan Hoefel (2018) dalam laporan McKinsey menggambarkan Generasi Z sebagai generasi yang memiliki karakter kritis, mandiri, dan sangat bergantung pada teknologi digital. Karakteristik tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perbankan syariah untuk menghadirkan layanan yang lebih kompetitif dan relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Salah satu faktor utama yang menyebabkan rendahnya minat Generasi Z terhadap perbankan syariah adalah masih terbatasnya literasi keuangan syariah. Banyak anak muda yang mengetahui istilah “bank syariah”, tetapi belum memahami perbedaan mendasar antara sistem bagi hasil dengan bunga, jenis akad, maupun keunggulan produk syariah dibandingkan produk konvensional. Penelitian Dian Sugiarti (2023) menyimpulkan bahwa literasi keuangan syariah berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat Generasi Z menggunakan produk perbankan syariah. Dalam abstraknya ditegaskan bahwa “Islamic financial literacy has a positive and significant effect on Generation Z’s interest in using Islamic banking products.” Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan edukasi menjadi langkah penting untuk meningkatkan jumlah nasabah muda.

Selain literasi, persepsi masyarakat terhadap perbankan syariah juga masih menjadi tantangan. Sebagian Generasi Z masih menganggap produk bank syariah tidak jauh berbeda dengan bank konvensional sehingga mereka merasa tidak memperoleh manfaat tambahan ketika berpindah layanan. Persepsi tersebut sering kali muncul akibat kurangnya informasi yang mudah dipahami dan minimnya sosialisasi yang menyasar anak muda. Abshor dkk. (2024) menjelaskan bahwa “literacy and religiosity significantly influenced Generation Z’s interest in Islamic banking.” Artinya, pemahaman yang baik mengenai prinsip syariah, disertai nilai religiusitas yang kuat, dapat meningkatkan minat menggunakan layanan perbankan syariah.

Di sisi lain, perkembangan teknologi sebenarnya membuka peluang besar bagi industri perbankan syariah. Generasi Z merupakan kelompok yang hampir seluruh aktivitas finansialnya dilakukan melalui aplikasi digital, mulai dari pembayaran, investasi, hingga transaksi belanja daring. Oleh sebab itu, bank syariah perlu memperkuat layanan mobile banking, integrasi dengan dompet digital, pembukaan rekening secara daring, hingga fitur investasi syariah yang mudah digunakan. Inovasi digital tidak hanya meningkatkan kenyamanan pengguna, tetapi juga mampu membangun citra bahwa bank syariah merupakan institusi modern yang mampu bersaing dengan bank konvensional. Dengan demikian, transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis untuk menarik perhatian Generasi Z.

Strategi promosi juga perlu disesuaikan dengan karakteristik Generasi Z yang aktif menggunakan media sosial. Kampanye edukasi melalui konten video pendek, kolaborasi dengan kreator digital, influencer muslim, maupun komunitas kampus dinilai lebih efektif dibandingkan promosi konvensional. Selain itu, bank syariah perlu menyampaikan manfaat produknya menggunakan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan hanya menonjolkan aspek kehalalan semata. Penelitian mengenai niat menabung Generasi Z menunjukkan bahwa lingkungan sosial turut memberikan pengaruh positif terhadap keputusan menggunakan bank syariah. Dengan kata lain, rekomendasi teman, keluarga, maupun tokoh yang dipercaya dapat memperkuat keinginan Generasi Z menjadi nasabah bank syariah.

Pada akhirnya, rendahnya minat Generasi Z terhadap perbankan syariah bukan berarti industri ini kekurangan potensi. Justru kondisi tersebut menunjukkan masih luasnya ruang pertumbuhan apabila bank syariah mampu menjawab kebutuhan generasi muda melalui peningkatan literasi, inovasi digital, pelayanan yang kompetitif, dan strategi komunikasi yang lebih relevan. Kolaborasi antara industri perbankan, perguruan tinggi, pemerintah, serta lembaga pendidikan menjadi penting untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai ekonomi syariah sejak usia muda. Jika upaya tersebut dilakukan secara konsisten, Generasi Z tidak hanya menjadi pengguna layanan perbankan syariah, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia di masa depan. Potensi yang besar akan berubah menjadi kekuatan nyata apabila diiringi dengan strategi yang tepat dan berorientasi pada kebutuhan generasi digital.

Firman Setiawan

Penulis: Sefti Auralia

Mahasiswa Prodi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakart

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan