QRIS Bikin Bayar Jadi Makin Praktis, Uang Tunai...

QRIS Bikin Bayar Jadi Makin Praktis, Uang Tunai Mulai Ditinggalkan

Ukuran Teks:
Firman Setiawan

Penulis: Ahmad Shobri

Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JATENGKU.COM, Jakarta — Pernah nggak sih lupa bawa dompet, tapi tetap bisa bayar makan siang? Itu yang sekarang dialami jutaan orang Indonesia setiap hari. Cukup buka HP, scan kode kotak-kotak di kasir warung makan depan kampus, dan dalam hitungan detik transaksi sudah selesai. Nggak perlu uang receh, nggak perlu nunggu kembalian. Nggak perlu panik.

Itulah QRIS singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard sistem pembayaran digital buatan Bank Indonesia yang kini sudah jadi bagian dari napas keseharian kita. Pertumbuhannya pun cukup buat kaget, per Mei 2026, transaksi lewat QRIS tembus 7,8 miliar kali dengan total nilai tumbuh sebesar 95,10% secara tahunan (yoy). Pengguna Aktif, Tercatat 63 juta pengguna, telah melampaui target yang ditetapkan Transkasi QRIS Tumbuh Pesat.

Tapi di balik angka yang memukau itu, ada pertanyaan yang lebih penting, apakah perubahan ini benar-benar menguntungkan semua orang? Atau justru ada yang mulai tertinggal?

Satu Kode untuk Semua, Kenapa QRIS Langsung Diterima?

Sebelum QRIS hadir, dunia pembayaran digital Indonesia itu sedikit ribet. Setiap dompet digital punya kode QR-nya sendiri. Bayar pakai GoPay? Scan QR GoPay. Mau pakai OVO? Scan QR OVO yang berbeda. Akibatnya, warung-warung kecil harus menempel banyak stiker QR berjejer di dinding ada yang sampai enam sampai delapan kode sekaligus, kayak papan pengumuman yang membingungkan pembeli.

QRIS hadir pada 17 Agustus 2019 dan langsung menyelesaikan masalah itu, satu kode, semua aplikasi bisa bayar. Mau pakai GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, atau mobile banking mana pun cukup scan satu kode yang sama. Bagi pedagang, ini seperti punya satu kunci yang bisa membuka semua pintu sekaligus.

Kenapa bisa diterima secepat ini? Ada dua alasan utama. Pertama, hampir semua orang Indonesia sudah pegang smartphone pada 2025, pengguna internet Indonesia melampaui 220 juta jiwa atau lebih dari 78% penduduk (APJII, 2025). HP sudah jadi kebutuhan sehari-hari, bukan barang mewah. Kedua, Bank Indonesia membuat kebijakan yang sangat berpihak ke pedagang kecil, biaya transaksi nol persen untuk kategori layanan publik (Bank Indonesia, 2025). Artinya, penjual gorengan di depan kampus pun tidak perlu bayar apa-apa untuk bisa menerima pembayaran digital. Itu bukan tawaran yang mudah ditolak.

Hasilnya, Per akhir 2025, QRIS sudah jadi sistem pembayaran dengan pertumbuhan transaksi tertinggi di Indonesia mengalahkan kartu kredit, transfer bank, bahkan uang tunai (GoodStats, 2026).

Dari Warung Pinggir Jalan ke Sembilan Negara

Kalau kita kira QRIS cuma soal bayar jajan di kantin, mungkin sudah waktunya update info. Pada 17 Agustus 2025 tepat di hari ulang tahun ke-80 Indonesia Bank Indonesia resmi mengaktifkan QRIS di Jepang, menjadikannya negara pertama di luar ASEAN yang terhubung dengan sistem pembayaran kita (Kompas, 2025). Sebelumnya, QRIS sudah bisa dipakai di Thailand, Malaysia, dan Singapura. Per Agustus 2025, sudah ada 9 negara yang terkoneksi, dengan nilai transaksi lintas negara mencapai Rp1,66 triliun (QRIS Interactive, 2025).

Apa artinya buat kita? Kalau kamu liburan ke Tokyo dan mau beli takoyaki di pinggir jalan tinggal buka aplikasi, scan, bayar. Tidak perlu repot nukar rupiah ke yen di money changer bandara dulu. Atau bayangkan jemaah umrah yang bisa pergi ke Mekkah tanpa harus bawa tumpukan riyal Bank Indonesia bahkan sedang mempersiapkan integrasi QRIS dengan sistem pembayaran Arab Saudi.

Bagi para pelaku usaha kecil, ini juga kabar baik. Di Bali misalnya, Bank Indonesia mencatat 96% UMKM sudah pakai QRIS, dan wisatawan Thailand menjadi pengguna terbanyak di antara turis asing mencapai 27% dari total transaksi wisatawan mancanegara (QRIS Interactive, 2025). Pedagang oleh-oleh di Ubud kini bisa melayani pembeli dari berbagai negara tanpa perlu kalkulator tukar-menukar mata uang. QRIS, tanpa banyak disadari, sudah jadi jembatan antara lapak kecil di pinggir jalan dan pasar dunia.

UMKM Naik Kelas, Bukan Sekadar Omong Kosong

Dari 45,3 juta merchant yang terdaftar di QRIS per Mei 2026, lebih dari 90% adalah pelaku UMKM (Bank Indonesia, 2026). Dan masuk akalnya memang begitu QRIS sejak awal dirancang agar mudah dan murah dipakai siapa saja. Tidak perlu beli mesin kasir mahal. Tidak perlu pelatihan khusus. Cukup cetak atau tampilkan kode QR di meja dagangan, dan warung sudah siap menerima pembayaran dari mana saja. Tapi ada manfaat lain yang lebih besar, yang sering tidak kelihatan di permukaan.

Setiap kali ada yang bayar lewat QRIS, transaksi itu otomatis tercatat secara digital jam berapa, berapa nilainya, sudah berapa total hari ini. Bagi pedagang kecil, catatan seperti ini sebenarnya sangat berharga. Kenapa? Karena selama ini, salah satu alasan utama bank menolak memberikan pinjaman kepada pedagang kecil adalah: tidak ada bukti penghasilan yang jelas. Penjual martabak yang omzetnya jutaan per bulan pun bisa ditolak hanya karena tidak punya laporan keuangan resmi.

Dengan QRIS, riwayat transaksi selama setahun itu bisa jadi bukti nyata. Bank dan perusahaan pinjaman online kini bisa melihat langsung seberapa ramai dagangan seseorang dari data digitalnya, lalu memutuskan apakah layak diberi modal usaha (Antara News, 2025). Singkatnya, QRIS tidak cuma bikin bayar lebih gampang ia juga bisa membuka pintu akses keuangan yang selama ini tertutup bagi jutaan pedagang kecil.

Bayar Makin Gampang, Dompet Makin Cepat Kosong?

Nah, ini bagian yang sering luput dari perbincangan tapi penting banget untuk dibahas. Ada sebuah fenomena psikologis yang menarik, kita manusia ternyata lebih “kerasa sakit”-nya ketika mengeluarkan uang tunai secara fisik dibanding ketika bayar lewat HP. Menyerahkan uang Rp50.000 dalam bentuk uang kertas terasa lebih berat dibanding mengetuk layar untuk nominal yang sama. Dalam ilmu psikologi, ini disebut pain of paying rasa tidak nyaman saat merogoh kocek. Kalau rasa itu berkurang, kita jadi lebih gampang belanja, lebih sering transaksi, tanpa sadar berapa total yang sudah keluar.

Dan QRIS, dengan segala kemudahannya, membuat rasa itu jauh berkurang. Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Ilmu Manajemen dan Pendidikan (2025) menemukan bahwa penggunaan QRIS secara nyata memengaruhi perilaku belanja penggunanya terutama anak muda. Sementara penelitian lain di Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (2026) menemukan bahwa kemudahan QRIS berkorelasi dengan meningkatnya pembelian impulsif beli karena tergoda sesaat, bukan karena benar-benar butuh (Dynastirev, 2026).

Sekali lagi, ini bukan berarti QRIS itu jahat. Ini hanya pengingat bahwa teknologi yang memudahkan hidup tetap butuh penggunanya yang sadar. Coba mulai biasakan catat pengeluaran, bikin anggaran bulanan, dan ingatkan diri sendiri: uang digital itu sama nyatanya dengan uang di dompet meski terasa lebih “enteng” saat dikeluarkan.

Revolusi yang Belum Menjangkau Semua Orang

Di balik semua pencapaian itu, ada kenyataan lain yang perlu kita jujur soalnya. Tidak semua orang bisa ikut menikmati kemudahan QRIS. Indeks literasi keuangan Indonesia pada 2025 baru menyentuh 66,46% artinya hampir satu dari tiga orang Indonesia masih belum cukup paham soal layanan keuangan, apalagi yang berbasis digital (Kompas, 2025). Di Jakarta sekalipun, hanya 34,14% lansia yang pernah mengakses internet. Kalau orang tuamu atau kakek-nenekmu termasuk dalam kelompok itu, coba bayangkan betapa bingungnya mereka ketika kasir di warung depan bilang, “Maaf, kami tidak terima uang tunai.”

Dan soal itu, ada aturan jelas yang harus diingat: menolak uang tunai itu melanggar hukum. Undang-Undang No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang menyatakan bahwa semua pihak di Indonesia wajib menerima pembayaran dengan uang rupiah. Bank Indonesia pun sudah berulang kali mengingatkan: pedagang boleh mengajak pakai QRIS, tapi tidak boleh menolak bayar tunai (Kompas, 2025). Sayangnya, di lapangan, masih ada saja yang melanggar aturan ini dan yang paling dirugikan selalu kelompok yang paling rentan.

Belum lagi soal sinyal internet di daerah pelosok. QRIS butuh koneksi yang stabil untuk bisa bekerja. Di wilayah-wilayah yang sinyalnya saja masih putus-putus, berbicara tentang revolusi pembayaran digital terasa seperti lelucon pahit. Ini adalah PR besar yang belum selesai dan sampai terjawab, kita belum bisa benar-benar bilang bahwa QRIS sudah inklusif untuk semua.

Lebih dari Sekadar Scan

QRIS bukan tren sesaat. Dalam waktu kurang dari tujuh tahun, ia sudah mengubah cara jutaan orang Indonesia bertransaksi dari pedagang kaki lima yang kini punya rekam jejak keuangan digital, sampai wisatawan asing yang bisa bayar bakso di Bali tanpa repot nukar mata uang. Ini pencapaian nyata yang tidak boleh diremehkan.

Tapi kemajuan yang sejati bukan cuma soal seberapa besar angka transaksinya. Ia diukur dari seberapa banyak orang yang bisa ikut merasakannya termasuk nenek yang berjualan di pasar tradisional, warga desa yang sinyalnya naik-turun, dan lansia yang belum pernah pegang smartphone.

Sebagai generasi muda dan mahasiswa, kita punya dua peran sekaligus, pengguna yang cerdas sekaligus agen perubahan di lingkungan sekitar. Gunakan QRIS, tapi tetap catat pengeluaran dan kendalikan diri. Dan kalau ada orang di sekitar kita yang belum tahu cara pakainya ajari, jangan tinggalkan. Karena revolusi yang paling berhasil bukan yang paling canggih teknologinya, tapi yang paling banyak orang bisa ikut di dalamnya.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan