JATENGKU.COM — Susu memiliki berbagai manfaat bagi anak karena menjadi sumber kalsium, protein, lemak, serta berbagai vitamin yang penting untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, sebagian besar jenis susu seperti susu formula dan susu sapi tidak mengandung serat serta hanya memiliki sedikit kandungan zat besi, sementara kandungan kalorinya cukup tinggi. Oleh karena itu, konsumsi susu pada anak tetap perlu dibatasi dan diperhatikan jumlahnya.

Susu sering dianggap sebagai “makanan sempurna” untuk pertumbuhan. Banyak orang tua merasa tenang ketika anak minum susu dalam jumlah banyak meski makannya sedikit. Padahal, secara klinis, pola ini justru menyimpan risiko kesehatan yang serius.

1. Efek Kenyang Mengurangi Nafsu Makan

Susu mengandung protein dan lemak yang membutuhkan waktu cukup lama untuk dicerna. Cairan yang padat energi seperti susu dapat memberikan sinyal kenyang yang kuat pada anak.

Susu mengandung kalori yang cukup tinggi. Jika diminum dalam jumlah besar (misalnya lebih dari 700-800 ml per hari), kebutuhan kalori harian balita terpenuhi hanya dari cairan, sehingga otak memberikan sinyal kenyang.

Ketika anak meminum susu sesaat sebelum atau selama waktu makan, perut mereka sudah terisi penuh oleh cairan. Akibatnya, ketertarikan mereka pada makanan padat yang justru kaya akan tekstur dan variasi zat gizi menurun drastis.

Bila hal tersebut terus menerus terjadi, risiko kekurangan zat gizi penting akan meningkat. Artinya, asupan zat gizi dalam tubuh anak bisa menjadi tidak seimbang dan berisiko mengalami kekurangan gizi, bahkan kelebihan berat badan hingga obesitas karena tingginya kalori dan lemak yang terkandung dalam susu. Apalagi bila dikombinasi dengan gula tambahan dan perisa atau susu kental manis.

2. Risiko Defisiensi Zat Besi (Milk Anemia)

Ini adalah bahaya yang paling sering dibahas. Konsumsi susu sapi berlebih (umumnya di atas 700 ml per hari pada balita) dapat menyebabkan anemia defisiensi zat besi melalui tiga mekanisme:

  • Rendahnya Zat Besi: Susu sapi secara alami sangat rendah zat besi.
  • Penghambatan Penyerapan: Kandungan kalsium dan kasein yang tinggi dalam susu dapat menghambat penyerapan zat besi dari sumber makanan lain.

Pada usia balita, preferensi terhadap makanan dan minuman meningkat, seringkali mengakibatkan penolakan terhadap makanan sehat yang kaya zat besi dan menggantikannya dengan asupan susu berlebih. Oleh karena itu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS membatasi konsumsi susu hingga <700 ml per hari pada balita usia 2 tahun, dengan beberapa dokter menyarankan batasan yang lebih ketat yaitu 16 ons (sekitar 473 mL) per hari.

Berapa Batas Normalnya?

Berdasarkan panduan dari American Academy of Pediatrics (AAP) dan berbagai organisasi kesehatan dunia, berikut adalah anjuran batasan konsumsi susu sapi:

Usia Anak

Rekomendasi Jumlah Susu

12 – 24 Bulan

2 – 3 Gelas (Maksimal 480–700 ml) per hari

2 – 3 Tahun

2 Gelas (sekitar 450 ml) per hari

4 – 5 Tahun

2.5 Gelas (Maksimal 600 ml) per hari

 

Tips Mengatasi “Kecanduan” Susu pada Anak

  1. Susu Sebagai Pendamping, Bukan Utama: Berikan susu setelah anak selesai makan makanan utama, hindari memberikan saat sebelum makan utama. Tetap untuk mengutamakan asupan anak berasal dari makanan dan bukan susu
  2. Gunakan Gelas, Bukan Botol: Mengganti dot dengan gelas dapat membantu mengurangi durasi dan keinginan anak untuk minum susu terus-menerus.
  3. Kurangi Asupan Susu: Kurangi frekuensi minum dan jumlah susu yang diberikan pada anak secara bertahap. Sebagai pengganti susu yang dikurangi, anak bisa diberikan kreasi camilan sehat yang dibuat sendiri seperti martabak telur, pudding buah, potongan buah, atau minuman sehat seperti jus buah.
  4. Jadwal Rutin: Perlakukan susu seperti camilan yang memiliki waktu tertentu, bukan diberikan setiap kali anak menangis, meminta susu, atau merasa haus.
  5. Sajikan Makanan Bergizi yang Menarik: Untuk meningkatkan nafsu makan anak coba sajikan makanan bergizi secara menarik, misalnya dengan memodifikasi makanan dengan berbagai bentuk yang menarik seperti bentuk hewan, serta menghias makanan sebelum diberikan pada anak.

Konsumsi susu yang berlebihan pada anak dapat menurunkan nafsu makan terhadap makanan padat dan meningkatkan risiko kekurangan zat gizi, terutama anemia defisiensi zat besi. Oleh karena itu, susu perlu diberikan sesuai batas anjuran, seperti yang direkomendasikan oleh American Academy of Pediatrics (AAP), dan tetap dijadikan sebagai pendamping, bukan pengganti makanan utama, agar pertumbuhan anak tetap optimal.

Susu adalah sumber kalsium dan Vitamin D yang baik, namun tidak bisa menggantikan zat gizi penting dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral lainnya. Keseimbangan adalah kunci agar pertumbuhan anak optimal dan mereka tidak terjebak dalam lingkaran tidak mau makan karena sudah kenyang dari konsumsi susu.

Referensi:

American Academy of Pediatrics Institute for Healthy Childhood Weight. (n.d.). Healthy beverage quick reference guide. American Academy of Pediatrics.

Kwon, Y., Lee, S. W., Cho, Y. S., Jeong, S. J., & Han, M. Y. (2021). Is High Milk Intake Good for Children’s Health? A National Population-Based Observational Cohort Study. Nutrients13(10), 3494.

Agostoni C., Turck D. Is cow’s milk harmful to a child’s health? J. Pediatr. Gastroenterol. Nutr. 2011;53:594–600.

Onvani, S., Haghighatdoost, F., Surkan, P. J., & Azadbakht, L. (2016). Dairy products, satiety and food intake: A meta-analysis of clinical trials. Clinical Nutrition, 36(2), 389–398.

Wright, C. M., Parkinson, K. N., Shipton, D., & Drewett, R. F. (2007). How do toddler eating problems relate to their eating behavior, food preferences, and growth?. Pediatrics, 120(4), e1069–e1076.

Penulis: Leffiyanti Handi, S.Gz

Editor: Handayat

Tag