Membedah Strategi PR pada Kasus House of Jatina...

Membedah Strategi PR pada Kasus House of Jatinangor

Ukuran Teks:
Firman Setiawan

Penulis: Liza Oktavia Permatasari

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

JATENGKU.COM, Semarang — Dewasa ini, perkembangan arus teknologi informasi dan komunikasi yang pesat turut mengambil peran penting bagi kehidupan. Fenomena yang terjadi di sekitar, tersebar luas dan menjadi perhatian karena publik dapat berperan langsung sebagai pengawas. Dalam ruang lingkup ilmu komunikasi, situasi ini menuntut peran Public Relations (PR) dalam membangun hubungan baik dan kepercayaan dengan publik Salah satu wujud nyata keberhasilan peran PR terjadi pada sebuah restoran penyedia produk makanan siap saji, House of Jatinangor.

Dilansir dari lidik.id pada 12 November 2024 silam yang berjudul “Pengunjung Kaget Karyawan Masak Tanpa Baju, Jatinangor House Minta Maaf”, diketahui bahwa kasus ini menjadi perbincangan publik setelah adanya unggahan video dari sebuah akun media sosial. Di dalam video yang tersebar luas di jagat maya, terlihat beberapa oknum pegawai restoran siap saji tersebut tepatnya pada bagian dapur, sedang mengolah makanan dalam kondisi yang dinilai kurang higienis, yaitu tidak mengenakan pakaian.

Beberapa hal tersebut lantas memicu reaksi masyarakat karena pada industri kuliner, kebersihan dan etika kerja merupakan dua hal yang sifatnya krusial. Viralnya unggahan tersebut pada akhirnya berujung pada hilangnya kepercayaan (trust) terhadap produk dari House of Jatinangor. Melihat hal tersebut, pihak manajemen perusahaan dengan sigap mengeluarkan pernyataan permohonan maaf kepada pelanggan dan masyarakat terkait hal tersebut. Dalam surat permohonan, pihak House of Jatinangor menyampaikan bahwa mereka akan menutup sementara gerai pada cabang tersebut untuk melakukan tindakan investigasi dan evaluasi. Manajemen berjanji akan memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali melalui pengawasan yang ketat serta telah mengambil tindakan disipliner terhadap karyawan terkait.

Membedah Strategi PR pada Kasus House of Jatinangor

Menurut kajian public relations, kasus ini termasuk dalam kategori preventable crisis karena permasalahan yang terjadi bersumber dari kelalaian internal. Langkah yang diambil perusahaan untuk mengatasi permasalahan dinilai cukup baik. Respon perusahaan yang cepat dalam merilis pernyataan resmi berisi pengakuan atas kelalaian dan permintaan maaf, menunjukkan bahwa brand bertanggung jawab untuk mengakui kesalahannya. Selain itu, beberapa langkah tegas yang diambil perusahaan termasuk menutup gerai sementara selama proses evaluasi, hingga tindakan disipliner pada karyawan menjadi bukti bahwa House of Jatinangor tidak menganggap isu kebersihan sebagai hal yang remeh demi memastikan kenyamanan konsumen.

Meskipun beberapa langkah yang dilakukan oleh manajemen House of Jatinangor telah berhasil, namun masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu dievaluasi. Dikarenakan ruang digital dan pengetahuan masyarakat semakin luas, perlu adanya unggahan pada media sosial berupa dokumentasi terkait proses evaluasi yang dilakukan perusahaan. Melalui dokumentasi, masyarakat dapat turut menilai bahwa perusahaan telah berusaha berbenah seperti renovasi pada fasilitas serta pelatihan mengenai Standar Operasional kebersihan kepada pegawai. Kelemahan lain pada kasus ini, ditunjukkan melalui pernyataan House of Jatinangor mengenai tindak disipliner terhadap karyawan. Meskipun hal tersebut menunjukkan aksi tegas perusahaan, namun juga dapat menjadi boomerang bagi perusahaan. Sebagian masyarakat akan menganggap bahwa perusahaan berusaha melimpahkan kesalahan pada oknum pegawai dan menghindari fakta bahwa perusahaan mengalami kegagalan dalam pengawasan internal. Sebaiknya, narasi tersebut diubah karena tindakan pada video tersebut tidak akan terjadi apabila perusahaan memperbaiki fasilitas ruangan serta berjalannya pengawasan ketat.

Kasus ini pada akhirnya, dapat memberikan gambaran terhadap pentingnya peran Public Relations dalam memanajemen konflik. Seorang PR bukan hanya dituntut untuk membangun kepercayaan dan memperbaiki citra kepada masyarakat, namun juga mengambil langkah strategis yang bukan hanya menguntungkan perusahaan. Artikel yang dirilis oleh Lidik.id tersebut, memberikan gambaran terhadap proses manajemen konflik seperti mengakui kelalaian, memberikan sanksi disipliner, hingga menutup outlet sementara untuk kegiatan evaluasi. Hal ini turut membuktikan bahwa perusahaan berusaha mengedepankan kepercayaan pembeli dan membangun hubungan baik dengan publik.

DAFTAR PUSTAKA

Putri, D. G. (2024, November 12). Pengunjung Kaget Karyawan Masak Tanpa Baju, Jatinangor House Minta Maaf. Lidik.id. https://lidik.id/pengunjung-kaget-karyawan-masak-tanpa-baju-jatinangor-house-minta-maaf.

Putri, N. P. S. (2026). Strategi Komunikasi Pemulihan Citra Positif Pt. Deltamas Menghadapi Krisis Reputasi Kepada Stakeholder. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial Politik, 3(3), 964-972

Widyastuti, A. & Ekoputro, W. (2023). Strategi Komunikasi Krisis Humas Pemkab Nganjuk dalam Pemulihan Citra Pasca Kasus Korupsi. Jurnal Sintesa, 2(2), 124 – 139.

 

Sumber : https://lidik.id/pengunjung-kaget-karyawan-masak-tanpa-baju-jatinangor-house-minta-maaf

 

Sumber : indopolitika.com/parah-terungkap-pembuatan-makanan-di-jatinangor-house-tidak-higienis-bikin-merinding/.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan