Jatengku.com – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menghidupkan kembali perpustakaan yang jarang dikunjungi murid di SLB A YAAT Klaten melalui program Pojok Literasi. Program ini digagas sebagai bagian dari kegiatan magang yang berlangsung selama tiga bulan di sekolah tersebut.
Sebelum program berjalan, ruang perpustakaan sekolah cenderung sepi peminat, meski sebenarnya memiliki sejumlah koleksi dan alat peraga edukatif yang jarang tersentuh. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa yang menjalani magang mulai membersihkan ruang perpustakaan, menata ulang koleksi buku dan alat peraga yang ada, menghias ruangan agar lebih menarik, hingga mengajak murid satu per satu untuk berkunjung.
Beberapa alat peraga yang sebelumnya jarang digunakan kini kembali dimanfaatkan di Pojok Literasi, antara lain mesin ketik braille, globe timbul, dan model kerangka manusia. Alat-alat tersebut kembali diperkenalkan kepada murid karena dapat diraba dan dieksplorasi langsung, sesuai dengan cara belajar murid tunanetra yang mengandalkan indra peraba.
Ketua kegiatan magang mengatakan, “Perpustakaan sebelumnya jarang dikunjungi murid, padahal koleksi dan alat peraganya sudah ada. Melalui Pojok Literasi ini, kami berharap murid tertarik untuk datang dan minat baca mereka meningkat,” ujarnya.
Kegiatan ini disambut baik oleh guru dan kepala sekolah SLB A YAAT Klaten. Dukungan tersebut turut mempermudah proses penataan dan pengembangan Pojok Literasi selama masa magang berlangsung.
Sejak Pojok Literasi berjalan, antusiasme murid terlihat meningkat. Murid yang sebelumnya jarang ke perpustakaan kini mulai rutin berkunjung, baik untuk membaca buku maupun mencoba kembali alat peraga yang tersedia.
Salah satu murid mengaku senang dengan adanya Pojok Literasi. Ia mengatakan menyukai kesempatan memegang langsung mesin ketik braille dan globe timbul yang ada di perpustakaan.
“Aku senang ke perpustakaan. Aku jadi tahu dan bisa pegang mesin ketik braille. Terus aku juga bisa latihan ngetik pakai mesin ketik braille. Di perpustakaan, aku juga bisa meraba globe timbul, padahal sebelumnya aku gak tahu bentuk-bentuk negara di dunia,” katanya.
Hal senada disampaikan murid lain yang juga rutin berkunjung ke Pojok Literasi. Selain membaca buku, ia mengaku tertarik dengan model kerangka manusia yang bisa dipegang dan diraba secara langsung.
Kehadiran Pojok Literasi diharapkan dapat meningkatkan minat dan kemampuan literasi murid SLB A YAAT Klaten secara berkelanjutan. Selain sebagai ruang membaca, Pojok Literasi juga menjadi sarana belajar yang lebih dekat dengan kebutuhan murid tunanetra.
Melalui program ini, perpustakaan diharapkan terus dimanfaatkan secara berkelanjutan, sehingga meski masa magang mahasiswa telah berakhir, Pojok Literasi tetap dikunjungi dan dirawat oleh pihak sekolah. Semangat literasi yang sudah mulai tumbuh selama tiga bulan ini diharapkan dapat terus dijaga, sehingga perpustakaan benar-benar menjadi ruang belajar yang hidup dan bermanfaat bagi murid tunanetra.
