Mahasiswa Magang Hibah UNS Gelar Focus Group Di...

Mahasiswa Magang Hibah UNS Gelar Focus Group Discussion, Wujudkan Kesetaraan Belajar di Sekolah Inklusi

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Surakarta — Kelompok @hibahnanuna yang merupakan salah satu tim Magang Hibah Universitas Sebelas Maret (UNS) dari Program Studi Pendidikan Luar Biasa menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema identifikasi dan penanganan murid berkebutuhan khusus di sekolah inklusi SDN Kawatan Surakarta pada Kamis, 21 Mei 2026.

Kegiatan FGD ini berlangsung dari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB dengan menghadirkan narasumber, yaitu Arsy Anggrellanggi, S.Pd., M.Pd., selaku dosen Pendidikan Luar Biasa Universitas Sebelas Maret. Para Guru SDN Kawatan Surakarta hadir sebagai peserta yang aktif menjadi bagian dari diskusi.

FGD ini dilatarbelakangi oleh peraturan Walikota Surakarta Nomor 25-A tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif—yaitu pendidikan yang menerima dan memberikan layanan pendidikan bagi semua anak tanpa terkecuali, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK).

Kegiatan FGD dibuka oleh tim magang UNS dengan penjelasan teknik kegiatan kedepannya. Selanjutnya, Ibu Arsy selaku narasumber akan menyampaikan memantik materi seputar konsep pendidikan inklusif, jenis-jenis ABK yang umum ditemukan di sekolah dasar, serta cara melakukan identifikasi awal terhadap murid yang diduga memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.

Mahasiswa Magang Hibah UNS Gelar Focus Group Discussion, Wujudkan Kesetaraan Belajar di Sekolah Inklusi

Materi disampaikan secara jelas dan aplikatif menyesuaikan konteks yang dihadapi oleh guru-guru di lapangan, sehingga peserta dapat memahami materi berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari. Peserta diajak untuk memahami bahwa identifikasi di awal penting untuk mengetahui karakteristik dan kebutuhan khusus dari masing-masing murid. Melalui identifikasi lebih awal diharapkan guru dapat merancang pendekatan pembelajaran yang lebih tepat dan disesuaikan dengan kondisi setiap murid, sehingga murid dapat berkembang secara optimal meskipun memiliki kebutuhan yang berbeda-beda.

Setelah disampaikan materi pemantik, sesi diskusi pun dibuka. Dalam sesi ini para guru diberikan ruang untuk menyampaikan kasus-kasus nyata yang mereka hadapi di dalam kelas, seperti murid yang tidak bisa duduk diam, tidak mampu melakukan komunikasi dua arah, tidak mampu melakukan kontak mata, kesulitan berkonsentrasi, kesulitan membaca, tidak mau mengikuti instruksi, kesulitan dalam mengontrol emosi, hingga melakukan perilaku tidak seusia dengan norma. Berbagai cerita yang muncul dalam diskusi, semakin menekankan terkait pentingnya pemahaman guru terhadap keberagaman kebutuhan murid di kelas.

Ibu Arsy menangani setiap kasus dengan penjelasan terstruktur: mulai dari identifikasi kondisi kebutuhan khusus, strategi penanganan praktis, hingga rujukan kepada psikolog atau tenaga ahli. Pendekatan yang sistematis dan responsif ini membuat para guru merasa tidak hanya mendapat pengetahuan baru, tetapi juga bekal nyata untuk menghadapi tantangan di kelas mereka masing-masing.

Bapak Muhdi, selaku perwakilan guru dari SDN Kawatan mengucapkan terimakasih dan merasa terbantu dengan diselenggarakannya kegiatan FGD ini. “Kami dari SDN Kawatan mengucapkan terima kasih sekali. Bisa dibilang sharing ilmu, apapun itu bentuknya, kegiatan FGD ini diharapkan bisa menjadikan berkah untuk kita semua”.

Melalui FGD ini, tim @hibahnanuna berharap bahwa para guru SDN Kawatan akan memiliki kesiapan dalam menjalan peran mereka di sekolah inklusif. Pemahaman yang baik terkait identifikasi dan penanganan ABK bukan hanya memberikan manfaat untuk murid berkebutuhan khusus semata, tetapi juga mewujudkan kesetaraan dalam belajar sehingga tercipta kenyamanan bagi seluruh peserta didik.

Kegiatan ini juga menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dasar dapat menghasilkan dampak nyata. Ilmu yang dimiliki akademisi universitas dapat menjadi solusi praktis bagi persoalan yang dihadapi guru di lapangan setiap harinya.

Kegiatan FGD ditutup dengan sesi dokumentasi bersama antara tim magang hibah UNS, Narasumber, dan seluruh guru SDN Kawatan yang hadir. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendukung terwujudnya pendidikan inklusif yang berkualitas di Surakarta

Penulis: Tim Magang Hibah UNS | @hibahnanuna

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan