Rekomendasi

    Mahasiswa PLB UNS Gelar Seminar BISINDO, Edukasi Orang Tua tentang Identitas Budaya Tuli

    JATENGKU.COM, Klaten – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Sebelas Maret (UNS) yang terbentuk dalam Tim HIBAH PEMBELAJARAN BERDAMPAK mengadakan seminar bertajuk “SEMINAR BAHASA ISYARAT INDONESIA (BISINDO): Identittas Budaya Tuli” di SLB B YAT Klaten. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai perspektif budaya Tuli serta pentingnya penggunaan bahasa isyarat dalam mendukung komunikasi dan perkembangan anak. (19/05/2026)

    Seminar diikuti oleh orang tua/wali murid dan seluruh tunarungu dengan antusias. Dalam kegiatan ini, mahasiswa UNS menyampaikan bahwa tuli tidak hanya dipandang dari sisi medis sebagai kehilangan kemampuan mendengar, tetapi juga dapat dipahami sebagai sebuah identitas budaya. Individu Tuli memiliki cara berkomunikasi, nilai, serta pengalaman hidup yang khas, yang membentuk komunitas Tuli dengan budayanya sendiri.

    Salah satu materi utama yang disampaikan adalah pentingnya membedakan istilah “Tuli” sebagai kondisi gangguan pendengaran dengan “Tuli” sebagai identitas budaya. Perspektif budaya Tuli menempatkan bahasa isyarat sebagai bahasa alami yang digunakan oleh komunitas Tuli untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta membangun hubungan sosial. Oleh karena itu, bahasa isyarat tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan masyarakat Tuli.

    Mahasiswa juga mengajak orang tua untuk memahami bahwa penggunaan bahasa isyarat sejak dini dapat mendukung perkembangan komunikasi, interaksi sosial, dan rasa percaya diri anak. Orang tua didorong untuk mempelajari bahasa isyarat agar komunikasi di lingkungan keluarga menjadi lebih efektif, sehingga anak memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhannya secara optimal.

    Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Para orang tua berbagi pengalaman mengenai tantangan berkomunikasi dengan anak di rumah serta menyampaikan harapan agar semakin banyak kegiatan edukasi mengenai budaya Tuli dan bahasa isyarat. Diskusi tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman bahwa penerimaan terhadap identitas anak dan penggunaan bahasa yang aksesibel merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang mendukung.

    Melalui seminar ini, mahasiswa UNS berharap orang tua memiliki perspektif yang lebih luas mengenai anak Tuli, tidak hanya dari sudut pandang keterbatasan pendengaran, tetapi juga sebagai individu yang memiliki identitas, bahasa, dan budaya yang patut dihargai. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bidang pengabdian kepada masyarakat sekaligus mendukung terwujudnya lingkungan yang lebih inklusif, ramah, dan menghargai keberagaman bagi komunitas Tuli.

    Avatar photo
    Avatar photo
    Handayat
    Penulis