Tim Mahasiswa HIBAH JARPAK PLB FKIP UNS Lakukan...

Tim Mahasiswa HIBAH JARPAK PLB FKIP UNS Lakukan Penguatan Orang Tua Anak Autis melalui Focus Group Discussion (FGD) di PKBM Mutiara Al-Islam Surakarta

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Surakarta – Mahasiswa Magang Hibah JARPAK Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Orang Tua Anak Autis di PKBM Mutiara Al-Islam Surakarta pada 18 April 2026. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk penguatan peran orang tua dalam mendampingi perkembangan anak autis di lingkungan rumah melalui pemberian edukasi, diskusi, dan berbagi pengalaman bersama narasumber serta peserta kegiatan.

Kegiatan FGD menghadirkan narasumber yang berkompeten pada bidang pendampingan anak berkebutuhan khusus, yang memberikan materi mengenai pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak autis secara optimal. Kegiatan berlangsung dengan suasana hangat, interaktif, dan penuh antusiasme dari para peserta yang terdiri atas orang tua anak autis.

Pelaksanaan kegiatan diawali dengan identifikasi kebutuhan orang tua melalui penyebaran angket dan wawancara sederhana yang dilakukan oleh mahasiswa magang. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, diperoleh informasi bahwa sebagian besar orang tua masih mengalami kesulitan dalam memahami karakteristik anak autis, menghadapi perilaku tertentu, memberikan pendidikan seksual yang tepat, serta melatih kemandirian anak dalam aktivitas sehari-hari di rumah. Selain itu, beberapa orang tua juga mengaku masih merasa bingung dalam menentukan cara komunikasi yang efektif kepada anak autis.

Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan tersebut, mahasiswa menyusun konsep kegiatan dan menentukan topik utama yang akan dibahas dalam kegiatan FGD. Topik yang dipilih disesuaikan dengan kebutuhan peserta agar materi yang diberikan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa topik utama yang dibahas dalam kegiatan ini meliputi pendidikan seksual pada anak autis dan strategi melatih kemandirian anak di rumah.

Dalam penyampaian materi, narasumber menjelaskan bahwa pendidikan seksual pada anak autis merupakan hal yang sangat penting diberikan sejak dini. Pendidikan seksual tidak hanya berkaitan dengan pengenalan organ tubuh, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai batasan tubuh pribadi, cara menjaga diri, serta mengenali perilaku aman dan tidak aman. Anak autis memiliki keterbatasan dalam memahami situasi sosial sehingga memerlukan penjelasan yang lebih konkret dan berulang mengenai perlindungan diri.

Narasumber menjelaskan bahwa orang tua perlu mengenalkan bagian tubuh pribadi kepada anak dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Selain itu, anak juga perlu dibiasakan untuk menjaga privasi diri, seperti berpakaian di tempat tertutup dan memahami bahwa ada bagian tubuh tertentu yang tidak boleh disentuh orang lain. Pendidikan seksual pada anak autis juga perlu diberikan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan anak agar anak dapat memahami informasi yang diberikan dengan baik.

Orang tua juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan media visual dan pembiasaan rutin dalam memberikan pendidikan seksual kepada anak autis. Menurut narasumber, anak autis cenderung lebih mudah memahami informasi melalui gambar, simbol, atau contoh langsung dibandingkan penjelasan verbal yang terlalu panjang. Oleh karena itu, orang tua dianjurkan untuk menggunakan metode yang sederhana dan konsisten dalam memberikan pemahaman kepada anak.

Selain membahas pendidikan seksual, narasumber juga menyampaikan materi mengenai pentingnya melatih kemandirian anak autis di rumah. Kemandirian merupakan salah satu keterampilan dasar yang perlu dilatih sejak dini agar anak mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa selalu bergantung kepada orang lain. Melatih kemandirian anak autis memang membutuhkan proses yang tidak singkat, namun dengan latihan yang konsisten anak dapat berkembang sesuai potensinya.

Dalam sesi tersebut, narasumber memberikan contoh latihan sederhana yang dapat diterapkan orang tua di rumah, seperti melatih anak memakai pakaian sendiri, mencuci tangan, membereskan mainan, makan secara mandiri, hingga mengikuti jadwal kegiatan harian secara teratur. Orang tua juga diberikan pemahaman bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda sehingga proses latihan kemandirian harus dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan anak masing-masing.

Narasumber menekankan bahwa konsistensi merupakan kunci utama dalam melatih kemandirian anak autis. Orang tua dianjurkan untuk memberikan instruksi yang singkat dan jelas, memberikan contoh secara langsung, serta memberikan apresiasi ketika anak berhasil melakukan suatu aktivitas secara mandiri. Dengan adanya apresiasi tersebut, anak akan merasa lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku positif yang telah dilakukan.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak aktif mengikuti setiap sesi diskusi yang diberikan oleh narasumber dan mahasiswa. Orang tua diberikan kesempatan untuk menyampaikan berbagai pengalaman dan kendala yang mereka hadapi selama mendampingi anak autis di rumah. Beberapa peserta menyampaikan kesulitan dalam menghadapi perilaku tantrum anak ketika diminta mandiri, kesulitan membangun komunikasi yang efektif, serta tantangan dalam membiasakan anak mengikuti aturan sehari-hari.

Tim Mahasiswa HIBAH JARPAK PLB FKIP UNS Lakukan Penguatan Orang Tua Anak Autis melalui Focus Group Discussion (FGD) di PKBM Mutiara Al-Islam SurakartaTim Mahasiswa HIBAH JARPAK PLB FKIP UNS Lakukan Penguatan Orang Tua Anak Autis melalui Focus Group Discussion (FGD) di PKBM Mutiara Al-Islam Surakarta

Diskusi berlangsung secara interaktif karena peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga saling berbagi solusi dan pengalaman satu sama lain. Suasana diskusi yang terbuka membuat peserta merasa lebih nyaman dalam menyampaikan berbagai permasalahan yang mereka hadapi sehari-hari. Beberapa orang tua juga saling memberikan dukungan dan motivasi berdasarkan pengalaman pribadi mereka dalam mendampingi anak autis.

Melalui kegiatan ini, orang tua memperoleh pemahaman baru mengenai strategi pendampingan anak autis yang dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua merasa lebih memahami pentingnya pendidikan seksual sebagai bentuk perlindungan diri bagi anak autis serta memahami cara melatih kemandirian anak secara bertahap dan konsisten.

Kegiatan FGD ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman dan kepercayaan diri orang tua dalam mendampingi anak autis. Orang tua merasa lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai perilaku anak serta memperoleh solusi praktis yang dapat diterapkan di rumah. Selain itu, kegiatan ini juga membantu memperkuat hubungan sosial antarsesama orang tua anak autis karena mereka dapat saling berbagi pengalaman dan dukungan emosional.

Para peserta juga menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena memberikan ruang diskusi yang jarang mereka peroleh sebelumnya. Orang tua merasa lebih tenang ketika mengetahui bahwa tantangan yang mereka hadapi ternyata juga dialami oleh orang tua lain. Dengan adanya forum diskusi ini, peserta merasa tidak sendiri dalam mendampingi perkembangan anak autis.

Meskipun kegiatan berjalan dengan baik, terdapat beberapa kendala selama pelaksanaan kegiatan. Tidak semua orang tua dapat hadir karena kesibukan masing-masing sehingga jumlah peserta menjadi terbatas. Selain itu, terdapat beberapa peserta yang awalnya masih pasif dalam mengikuti diskusi karena merasa malu atau kurang percaya diri untuk menyampaikan pendapat. Namun, narasumber dan mahasiswa berusaha menciptakan suasana yang nyaman dan terbuka sehingga peserta постепенно menjadi lebih aktif selama kegiatan berlangsung.

Mahasiswa magang Hibah JARPAK PLB FKIP UNS PKBM Mutiara Al-Islam juga berperan aktif dalam membantu jalannya kegiatan, mulai dari persiapan tempat, pendampingan peserta, dokumentasi kegiatan, hingga membantu proses diskusi berlangsung dengan tertib dan nyaman. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bentuk implementasi pembelajaran langsung di lapangan sekaligus upaya pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan kepada keluarga anak autis.

Kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Orang Tua Anak Autis oleh Tim mahasiswa HIBAH JARPAK PLB FKIP UNS di PKBM Mutiara Al-Islam Surakarta diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kerja sama yang lebih baik antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar dalam mendukung perkembangan anak autis secara optimal. Selain memberikan edukasi, kegiatan ini juga mampu memperkuat dukungan sosial antarsesama orang tua sehingga mereka merasa lebih termotivasi dan percaya diri dalam mendampingi perkembangan anak di rumah.

Melalui kegiatan ini, diharapkan orang tua dapat terus menerapkan strategi pendampingan yang telah diperoleh selama kegiatan berlangsung serta membangun komunikasi dan kerja sama yang baik dengan pihak sekolah maupun lingkungan sekitar. Dengan adanya dukungan yang konsisten dari keluarga dan lingkungan, anak autis diharapkan dapat berkembang secara lebih optimal sesuai potensi yang dimiliki.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan