JATENGKU.COM, KENDAL — Berdasarkan sosialisasi yang dilakukan oleh Ilham Ibra Afisyagani (Agroekoteknologi, Fakultas Peternakan dan Pertanian), pupuk organik cair (POC) didefinisikan sebagai pupuk alami yang berasal dari daun hijau dan fermentasi bakteri aktivator EM4.
Pupuk ini memiliki keunggulan karena mudah diserap oleh tanaman, baik melalui daun maupun akar, yang pada gilirannya mempercepat pertumbuhan tanaman dan menyuburkan tanah tanpa merusak alam. Penggunaan POC merupakan salah satu cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus menjadi solusi yang ramah lingkungan dan ekonomis.
Bahan-bahan utama yang diperlukan untuk membuat pupuk organik cair ini cukup sederhana dan bersumber dari limbah rumah tangga. Bahan-bahan tersebut meliputi air cucian beras, dedaunan hijau seperti sisa sayuran atau daun yang sudah terkena hama, gula merah atau tetes tebu sebagai sumber energi bagi mikroorganisme, dan larutan EM4 yang berfungsi sebagai bioaktivator. Selain itu, diperlukan juga sebuah wadah atau ember bertutup untuk menampung semua bahan selama proses fermentasi berlangsung.

Proses pembuatannya dimulai dengan merajang atau memotong kecil dedaunan dan memasukkannya ke dalam ember. Selanjutnya, air cucian beras ditambahkan ke dalam ember tersebut. Secara terpisah, gula merah dilarutkan dengan sedikit air lalu dicampurkan dengan cairan EM4. Larutan campuran gula dan EM4 ini kemudian dituangkan ke dalam ember berisi dedaunan dan air cucian beras.
Setelah semua bahan tercampur, aduk hingga merata lalu tutup rapat ember untuk memulai proses fermentasi anaerob. Diamkan selama 7-14 hari, dan selama periode ini, aduk sesekali. Pupuk dianggap matang jika sudah mengeluarkan aroma harum asam manis seperti tape. Langkah terakhir adalah menyaring cairan untuk memisahkannya dari ampas; cairan tersebut adalah POC yang siap digunakan, sedangkan ampasnya dapat dijadikan pupuk padat.
Selama proses fermentasi, terjadi perubahan yang dapat diamati setiap minggunya. Pada minggu pertama, suhu adonan akan terasa hangat dengan tekstur cair kental dan beraroma agak busuk, menandakan mikroba mulai memecah bahan organik. Memasuki minggu kedua, fermentasi menjadi lebih aktif dengan suhu yang tetap hangat, tekstur lebih kental, muncul banyak gelembung, dan beraroma asam menyengat.
Di minggu ketiga, proses mulai stabil; suhu sedikit hangat, sebagian bahan mulai mengendap, dan aroma asamnya menjadi lebih segar. Pada minggu keempat, fermentasi dianggap selesai yang ditandai dengan suhu yang sudah dingin, adanya endapan halus di bagian bawah dengan cairan yang lebih jernih di atas, dan aroma khas fermentasi seperti tape. Pada tahap ini, pupuk siap untuk disaring dan digunakan.

Pemanfaatan limbah rumah tangga seperti daun hijau dan air cucian beras menjadi pupuk organik cair (POC) merupakan solusi inovatif untuk pertanian berkelanjutan. Proses pembuatannya cukup sederhana, yakni dengan mencampurkan potongan daun – daunan, air cucian beras, larutan gula merah, dan bioaktivator EM4, yang kemudian difermentasi dalam wadah tertutup selama 7 hingga 14 hari. Pupuk ini siap digunakan setelah melalui proses penyaringan ketika adonan telah mengeluarkan aroma harum asam manis seperti tape, yang menandakan proses fermentasi telah berhasil.
“Mengubah limbah dapur seperti daun dan air cucian beras menjadi pupuk adalah cara cerdas dan ekonomis bagi setiap rumah tangga untuk menyuburkan tanaman. Proses fermentasi sederhana ini secara efektif mengurangi sampah sekaligus ketergantungan kita pada pupuk kimia” Jelas Hega Bintang Pratama Putra, S.T.P., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing Lapangan.
“Pupuk organik cair dari air cucian beras terbukti unggul secara ilmiah karena kaya akan nutrisi makro dan didukung oleh mikroba pengikat nitrogen. Data menunjukkan metode ini dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan, seperti yang terlihat pada peningkatan berat biji kopi Robusta.” Jelas Hega Bintang Pratama Putra, S.T.P., M.Sc. selaku Dosen Pembimbing Lapangan.
Kandungan nutrisi dalam POC yang berbahan dasar air cucian beras (ACB) sangat kaya dan bermanfaat untuk kesuburan tanaman. Di dalamnya terkandung unsur hara makro esensial seperti Nitrogen (0,20%-0,35%), Fosfor (0,015%-0,02%), dan Kalium (0,20%-0,26%), serta diperkaya dengan karbohidrat, mineral lain, dan vitamin B kompleks. Proses fermentasi juga menghasilkan mikroorganisme menguntungkan seperti Bacillus subtilis yang mengurai bahan organik dan Azotobacter serta Rhizobium spp. yang berperan mengikat nitrogen dari udara untuk tanaman.
Manfaat utama dari penggunaan POC ini adalah kemampuannya menyuburkan tanah, mempercepat pertumbuhan, serta ramah lingkungan dan ekonomis. Berdasarkan data perbandingan pada tanaman kopi Robusta, POC dari air cucian beras menunjukkan efektivitas yang sangat baik, bahkan mampu menghasilkan berat basah biji yang lebih tinggi dibandingkan dengan pupuk kimia dan pupuk organik padat. Hal ini membuktikan bahwa pengolahan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik cair tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menyediakan alternatif pupuk berkualitas yang dapat meningkatkan hasil panen secara signifikan.
Penulis: Ilham Ibra Afisyagani (Mahasiswa KKN-T UNDIP 2025)











