JATENGKU.COM, SUKOHARJO — Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah program rutin Universitas Diponegoro (Undip) yang menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Kehadiran mahasiswa ditujukan untuk merespons berbagai permasalahan yang ada di wilayah penempatan.
Dalam hal ini, permasalahan kekeringan menjadi salah satu fokus permasalahan di Desa Plumbon, Sukoharjo, di mana mahasiswa KKN-T IDBU 29 Universitas Diponegoro berperan dalam memberikan solusi melalui pemetaan, sosialisasi, dan edukasi kepada masyarakat guna mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Jumat (18/7/2025), Mahasiswa KKN-T IDBU-29 Universitas Diponegoro melaksanakan program kerja di Desa Plumbon, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menggagas program pemetaan kekeringan sebagai bentuk kontribusi dalam pengelolaan sumber daya air dan edukasi pencegahan over pumping serta edukasi pemanenan air hujan sebagai bentuk antisipasi desa terhadap kekeringan.
Program ini diprakarsai oleh Clarabella Tiara Dewi Fortuna, mahasiswi dari Jurusan Teknik Geologi Undip, yang merespons kebutuhan desa akan data historis kekeringan yang selama ini belum terdokumentasi secara sistematis.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, disusunlah Peta Persebaran Kekeringan Tahun 2014–2024, yang disusun berdasarkan survei lapangan, wawancara warga, seluruh data yang terkumpul kemudian diolah secara spasial menggunakan perangkat lunak ArcGIS, guna menghasilkan Peta Persebaran Kekeringan Desa Plumbon Tahun 2014–2024.
Visualisasi ini memudahkan pihak desa dalam mengenali wilayah-wilayah yang paling terdampak, terutama di bagian timur dan tenggara desa yang teridentifikasi sebagai zona rawan kekeringan.
Untuk memperkuat pemanfaatan hasil pemetaan, Clarabella Tiara Dewi Fortuna juga mengadakan sosialisasi peta kekeringan kepada perangkat desa, perwakilan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), serta perwakilan warga dari setiap Rukun Warga (RW).
Kegiatan ini bertujuan agar informasi tersebut dapat dimanfaatkan secara luas dalam pengambilan keputusan dan upaya mitigasi bencana kekeringan di masa mendatang.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi pencegahan over pumping, yang masih berkaitan erat dengan isu kekeringan, guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air tanah.
“Jika kita memakai air tanah secukupnya, alam punya waktu untuk mengisinya kembali. Tetapi jika air tanah kita pompa berlebihan, sama saja kita memutus pasokan air untuk masa kedepannya,” Ujar Clarabella

Sebagai tindak lanjut, tim juga menginisiasi program sosial kemasyarakatan yang dikoordinatori oleh Wisnu Chotib Pranendhetta, mahasiswa dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) bersama Prof. Dr. Ir. Suharyanto, M.Sc., selaku dosen pembimbing lapangan, membawakan materi “Pemanenan Air Hujan (PAH) dengan Sumur Resapan, Biopori, Rain Barel dalam Pengisisan Air Tanah” sebagai pengembangan gagasan pemanenan air hujan sebagai solusi alternatif menghadapi keterbatasan sumber air bersih.
Gagasan ini diterapkan dalam bentuk rancangan sistem pemanenan air hujan yang dapat diaplikasikan langsung oleh masyarakat rumah tangga di desa, terutama di daerah yang rawan kekeringan. “Saya berharap warga Plumbon dapat mempraktikkan sistem pemanenan air hujan ini untuk mendukung ketersediaan air bersih dan menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Wisnu

Rangkaian program ini tidak hanya memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau, tetapi juga menunjukkan bahwa sinergi antara data spasial, edukasi teknis, dan aksi sosial dapat menjadi strategi nyata untuk mewujudkan akses air bersih yang aman dan berkelanjutan di tingkat desa, sejalan dengan pencapaian SDGs 6.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, mahasiswa KKN Undip tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga meninggalkan jejak keberlanjutan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat desa.
Penulis: Clarabella Tiara Dewi Fortuna











