JATENGKU.COM, SEMARANG — Mengangkat tema “Keliling Dunia dari Penggaron Kidul”, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 86 Universitas Diponegoro menghadirkan sebuah program sosialisasi yang unik dan inspiratif pada Jum’at (18/7/2025).

Bertempat di wilayah RT 03 RW 05, Kelurahan Penggaron Kidul, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, kegiatan ini menyasar para pemuda Karang Taruna sebagai peserta utama, khususnya dari RT 03/RW 05.

Sosialisasi ini menjadi bentuk pengenalan awal terhadap dunia diplomasi, hubungan internasional, dan wawasan global bagi generasi muda desa. Tujuannya bukan hanya untuk memberi pemahaman dasar tentang kerja sama antarnegara dan budaya asing, tetapi juga untuk membangun kesadaran global serta menumbuhkan semangat toleransi dan rasa ingin tahu terhadap dunia luar.

Kegiatan ini dipandu langsung oleh Muhammad Olfat Rabbani, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional Universitas Diponegoro yang juga merupakan bagian dari Tim KKN-T IDBU 86. Dalam pemaparannya, Olfat menyampaikan pentingnya mengenal hubungan internasional di tengah era globalisasi yang semakin kompleks.

“Dengan mempelajari hubungan internasional dan diplomasi, kita tidak hanya menjadi lebih peduli terhadap isu-isu global, tapi juga bisa menjadi jendela dunia serta mengetahui beragam budaya, peristiwa, dan perspektif global tanpa harus meninggalkan tempat kita berada,” ujar Olfat di hadapan peserta.

Ia juga menekankan bahwa pemahaman terhadap dunia internasional membantu generasi muda agar lebih bijak menyikapi berbagai isu global dan terhindar dari penyebaran informasi palsu atau hoaks yang kerap terjadi di media sosial.

Program edukatif ini dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Para peserta tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga diajak berpartisipasi aktif melalui leaflet bertajuk “Paspor Impian”, di mana mereka dapat menuliskan negara impian yang ingin dikunjungi serta hal-hal yang ingin mereka lakukan di negara tersebut. Aktivitas ini menjadi ruang refleksi dan motivasi, membangkitkan mimpi-mimpi besar dari lingkungan desa yang sederhana.

“Paspor impian ini kami rancang untuk menggugah semangat pemuda-pemudi agar terus bermimpi besar dan tidak takut mengeksplor dunia luar. Semua mimpi bisa dicapai, selama ada semangat belajar dan keingintahuan,” tambah Olfat.

Program ini dikemas secara ringan dan disesuaikan dengan minat pemuda masa kini. Dalam sesi sosialisasi, peserta dikenalkan dengan bentuk-bentuk soft diplomacy yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti diplomasi olahraga, gastrodiplomasi melalui kopi dan kuliner khas Indonesia, hingga strategi Korea Selatan dalam memanfaatkan industri hiburan (K-Wave) sebagai alat diplomasi budaya yang sukses menjangkau dunia.

Pendekatan ini membuat peserta lebih mudah memahami bahwa diplomasi bukan hanya soal politik atau hubungan antarnegara secara formal, tetapi juga bisa hadir dalam bentuk musik, film, makanan, bahkan hobi yang digemari anak muda. Tak heran, pembahasan ini langsung membangkitkan semangat dan rasa penasaran peserta yang aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman mereka terkait budaya asing yang mereka sukai.

Kegiatan ini ditutup dengan kuis berhadiah yang berisi pertanyaan seputar budaya negara, makanan khas, serta nama-nama benua. Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka menjawab pertanyaan dan berdiskusi secara aktif. Tawa dan semangat belajar menyatu dalam suasana hangat yang membangun semangat kebersamaan.

Mahasiswa KKN Undip berfoto bersama pemuda Karang Taruna setelah sesi sosialisasi wawasan global di Kelurahan Penggaron Kidul, Semarang. Program ini berhasil membangkitkan semangat dan mimpi para pemuda untuk mengeksplorasi dunia luar.

Program ini dapat menjadi alasan bahwa diplomasi dan wawasan global bukanlah hal yang jauh dari pemuda desa. Dengan pendekatan yang ringan dan edukatif, sosialisasi “Keliling Dunia dari Penggaron Kidul” diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam membentuk kesadaran global di kalangan pemuda, tanpa mengesampingkan identitas lokal.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ajakan bahwa pemuda desa memiliki hak dan potensi yang sama untuk mengenal dunia luar, menjadi aktor perubahan, serta ikut terlibat aktif dalam membangun perdamaian dan kerja sama antarbangsa, mulai dari ruang-ruang kecil yang mereka miliki.

Penulis: Muhammad Olfat Rabbani

Editor: Handayat