Ketika Algoritma Menentukan Apa yang Kita Perca...

Ketika Algoritma Menentukan Apa yang Kita Percaya, Perkembangan Teknologi Media dan Perubahan Pola Komunikasi Masyarakat

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Surabaya — Perkembangan teknologi media telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Jika dua dekade lalu masyarakat mengandalkan surat kabar, radio, atau televisi sebagai sumber informasi utama, kini hampir semua kebutuhan komunikasi dapat dipenuhi melalui telepon pintar yang berada di genggaman. Kehadiran internet, media sosial, dan berbagai platform digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, membangun hubungan sosial, membentuk budaya, hingga mengonsumsi informasi. Perubahan ini tidak hanya menghadirkan kemudahan, tetapi juga tantangan yang memerlukan kesiapan masyarakat agar mampu beradaptasi secara bijak.

Perubahan paling nyata terlihat pada pola komunikasi. Dulu komunikasi lebih banyak berlangsung secara langsung melalui tatap muka atau percakapan telepon. Saat ini, komunikasi berlangsung hampir tanpa batas ruang dan waktu melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, Telegram, hingga X. Seseorang dapat berbicara dengan keluarga di kota lain, mengikuti rapat kerja dari rumah, bahkan menghadiri seminar internasional tanpa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Teknologi telah membuat komunikasi menjadi lebih cepat, efisien, dan mudah dijangkau oleh hampir semua lapisan masyarakat.

Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat perubahan yang cukup signifikan terhadap kualitas komunikasi. Banyak orang lebih sering mengirim pesan singkat dibandingkan berbicara secara langsung. Percakapan yang dahulu berlangsung panjang kini digantikan dengan emoji, stiker, atau reaksi singkat. Tidak sedikit pula keluarga yang berada dalam satu ruangan, tetapi masing-masing lebih fokus pada layar telepon genggam daripada berinteraksi satu sama lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kualitas hubungan interpersonal.

Teknologi media juga mengubah struktur sosial masyarakat. Dahulu media massa memiliki peran sebagai gatekeeperyang menentukan informasi apa yang layak dipublikasikan kepada masyarakat. Saat ini, siapa pun dapat menjadi produsen informasi. Dengan bermodalkan telepon pintar dan akses internet, seseorang dapat membuat video, menulis opini, atau melakukan siaran langsung yang dapat disaksikan ribuan hingga jutaan orang. Perubahan ini membuka ruang demokrasi yang lebih luas karena masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat.

Di sisi lain, kondisi tersebut juga memunculkan tantangan baru. Tidak semua informasi yang beredar memiliki dasar yang benar. Banyak konten dibuat hanya untuk mengejar jumlah penonton, tanda suka, atau keuntungan ekonomi tanpa memperhatikan akurasi informasi. Akibatnya, hoaks, disinformasi, dan informasi yang menyesatkan lebih mudah menyebar dibandingkan informasi yang telah melalui proses verifikasi. Fenomena ini menjadi salah satu persoalan komunikasi yang paling sering dihadapi masyarakat digital saat ini.

Perubahan lain yang tidak kalah penting adalah perubahan budaya. Kehadiran media digital telah membentuk budaya baru yang serba cepat. Masyarakat terbiasa memperoleh informasi dalam bentuk video singkat, infografis, maupun potongan berita yang dapat dikonsumsi hanya dalam hitungan detik. Budaya membaca artikel panjang perlahan mulai berkurang, tergantikan oleh kebiasaan menggulir layar (scrolling) tanpa henti. Informasi dikonsumsi dengan cepat, tetapi belum tentu dipahami secara utuh.

Budaya digital juga melahirkan fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal informasi atau tren yang sedang berkembang. Banyak orang merasa harus selalu mengikuti berita terbaru, tantangan viral, maupun isu yang sedang ramai diperbincangkan agar tetap dianggap relevan dalam lingkungan sosialnya. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin bergantung pada media digital sebagai sumber utama informasi sekaligus ruang untuk membangun identitas diri.

Perubahan pola konsumsi informasi masyarakat semakin dipengaruhi oleh algoritma media sosial. Algoritma bekerja dengan mempelajari kebiasaan pengguna, kemudian menampilkan konten yang dianggap sesuai dengan minat mereka. Semakin sering seseorang menonton video tertentu atau memberikan tanda suka pada suatu jenis konten, semakin banyak pula konten serupa yang akan muncul pada berandanya. Tanpa disadari, algoritma membentuk ruang informasi yang berbeda bagi setiap individu.

Di sinilah muncul tantangan yang cukup serius. Banyak orang menganggap informasi yang sering muncul di media sosial sebagai gambaran kenyataan yang sebenarnya. Padahal, informasi tersebut hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan realitas yang telah dipilih oleh algoritma. Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa semua orang memiliki pendapat yang sama dengannya, padahal kenyataannya tidak demikian. Fenomena ini dikenal sebagai echo chamber, yaitu kondisi ketika seseorang hanya menerima informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri sehingga semakin sulit menerima sudut pandang yang berbeda.

Dampak lain dari kondisi tersebut adalah meningkatnya polarisasi di masyarakat. Perbedaan pendapat yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan demokrasi sering berubah menjadi konflik di ruang digital. Kolom komentar media sosial dipenuhi perdebatan yang tidak sehat, bahkan tidak jarang disertai ujaran kebencian dan serangan personal. Teknologi yang seharusnya menjadi sarana mempererat komunikasi justru dapat memicu perpecahan apabila tidak disertai kemampuan berpikir kritis.

Meskipun demikian, perkembangan teknologi media tidak dapat dipandang hanya dari sisi negatif. Berbagai inovasi digital juga memberikan manfaat yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan. Dunia pendidikan menjadi lebih terbuka melalui pembelajaran daring, pelaku usaha kecil mampu memperluas pasar melalui media sosial, tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dengan lebih mudah, dan berbagai gerakan sosial dapat memperoleh dukungan secara cepat melalui kampanye digital. Teknologi telah menciptakan banyak peluang yang sebelumnya sulit diwujudkan.

Oleh karena itu, yang perlu dibangun bukanlah sikap menolak teknologi, melainkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya secara bijaksana. Literasi digital menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki setiap individu. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga kemampuan mencari informasi, mengevaluasi sumber, memahami konteks, serta menggunakan media digital secara bertanggung jawab. Dengan literasi digital yang baik, masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar dan lebih mampu mengambil keputusan berdasarkan fakta.

Perubahan yang dibawa oleh teknologi media juga memengaruhi cara masyarakat membangun kepercayaan terhadap sebuah informasi. Dahulu, masyarakat cenderung mempercayai informasi yang berasal dari media massa karena telah melalui proses penyuntingan dan verifikasi yang ketat. Kini, informasi dapat berasal dari siapa saja, termasuk individu yang tidak memiliki latar belakang atau kompetensi pada bidang tertentu. Tidak sedikit masyarakat yang lebih percaya pada pendapat seorang influencer dibandingkan penjelasan dari pakar atau lembaga resmi. Fenomena ini menunjukkan bahwa kredibilitas di era digital tidak lagi hanya ditentukan oleh keahlian, tetapi juga oleh popularitas, jumlah pengikut, dan kemampuan menarik perhatian audiens. Kondisi tersebut menjadi tantangan baru bagi masyarakat agar tidak mudah menerima informasi hanya berdasarkan siapa yang menyampaikannya.

Tantangan tersebut menuntut masyarakat memiliki kemampuan untuk membedakan antara opini, pengalaman pribadi, konten promosi, dan informasi yang benar-benar didukung oleh data. Apabila kemampuan tersebut tidak dimiliki, masyarakat akan mudah terpengaruh oleh narasi yang bersifat provokatif maupun emosional. Padahal, keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang keliru dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga hubungan sosial. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan yang harus terus dikembangkan agar masyarakat mampu menilai informasi secara objektif sebelum mengambil keputusan.

Selain memengaruhi cara memperoleh informasi, perkembangan teknologi media juga mengubah pola interaksi antargenerasi. Generasi yang lahir di era digital memiliki kebiasaan berkomunikasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka lebih terbiasa memperoleh informasi melalui video singkat, media sosial, dan berbagai platform digital. Sebaliknya, generasi yang lebih tua masih banyak mengandalkan media konvensional atau komunikasi secara langsung. Perbedaan tersebut terkadang menimbulkan kesenjangan dalam memahami suatu isu. Tidak jarang terjadi perbedaan pandangan hanya karena sumber informasi yang digunakan berbeda. Oleh sebab itu, kemampuan beradaptasi serta saling menghargai perbedaan cara berkomunikasi menjadi hal yang penting agar teknologi tidak justru menciptakan jarak di tengah keluarga maupun masyarakat.

Di sisi lain, media digital juga membuka peluang besar bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam berbagai isu sosial. Kampanye lingkungan, penggalangan dana kemanusiaan, edukasi kesehatan, promosi budaya lokal, hingga gerakan pemberdayaan masyarakat kini dapat dilakukan dengan lebih cepat dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Berbagai komunitas dapat terbentuk tanpa dibatasi oleh wilayah geografis, sehingga kolaborasi menjadi lebih mudah dilakukan. Hal ini membuktikan bahwa teknologi media pada dasarnya merupakan alat yang netral. Dampak positif atau negatifnya sangat bergantung pada bagaimana masyarakat memanfaatkannya. Ketika digunakan secara bertanggung jawab, media digital mampu menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan, memperkuat solidaritas sosial, memperluas partisipasi publik, dan mendorong terciptanya ruang komunikasi yang lebih inklusif.

Selain literasi digital, diperlukan pula kolaborasi antara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, media massa, pemerintah, dan perusahaan teknologi untuk menciptakan ekosistem digital yang sehat. Orang tua memiliki peran penting dalam mendampingi anak saat menggunakan media digital agar mereka mampu memilih informasi secara bijaksana. Lembaga pendidikan perlu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis serta etika bermedia sejak dini. Di sisi lain, media massa harus tetap menjaga kualitas jurnalisme sebagai sumber informasi yang kredibel, sementara pemerintah dan perusahaan teknologi perlu terus memperkuat upaya dalam mengurangi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta konten yang merugikan masyarakat.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi media merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Perubahan terhadap pola komunikasi, struktur sosial, budaya, dan pola konsumsi informasi akan terus berlangsung seiring berkembangnya teknologi. Tantangan terbesar masyarakat saat ini bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana memilih informasi yang benar di tengah derasnya arus konten digital. Kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan sikap bertanggung jawab menjadi kunci agar teknologi benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Teknologi seharusnya menjadi alat yang memperkuat kualitas komunikasi, memperluas wawasan, dan mendukung terciptanya masyarakat yang lebih cerdas. Namun, semua itu hanya dapat terwujud apabila pengguna tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada algoritma. Pada akhirnya, keputusan mengenai apa yang akan dipercaya tetap berada di tangan manusia. Teknologi dapat membantu menyajikan informasi, tetapi manusialah yang memiliki tanggung jawab untuk menilai, memahami, dan menggunakan informasi tersebut secara bijaksana. Dengan demikian, perkembangan teknologi media tidak hanya menjadi simbol kemajuan zaman, tetapi juga menjadi peluang untuk membangun masyarakat yang lebih kritis, adaptif, dan bertanggung jawab dalam menghadapi dinamika komunikasi di era digital.

Firman Setiawan

Penulis: Mas Rara Aisyah Rahmah

Mahasiswa Program Magister Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan