JATENGKU.COM, KAB. SEMARANG — Sebuah inovasi pertanian modern berhasil diperkenalkan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Langensari, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
Program ini menghadirkan workshop pembuatan instalasi hidroponik sederhana sebagai solusi pemanfaatan lahan sempit sekaligus upaya mendukung ketahanan pangan masyarakat. M. Audra Aufa Azmi, mahasiswa Prodi Teknik Geologi Undip, melaksanakan kegiatan ini bersama tim KKN dengan melibatkan Karang Taruna RW 06 sebagai mitra utama.
Menurut Audra, potensi masyarakat Langensari dalam bidang pertanian sebenarnya cukup besar, namun masih terhambat oleh keterbatasan lahan serta kurangnya pengetahuan mengenai metode bercocok tanam modern.
“Selama ini, kebanyakan warga hanya mengenal cara tanam konvensional di tanah, tetapi lahannya terbatas. Melalui hidroponik, mereka bisa memanfaatkan pekarangan kecil untuk menanam sayuran yang sehat, bersih, dan bisa dipanen lebih cepat,” jelasnya.
Workshop ini sengaja diarahkan kepada Karang Taruna karena pemuda dianggap sebagai motor penggerak perubahan yang dapat menularkan ilmu baru ke masyarakat luas.
Dalam kegiatan workshop, peserta diperkenalkan pada tiga sistem hidroponik populer, yaitu Wick System, Nutrient Film Technique (NFT), dan Deep Flow Technique (DFT).
Wick merupakan sistem paling sederhana dengan sumbu sebagai perantara nutrisi ke akar, NFT memanfaatkan aliran tipis larutan nutrisi yang bergerak terus-menerus, sedangkan DFT menjaga akar terendam sebagian dalam larutan sehingga suplai air dan oksigen lebih stabil.
Dari ketiga sistem tersebut, praktik perakitan difokuskan pada sistem DFT sederhana karena mudah diaplikasikan di pekarangan rumah.
Demonstrasi dilakukan dengan langkah sederhana, dimulai dari pengenalan bahan dan alat, hingga perakitan instalasi. Tidak hanya praktik, Audra juga memberikan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana kepada peserta sebagai panduan tertulis.
SOP tersebut mencakup persiapan media semai, pengecekan pompa dan aliran nutrisi, pengaturan konsentrasi larutan, hingga prosedur pembersihan alat setelah digunakan. Dengan adanya panduan ini, peserta bisa lebih percaya diri jika ingin mencoba sistem hidroponik secara mandiri.
“Kami ingin memastikan bahwa setelah workshop berakhir, peserta tetap punya pegangan praktis untuk menerapkan hidroponik di rumah masing-masing,” ungkap Audra.
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari pihak kelurahan dan masyarakat setempat. Pemerintah Kelurahan Langensari menilai program ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan lokal.
Karang Taruna sebagai sasaran utama kegiatan juga merasa terbantu dengan keterampilan baru yang mereka peroleh. Selain meningkatkan keterampilan bercocok tanam, workshop ini juga mendorong munculnya ide-ide kewirausahaan berbasis pertanian modern yang bisa dikembangkan lebih lanjut oleh pemuda desa.
Mas Wildan, salah satu karang taruna Rw 06 menyampaikan bahwa “secara keseluruhan, kegiatan ini berdampak positif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kami sebagai karang taruna. Kami tidak hanya memahami teori dari literatur, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui praktik.” Ujar Mas wildan Ke depan,
Program ini dilaksanakan oleh Tim Pelaksana: Yuli Prasetyo Adhi, S.H., M.Kn. (Universitas Diponegoro), Mj Rizqon Hasani, S.Hum., M.I.Kom. (Universitas Diponegoro), dan Dr. Martien Herna Susanti, S.Sos., M.Si. (Universitas Negeri Semarang).
Sebagai penutup, Tim PMM UNDIP menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat serta Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Republik Indonesia yang telah mendanai program ini melalui kontrak pelaksanaan kegiatan nomor: 062/C3/DT.05.00/PM/2025 (kontrak induk dan nomor: 360-14/UN7.D2.1/PM/V/2025 (kontrak turunan).
Penulis: Muhammad Audra Aufa Azmi, Mahasiswa Prodi Teknik Geologi Universitas Diponegoro










