Gunungtugel, Wonosobo – Melimpahnya hasil panen salak di Desa Gunungtugel, Kabupaten Wonosobo, ternyata menyisakan persoalan tersendiri. Tidak semua buah yang dipanen dapat dipasarkan karena sebagian tidak memenuhi standar kualitas. Melihat potensi tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 172 menghadirkan solusi inovatif dengan mengolah salak yang tidak layak jual menjadi produk sabun ramah lingkungan.

Inovasi ini diwujudkan melalui program bertajuk ECO-CLEAN, yang dilaksanakan pada Sabtu, 31 Januari 2026. Program tersebut menjadi salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal sekaligus mengurangi limbah hasil pertanian.

Sebanyak sepuluh mahasiswa KKN UNS terlibat dalam kegiatan ini. Mereka menginisiasi pelatihan kepada masyarakat mengenai cara mengolah ekstrak sari buah salak menjadi sabun serbaguna yang lebih aman bagi lingkungan. Selain menghadirkan produk alternatif, inovasi ini juga diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa.

Kepala Desa Gunungtugel, Budi Setiawan D. T. S., S.Pd., MM., MPd., menyampaikan apresiasi atas ide kreatif yang dihadirkan oleh mahasiswa KKN.

Kami sangat mendukung kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UNS ini. Desa Gunungtugel memang memiliki hasil panen salak yang melimpah. Dengan adanya inovasi seperti ini, masyarakat dapat memanfaatkan buah yang sebelumnya tidak terjual menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi” ujarnya.

Penanggung jawab program ECO-CLEAN, Intan Firuiza Patria Ramadha, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk edukasi sekaligus pemberdayaan masyarakat.

Kami ingin menunjukkan bahwa buah salak yang sering dianggap tidak bernilai masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Melalui pelatihan ini, masyarakat tidak hanya belajar membuat sabun, tetapi juga memahami bagaimana menghitung biaya produksi hingga menentukan harga jual produk” jelasnya.

Keunggulan program ECO-CLEAN tidak hanya terletak pada inovasi produknya, tetapi juga pada pendekatan pemberdayaan masyarakat yang lebih menyeluruh. Dalam kegiatan tersebut, tidak hanya memberikan pelatihan pembuatan sabun dari ekstrak salak, tetapi juga membekali warga dengan pengetahuan mengenai strategi pemasaran, termasuk cara memasarkan produk secara daring melalui media sosial dan platform digital. Melalui pendampingan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya mampu memproduksi sabun ramah lingkungan, tetapi juga memiliki keterampilan untuk memasarkan dan mengembangkan produk tersebut sehingga berpotensi menjadi usaha yang berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua KKN UNS Kelompok 172, Rizky Siota, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa dalam mendorong pengembangan potensi desa secara berkelanjutan.

Kegiatan pelatihan yang digelar mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Warga tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari penyampaian materi mengenai dampak penggunaan bahan pembersih berbasis kimia, demonstrasi proses pembuatan sabun dari ekstrak salak, hingga praktik langsung pembuatan serta pengemasan produk.

Dari hasil pelatihan tersebut, sabun yang dihasilkan dinilai memiliki kualitas yang baik dan layak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ke depan, program ECO-CLEAN diharapkan dapat mendorong masyarakat Desa Gunungtugel untuk memanfaatkan hasil pertanian secara lebih optimal sekaligus mengembangkan produk ramah lingkungan yang bernilai ekonomi.

Dokumentasi Antuasiasme Waga Desa Gunungtugel dalam Pembuatan Sabun.

Editor: Handayat

Tag