Rekomendasi

    Mengapa Mahasiswa Mulai Memilih QRIS Syariah untuk Transaksi Harian? Bukan Sekadar Mengikuti Tren Digital

    Ilustrasi mahasiswa melakukan pembayaran menggunakan QRIS saat berbelanja di toko. Sumber: Dokumentasi pribadi, 2026.
    Firman Setiawan

    Penulis: Zhalfa Fathika Khusna Siregar

    Zhalfa Fathika Khusna Siregar adalah mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis memiliki minat pada isu ekonomi syariah, transformasi digital, dan literasi keuangan.

    Ketika Dompet Tak Lagi Menjadi Andalan

    Bel berbunyi menandakan jam kuliah usai. Seperti biasa, kantin kampus langsung dipenuhi mahasiswa yang ingin mengisi perut sebelum masuk ke kelas berikutnya. Namun, ada satu pemandangan yang kini hampir selalu terlihat. Saat tiba di kasir, kebanyakan mahasiswa tidak lagi sibuk mencari uang di dalam dompet. Mereka cukup mengeluarkan telepon genggam, membuka aplikasi pembayaran, memindai kode QR, lalu dalam beberapa detik transaksi selesai.

    Perubahan kecil itu mungkin terlihat biasa. Akan tetapi, jika diperhatikan lebih jauh, kebiasaan tersebut menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah cara masyarakat bertransaksi. Kehadiran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) membuat pembayaran menjadi jauh lebih sederhana. Satu kode QR dapat digunakan oleh berbagai aplikasi pembayaran maupun mobile banking sehingga masyarakat tidak perlu lagi memikirkan perbedaan penyedia layanan.

    Bagi mahasiswa, kemudahan seperti ini bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan sudah menjadi kebutuhan. Jadwal kuliah yang padat, kegiatan organisasi, hingga pekerjaan sampingan membuat mereka membutuhkan metode pembayaran yang cepat, aman, dan praktis.

    Menariknya, di tengah meningkatnya penggunaan QRIS, mulai muncul kecenderungan baru. Sebagian mahasiswa memilih menggunakan QRIS melalui aplikasi mobile banking bank syariah. Jumlahnya memang belum sebanyak pengguna layanan konvensional, tetapi tren ini menunjukkan bahwa layanan keuangan syariah mulai mampu beradaptasi dengan gaya hidup digital generasi muda.

    Pilihan tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh faktor keagamaan. Banyak mahasiswa mengaku memilih QRIS syariah karena aplikasinya mudah digunakan, fitur yang ditawarkan semakin lengkap, dan transaksi dapat dilakukan di hampir semua tempat yang menyediakan QRIS. Dengan kata lain, mereka tidak merasa harus mengorbankan kenyamanan hanya karena memilih layanan berbasis syariah.

    Perubahan ini juga menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap bank syariah mulai berubah. Jika dahulu bank syariah sering dianggap hanya fokus pada tabungan atau pembiayaan, kini berbagai inovasi digital membuktikan bahwa layanan syariah mampu mengikuti perkembangan teknologi. Pembayaran menggunakan QRIS, transfer antarbank, pembayaran tagihan, hingga pembelian pulsa kini tersedia dalam satu aplikasi yang mudah diakses melalui telepon genggam.

    Di sisi lain, penggunaan QRIS ternyata membawa manfaat yang sering kali tidak disadari mahasiswa. Riwayat transaksi yang otomatis tersimpan di aplikasi membantu pengguna melihat pola pengeluaran mereka setiap hari. Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun kemampuan mengelola keuangan secara lebih bijak. Mahasiswa dapat mengetahui berapa banyak uang yang dihabiskan untuk makan, transportasi, atau kebutuhan lainnya tanpa harus mencatat secara manual.

    Kemudahan tersebut tentu menjadi alasan mengapa pembayaran digital semakin diminati. Akan tetapi, muncul pertanyaan yang lebih menarik. Mengapa sebagian mahasiswa mulai memilih QRIS syariah dibandingkan layanan digital lainnya? Apakah hanya karena mengikuti tren, atau ada alasan lain yang membuat layanan ini semakin relevan di kalangan generasi muda?

    Mengapa QRIS Syariah Mulai Dilirik Mahasiswa?

    Jika ditanya apa alasan utama mahasiswa menggunakan QRIS, sebagian besar mungkin akan menjawab karena praktis. Jawaban itu memang tidak salah. Namun, bagi mahasiswa yang mulai menggunakan QRIS melalui aplikasi bank syariah, ada alasan lain yang perlahan ikut menjadi pertimbangan.

    Generasi muda saat ini tumbuh di tengah arus informasi yang sangat cepat. Melalui media sosial, seminar kampus, podcast, hingga berbagai konten edukasi, mereka lebih mudah memperoleh informasi mengenai literasi keuangan. Akibatnya, banyak mahasiswa yang tidak hanya ingin mengetahui cara menggunakan sebuah layanan, tetapi juga memahami bagaimana sistem di balik layanan tersebut bekerja.

    Dalam konteks itulah bank syariah mulai mendapat perhatian. Mahasiswa tidak lagi memandang bank syariah sebagai lembaga yang hanya melayani kelompok tertentu. Sebaliknya, mereka mulai melihat bahwa bank syariah juga menawarkan layanan digital yang modern dan mampu memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari.

    Kemudahan tersebut semakin terasa karena penggunaan QRIS pada dasarnya tidak berbeda dengan aplikasi pembayaran lainnya. Pengguna cukup membuka aplikasi mobile banking, memilih menu QRIS, memindai kode yang tersedia, kemudian mengonfirmasi pembayaran. Seluruh proses hanya membutuhkan beberapa detik. Artinya, memilih layanan syariah tidak berarti harus mengorbankan kecepatan ataupun kenyamanan.

    Selain itu, penggunaan QRIS syariah juga membantu mahasiswa membangun kebiasaan mengelola keuangan. Setiap transaksi tercatat secara otomatis sehingga pengguna dapat melihat riwayat pengeluaran kapan saja. Fitur sederhana ini sering kali dianggap sepele, padahal sangat bermanfaat untuk mengevaluasi kebiasaan belanja. Mahasiswa dapat mengetahui apakah uang sakunya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan akademik, konsumsi, atau pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi.

    Kesadaran seperti inilah yang menjadi salah satu bentuk literasi keuangan. Mengelola uang bukan hanya soal memiliki penghasilan yang besar, tetapi juga memahami ke mana uang tersebut digunakan. Semakin dini seseorang terbiasa mengatur keuangan, semakin besar pula peluangnya memiliki kondisi finansial yang sehat di masa depan.

    Di sisi lain, perkembangan layanan digital bank syariah juga menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Berbagai fitur yang sebelumnya hanya identik dengan bank konvensional kini tersedia dalam aplikasi mobile banking syariah. Mulai dari transfer antarbank, pembayaran tagihan listrik dan internet, pembelian pulsa, pembayaran zakat, hingga transaksi menggunakan QRIS dapat dilakukan melalui satu aplikasi. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital juga menjadi perhatian utama industri perbankan syariah.

    Meski demikian, tantangan masih tetap ada. Tidak sedikit mahasiswa yang belum mengetahui bahwa layanan QRIS tersedia di berbagai aplikasi bank syariah. Sebagian lainnya masih menganggap proses pembukaan rekening syariah lebih rumit dibandingkan rekening biasa. Padahal, saat ini sebagian besar bank telah menyediakan layanan pembukaan rekening secara daring yang jauh lebih mudah dibandingkan beberapa tahun lalu.

    Faktor lain yang memengaruhi pilihan mahasiswa adalah lingkungan. Ketika teman-teman mulai menggunakan pembayaran digital, seseorang cenderung ikut mencoba karena dianggap lebih praktis. Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan di sekitarnya. Oleh karena itu, semakin banyak pelaku usaha di lingkungan kampus yang menyediakan QRIS, semakin besar pula kemungkinan mahasiswa beralih ke pembayaran digital, termasuk melalui aplikasi bank syariah.

    Namun, menurut saya, alasan terpenting bukanlah sekadar karena teknologi semakin canggih. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu masyarakat mengambil keputusan keuangan yang lebih baik. QRIS hanyalah alat. Manfaat sebenarnya akan terasa ketika pengguna mampu memanfaatkannya secara bijak, menghindari perilaku konsumtif, dan menjadikan kemudahan transaksi sebagai sarana untuk mengelola keuangan secara lebih bertanggung jawab.

    Literasi Keuangan Menjadi Penentu, Bukan Sekadar Teknologi

    Kemudahan teknologi memang menjadi alasan utama banyak mahasiswa beralih ke pembayaran digital. Namun, kemudahan saja sebenarnya tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang memahami cara menggunakan teknologi tersebut secara bijak. Di sinilah literasi keuangan memiliki peran yang sangat penting.

    Masih banyak mahasiswa yang menganggap pembayaran digital hanya sebagai alat untuk mempercepat transaksi. Padahal, jika dimanfaatkan dengan benar, aplikasi mobile banking maupun QRIS dapat menjadi sarana belajar mengelola keuangan. Riwayat transaksi yang tersimpan secara otomatis dapat membantu pengguna mengetahui pola pengeluaran setiap bulan. Dari sana, mahasiswa bisa mengevaluasi apakah uang yang dimiliki lebih banyak digunakan untuk kebutuhan, keinginan, atau bahkan pengeluaran yang sebenarnya dapat dihindari.

    Sayangnya, tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia masih terus menjadi pekerjaan rumah. Berbagai survei menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan syariah masih lebih rendah dibandingkan layanan keuangan secara umum. Hal ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan, perbankan, dan pemerintah untuk meningkatkan edukasi kepada generasi muda.

    Kampus memiliki posisi yang sangat strategis dalam membangun budaya literasi keuangan. Melalui seminar, pelatihan, organisasi mahasiswa, hingga kegiatan kewirausahaan, mahasiswa dapat dikenalkan pada pentingnya mengelola keuangan sejak dini. Edukasi semacam ini tidak hanya membahas teori, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai penggunaan layanan keuangan digital secara aman dan bertanggung jawab.

    Perkembangan teknologi juga membuat batas antara layanan konvensional dan syariah semakin tipis dari sisi pengalaman pengguna. Aplikasi mobile banking syariah kini menawarkan berbagai fitur yang lengkap, mulai dari transfer dana, pembayaran tagihan, pembelian pulsa, hingga pembayaran menggunakan QRIS. Artinya, mahasiswa tidak perlu lagi memilih antara kemudahan teknologi atau layanan berbasis syariah karena keduanya kini dapat berjalan beriringan.

    Di sisi lain, meningkatnya penggunaan QRIS turut memberikan manfaat bagi pelaku UMKM di sekitar kampus. Pembayaran menjadi lebih cepat, pencatatan transaksi lebih rapi, dan risiko menerima uang palsu atau kesalahan menghitung uang kembalian dapat dikurangi. Bagi mahasiswa, keberadaan QRIS juga memudahkan transaksi di berbagai tempat tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar.

    Melihat perkembangan tersebut, saya optimistis bahwa penggunaan QRIS syariah akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Generasi muda merupakan kelompok yang paling cepat menerima inovasi teknologi. Jika didukung dengan edukasi yang baik, mereka bukan hanya menjadi pengguna layanan digital, tetapi juga mampu menjadi agen literasi keuangan di lingkungan sekitarnya.

    Bank Indonesia terus mendorong perluasan ekosistem QRIS sebagai bagian dari transformasi sistem pembayaran nasional, sementara berbagai program literasi keuangan syariah juga terus diperkuat bersama berbagai pemangku kepentingan. Upaya tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada peningkatan pemahaman masyarakat dalam memanfaatkan layanan keuangan secara bertanggung jawab.

    Pada akhirnya, perkembangan pembayaran digital seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya pengguna, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat dalam mengelola keuangan. Bagi mahasiswa, QRIS syariah bukan sekadar cara baru untuk membayar makanan di kantin atau membeli kebutuhan sehari-hari. Lebih dari itu, layanan ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih baik, lebih disiplin, dan lebih bertanggung jawab.

    Masa Depan QRIS Syariah Ada di Tangan Generasi Muda

    Perubahan kebiasaan dalam bertransaksi menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Jika dahulu pembayaran digital hanya dianggap sebagai alternatif, kini justru menjadi pilihan utama karena mampu menjawab kebutuhan akan kecepatan, kemudahan, dan efisiensi.

    Dalam kondisi tersebut, kehadiran QRIS syariah memberikan warna baru bagi perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia. Mahasiswa yang memilih layanan ini tidak selalu didorong oleh alasan religius semata. Banyak di antara mereka yang melihat bahwa layanan perbankan syariah kini telah berkembang pesat, memiliki fitur yang lengkap, mudah digunakan, dan mampu memenuhi kebutuhan transaksi sehari-hari seperti layanan digital lainnya.

    Namun, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat generasi muda hanya menjadi pengguna yang pasif. Kemudahan pembayaran sering kali mendorong seseorang melakukan pembelian secara impulsif tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Karena itu, kemampuan mengelola keuangan tetap menjadi keterampilan yang harus dimiliki setiap mahasiswa.

    Menurut saya, penggunaan QRIS syariah akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila diiringi dengan peningkatan literasi keuangan. Mahasiswa tidak hanya belajar menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara mengatur pengeluaran, membuat prioritas kebutuhan, serta mengambil keputusan finansial secara lebih bijaksana. Kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi akan menjadi bekal yang sangat berharga ketika memasuki dunia kerja maupun kehidupan setelah lulus kuliah.

    Kampus juga memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi keuangan. Seminar, pelatihan, maupun diskusi mengenai ekonomi digital dan keuangan syariah dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memahami bahwa inovasi teknologi bukan hanya tentang kecanggihan aplikasi, melainkan juga tentang bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

    Di sisi lain, industri perbankan syariah perlu terus menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan generasi muda. Aplikasi yang mudah digunakan, pelayanan yang cepat, keamanan transaksi, serta edukasi yang sederhana akan menjadi faktor penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat. Semakin mudah layanan dipahami, semakin besar pula peluang generasi muda untuk menjadikannya sebagai pilihan utama.

    Pada akhirnya, memilih QRIS syariah bukan berarti menolak perkembangan teknologi modern. Justru sebaliknya, pilihan tersebut menunjukkan bahwa inovasi digital dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Teknologi dan prinsip syariah tidak harus dipertentangkan karena keduanya dapat saling melengkapi dalam memberikan manfaat bagi kehidupan sehari-hari.

    Generasi muda memiliki peran besar dalam menentukan arah perkembangan ekonomi digital Indonesia. Dengan sikap yang terbuka terhadap inovasi, diiringi kemampuan mengelola keuangan secara bertanggung jawab, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari lahirnya ekosistem keuangan digital yang lebih inklusif, aman, dan berkelanjutan.

    Mungkin hari ini QRIS hanya digunakan untuk membeli makan siang di kantin kampus atau secangkir kopi sebelum kuliah dimulai. Namun, dari kebiasaan sederhana itulah lahir generasi yang semakin sadar akan pentingnya literasi keuangan, pemanfaatan teknologi, dan pengambilan keputusan finansial yang lebih bijaksana. Di situlah nilai sebenarnya dari perkembangan QRIS syariah: bukan sekadar mempermudah transaksi, tetapi ikut membentuk budaya keuangan yang lebih baik bagi masa depan.

    Daftar Pustaka

    • Bank Indonesia. Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). https://www.bi.go.id⁠
    • Otoritas Jasa Keuangan. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Indonesia. https://www.ojk.go.id⁠
    • Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
    Avatar photo
    Avatar photo
    Handayat
    Penulis