Program Literasi BSI di Sekolah & UMKM: Ma...

Program Literasi BSI di Sekolah & UMKM: Masalah Literasi Keuangan Syariah yang Belum Terpecahkan

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Jakarta — Meskipun Indonesia tengah berkomitmen untuk menjadi pusat finansial syariah dunia, paradoksnya, orang-orang di negara itu masih sangat kurang memahami keuangan syariah. Menurut data SNLIK 2025 dari OJK, literasi keuangan nasional meningkat menjadi 66,46%, tetapi literasi syariah masih sangat rendah, dengan hanya 43,42% dan inklusi yang sangat rendah, 13,41%. Ini adalah masalah struktural yang memerlukan sistem pendidikan menyeluruh, mulai dari sekolah hingga UMKM, agar keuangan syariah benar-benar digunakan masyarakat.

Peran Strategis BSI dalam Literasi Keuangan Syariah

Bank Syariah Indonesia (BSI) menempati posisi yang sangat penting sebagai bank syariah terbesar di Indonesia di tengah-tengah masalah ini. Pendekatan BSI yang langsung dan kontekstual patut diapresiasi, tetapi masalahnya bukan pada jumlah kegiatan, tetapi pada kedalaman pemahaman yang terbentuk. BSI harus menerima kritik konstruktif agar programnya lebih efektif dan berdampak nyata.

Program Literasi di Segmen Sekolah: Investasi Jangka Panjang

BSI menegaskan bahwa mempelajari keuangan syariah sejak usia dini dengan strategi yang dapat diukur dan terbukti sangat penting. BSI telah melakukan 318 program edukasi digital melalui media sosial dan 274 kegiatan literasi di sekolah pada semester pertama tahun 2025. Ini menunjukkan komitmen kuat BSI untuk mendidik generasi muda menjadi peduli dengan uang dan menanamkan kebiasaan menabung untuk menghadapi tantangan ekonomi kontemporer.

Program KEJAR (Satu Rekening Satu Pelajar) menjadi strategi utama BSI dalam memperluas literasi keuangan syariah di kalangan pelajar melalui kerja sama dengan regulator dan penyuluhan langsung di sekolah. Konsistensi program ini mengantarkan BSI meraih tiga penghargaan OJK pada 2025: KEJAR Award sebagai Bank Umum Syariah terbaik, penghargaan Program Literasi Keuangan Terbaik, serta pengakuan sebagai OJK PEDULI Terbaik.

Hingga Juli 2025, BSI telah mencatat 1,1 juta rekening tabungan anak dengan dana kelolaan sebesar Rp1,51 triliun. Jutaan generasi muda telah belajar menabung berbasis syariah sejak kecil, yang akan menjadi fondasi keuangan masa depan mereka. Pencapaian ini lebih dari sekadar angka statistik.

Sebagai bagian dari pembangunan Ecosystem Islam bersama sekolah Islam Terpadu dan pesantren, BSI juga melaksanakan program School Visits to BSI, yang mengajak siswa dan santri untuk mengenal lebih dekat dengan aktivitas dan lingkungan kerja perbankan syariah. Selain itu, BSI secara teratur menyelenggarakan CEO Mengajar, sebuah inisiatif literasi keuangan syariah untuk generasi muda, terutama mahasiswa.

Meskipun demikian, pendekatan BSI, yang patut diapresiasi karena langsung dan kontekstual, menghadapi masalah yang berkaitan dengan tingkat pemahaman yang terbentuk daripada jumlah kegiatan. Apakah siswa benar-benar menyadari perbedaan antara mudharabah dan tabungan konvensional, atau hanyalah program literasi untuk menarik klien? Agar program tidak hanya menjadi acara seremonial, BSI harus memberikan data dampak terukur secara terbuka.

Program Literasi di Segmen UMKM: Kebutuhan Mendesak Jangka Pendek

Meskipun sekolah adalah investasi jangka panjang, UMKM adalah kebutuhan jangka pendek yang harus diperhatikan. Banyak usaha kecil, yang merupakan lebih dari 97% tenaga kerja nasional, masih bergantung pada rentenir atau mencampur keuangan pribadi dan bisnis. Ini menunjukkan betapa pentingnya pengetahuan keuangan bagi segmen ini.

Dengan memperkuat Pusat UMKM di Aceh, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar, BSI meraih penghargaan literasi terbaik di segmen UMKM. Lebih dari 500 program telah dilaksanakan untuk membantu UMKM naik kelas, meningkatkan kapasitas, dan memperkuat daya saing mereka dalam persaingan bisnis global.

Dalam rangka Gerakan Wirausaha Berkelanjutan BSI, Program Talenta Wirausaha (TWB) mendorong pertumbuhan wirausaha muda dan UMKM yang berdaya secara ekonomi dan juga peduli sosial dan lingkungan. Menurut Bank Syariah Indonesia (2025), integrasi nilai ESG (Environmental, Social, Governance) ke dalam wirausaha syariah adalah langkah berani yang menyatukan prinsip maqashid syariah dengan tuntutan keberlanjutan global.

BSI International Expo adalah acara utama yang melibatkan lebih dari 265 tenant, termasuk UMKM binaan BSI yang bertemu dengan pembeli internasional. Expo ini berfungsi sebagai jembatan antara bisnis kecil dan menengah lokal dengan pasar internasional, menciptakan ekosistem yang tidak pernah ada sebelumnya dalam program pemberdayaan konvensional.

Kesenjangan yang Masih Perlu Dibenahi: Literasi Tanpa Akses

Menurut data SNLIK 2025, masyarakat mulai mengenal keuangan syariah melalui program literasi. Ini naik dari 39,11% menjadi 43,42%, tetapi tingkat inklusi masih rendah di 13,41%, jauh di bawah inklusi konvensional sebesar 79,71%. Karena keterbatasan layanan, masih sedikit orang yang menggunakannya.

OJK mendorong penambahan agen Laku Pandai dan ATM syariah di wilayah 3T—terpencil, terdepan, dan terluar—untuk memperluas akses keuangan syariah. Sebagai bank syariah terbesar, BSI diharapkan menjadi penggerak utama dalam memperluas akses ini, tidak hanya di kota-kota besar tempat UMKM Center beroperasi, tetapi juga di wilayah yang selama ini kurang terlayani.

Rekomendasi: Integrasi Literasi dan Akses

Strategi dan tujuan program literasi BSI di sekolah dan UMKM sudah tepat, tetapi edukasi saja tidak cukup tanpa pemerataan akses ke layanan keuangan syariah. Masyarakat yang memahami keuangan syariah namun sulit menggunakannya karena keterbatasan infrastruktur, yang membuat program literasi tidak efektif sepenuhnya.

Oleh karena itu, BSI harus memastikan bahwa pengembangan pendidikan disertai dengan peningkatan infrastruktur, kemudahan penggunaan produk, dan evaluasi dampak yang terukur yang dilakukan secara terbuka. Jika keuangan syariah ingin menjadi sistem yang inklusif dan bermanfaat bagi masyarakat, literasi dan akses harus menjadi strategi yang saling bergantung.

Program literasi BSI di sekolah dan UMKM merupakan langkah strategis yang patut diapresiasi, tetapi masalah terbesar masih terletak pada pemerataan akses layanan di wilayah 3T. Sukses program ini akan diukur dari peningkatan inklusi keuangan syariah yang nyata, sehingga Indonesia dapat mewujudkan cita-citanya sebagai pusat finansial syariah dunia dengan ekosistem yang inklusif bagi seluruh masyarakat.

Firman Setiawan

Penulis: Rina Jala Putri

Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan