JATENGKU.COM, Jakarta — Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional karena menjadi fondasi utama dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Tanpa adanya pendidikan yang baik, sulit bagi suatu negara untuk bersaing di era globalisasi yang penuh tantangan ini.
Pendidikan karakter adalah pijakan yang esensial untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkaraker luhur dan siap memimpin Indonesia di masa depan. Karakter luhur dan ketangguhan mental merupakan fondasi krusial yang sangat penting dalam menghadapi tantangan global di abad ke-21 ini.
Dengan berkarakter luhur bisa menjadi fondasi bagi generasi muda dalam mengambil keputusan yang benar, berprilaku positif, dan mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.
Tantangan Dalam Pembentukan Karakter dan Ketangguhan di sekolah
Salah satu hambatan utama dalam pembentukan karakter dan ketangguhan di sekolah yaitu pada kecenderungan kurikulum yang berfokus pada nilai akademis (pengetahuan) daripada pembangunan sikap (karakter). Bukti tantangan yang berfokus pada kognitif (akademis) yaitu PISA (programme for international student assesment), meskipun ada peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, hasil PISA indonesia secara konsisten menunjukkan tantangan besar dalam kemampuan bernalar kritis dan literasi, yang merupakan aspek penting dari kompetensi abad ke-21.
Skor yang relatif rendah (terutama di bawah rata-rata OECD) sering dikaitkan dengan kurikulum yang fokus pada hafalan (rote learning) daripada pemahaman konsep dan aplikasi. Minimnya pembelajaran pembangunan sikap (karakter) membuat siswa kesulitan dalam berkarakter yang tangguh, kecenderungan ini juga menghasilkan evaluasi yang sering tidak mengukur kompetensi sosial-emosional siswa.
Beban kurikulum yang tidak proposional turut menjadi tantangan yang signifikan, minimnya integrasi nilai-nilai luhur dalam praktik sehari-hari juga menjadi tantangan dalam pembentukan karakter yang tangguh, dengan kurangnya implementasi nilai pancasila dan budaya lokal secara kontekstual di lingkungan sosial memperparah keadaan.
Sebuah studi menunjukkan bahwa lulusan seringkali dinilai kurang memiliki keterampilan non-kognitif esensial seperti etos kerja, komunikasi, dan kolaborasi yang dibutuhkan indutsri. Ini memperkuat argumen bahwa fokus pendidikan saat ini belum cukup menyentuh pembangunan karakter dan ketangguhan.
Hambatan pembentukan karakter dan ketangguhan juga bisa karena pengaruh lingkungan sosial dan media, kenapa seperti itu? Karena di era digital saat ini, media sosial memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan nilai-nilai siswa. Konten-konten yang tidak mendidik seperti bullying, kekerasan, gaya hidup hedonistik dan lain sebagainya dapat dengan mudah di akses oleh para siswa dan bertentangan dengan nilai-nilai yang di ajarkan dalam pendidikan berkarakter.
Kurangnya dukungan orang tua juga menjadi hambatan pembentukan karakter karena orang tua sangat berperan penting setelah guru. Terkadang banyak orang tua yang tidak cukup terlibat dalam pendidikan karakter anak mereka baik karena kesibukan kerja atau kurangnya pehamaman tentang pentingnya pendidikan karakter. Padahal peran orang tua disini sangat penting dalam memperkuat nilai-nilai yang diajarkan di sekolah.
Terkadang guru, siswa, dan bahkan orang tua seringkali sudah terbiasa dengan sistem yang ada, sehingga merasa nyaman dan kurang siap merima perubahan. Padahal perubahan diperlukan untuk mengintegrasikan pendidikan karakter. Pendidikan karakter memang punya banyak tantangan dalam penerapannya, meskipun begitu, semua pihak tetap perlu berusaha menghadapi berbagai hambatan tersebut agar pendidikan karakter bisa berjalan dengan baik.
Solusi Berbasis Ekosistem: Menguatkan Karakter, Ketangguhan, dan Daya Saing
Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut, pendekatan berbasis ekosistem menjadi solusi yang sangat relevan. Fokus pendekatan ini yaitu melibatkan seluruh lingkungan belajar mulai dari sekolah, keluarga, hingga masyarakat. Langkah utama yang dapat dilakukan yaitu mengintegrasikan pendidikan karakter lewat profil pelajar pancasila.
Melalui kebijakan kurikulum merdeka, profil pelajar pancasila telah menjadi visi utama untuk mencetak lulusan. Ini adalah fakta bahwa pemerintah telah resmi mengintegrasikan enam dimensi karakter. Enam dimensi profil ini seperti beriman, mandiri, gotong royong, dan lain sebagainya menjadi dasar penting dalam membentuk pribadi siswa.
Penerapan P5 (projek penguatan profil pelajar pancasila) yang menjadi inti kurikulum merdeka mewajibkan sekolah mengalokasikan waktu minmal 20-30% dari total jam pelajaran untuk proyek lintas disiplin. Ini adalah implementasi langsung dari solusi pembelajaran berbasis proyek (BPL) yang bertujuan membentuk karakter dan kompetensi abad ke-21.
Penerapannya bisa dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek (PBL), di mana siswa tidak hanya belajar teori saja, tetapi juga terbiasa bekerja sama, memecahkan masalah nyata, dan mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Dengan cara ini membantu siswa dapat dengan mudah membangun karakter yang kuat dan kemampuan berfikir yang lebih holistik.
Selain mengintegrasikan pendidikan karakter lewat profil pelajar pancasila, peran guru juga perlu di tingkatkan. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi saja, tetapi juga sebagai mentor karakter yang bisa menjadi panutan bagi siswa. Dengan itu guru perlu pelatihan yang intensif dan berfokus pada perkembangan sosial dan emosional siswa, membangun hubungan yang positif, serta memberikan dukungan moral. Ada yang tak kalah penting dari peran guru yaitu pemanfaatan teknologi. Teknologi bisa digunakan untuk membuat materi digital yang menarik dan berisi nilai-nilai moral, etika, dan sikap positif. Dengan memanfaatkan teknologi dengan tepat dan bijak, proses pendidikan karakter bisa menjadi relevan dengan kehidupan siswa saat ini.
Penerapan projek penguatan profil pelajar itu sebenarnya adalah cara untuk menghasilkan lulusan yang punya jiwa entrepreneur dan gotong royong. Contoh studi nyata nya kita bisa lihat proyek yang fokus pada pengelolaan sampah plastik lokal. Ini bukan sekedar tugas di kelas, tantangan nyata yang memaksa siswa untuk bergotong royong dan merancang solusi, mandiri saat menjalankannya, dan bernalar kritis.
Adapun contoh perbandingan dari negara maju yang sukses mengintegrasikan pendidikan karakter/non-kognitif yaitu negara Finlandia fokus utama pendidikan karakter nya yaitu pada holistik dan kesejahteraan, penerapan sistemnya yaitu kurikulum yang menitikberaktan pada bermain, inisiatif, dan tanggung jawab. Dan sistem nya tidak ada ujian nasional jadi fokus pada kesejahteraan guru dan kolaborasi di sekolah.
Mengapa finlandia termasuk kedalam contoh negara maju? finlandia termasuk negara yang maju dan sukses dalam mengintegrasikan pendidikan karena dengan sistem yang digunakan para siswa jadi lebih santai dalam belajar, tidak mudah stres dan mereka belajar dengan happy jadi ilmu dengan mudah di cerna dan dengan fokus ke kesejahteraan emosional, kemampuan berfikir kritis (yang diukur PISA) menjadi ikut naik drastis. Hal ini bukti kalau karakter yang sehat membuat otak juga menjadi sehat.
Pengalaman internasional menegaskan bahwa investasi pada karakter adalah investasi strategis. Negara-negara yang berhasil mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam sistemnya seperti finlandia dengan fokus pada pendekatan holistik, finlandia juga secara konsisten menempati peringkat tinggi dalam PISA, membuktikan bahwa mengurangi tekanan akademis dan fokus pada keseimbangan emosional dan sosial justru meningkatkan hasil kognitif dan ketangguhan siswa dan jepang dengan penekanan pada non kognitif, penekanan kuat pada tanggung jawab sosial dan rasa hormat sejak dini telah membentuk masyarakat jepang yang terkenal sangat disiplin, etis, dan memiliki etos kerja tinggi kunci daya saing global. Menunjukkan kolerasi antara pendidikan karakter dan peningkatan daya saing.
Simpulan dan Rekomendasi
Pembelajaran karakter adalah jantung dari sistem pendidikan, yang berperan dalam membentuk generasi yang tangguh, berkarakter, dan berdaya saing di tengah kompleksitas tantangan pada era globalisasi ini. Kegagalan pada aspek ini dapat merugikan masa depan bangsa secara fundamental.
Implementasi penguatan karakter harus bersifat komprehensif, terstruktur, dan berkelanjutan. Hal ini mencakup revisi kurikulum dan sistem evaluasi agar lebih mngedepankan kompetensi sikap, serta memastikan bahwa pelatihan guru menjadi program wajib dan berkeseimbangan.
Diperlukan penguatan pada program anti perundungan dan layanan bimbingan konseling sebagai langkah strategis mendesak untuk menjamin psikologis siswa. Layanan konseling harus bertransformasi dari sekedar penanganan masalah menjadi layanan proaktif yang fokus pada pengembangan potensi dan ketahanan mental.
Pada akhirnya, harus ditegaskan bahwa investasi pada pendidikan karakter adalah investasi terbaik untuk masa depan bangsa yang kompetitif dan berintegrasi. Dengan fondasi karakter dan ketangguhan yang kuat, generasi muda indonesia akan siap memimpin dan menghadapi tantangan apa pun yang akan datang.
Penulis: Keysya Olivia Faldin (1251100147), Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah











