JATENGKU.COM, Surabaya — Di era di mana informasi cepat mengalir dan minat terhadap sejarah semakin berkurang, Museum Sepuluh Nopember muncul sebagai ruang yang mampu menghadirkan pengalaman belajar langsung tentang nilai-nilai kebangsaan. Proyek Kebangsaan yang dilaksanakan oleh Kelompok 9 PDB 37 mengambil misi ini sebagai fokus utama: menjadikan museum sebagai sarana internalisasi nilai bela negara bagi siswa melalui kunjungan lapangan, wawancara, dan dokumentasi.
Pendekatan yang digunakan bersifat kualitatif: observasi sistematis terhadap koleksi museum seperti diorama, artefak, rekaman pidato Bung Tomo, dan foto dokumentasi dipadukan dengan wawancara kepada pengunjung dan petugas untuk menggali persepsi dan makna yang muncul selama kunjungan. Dokumentasi foto dan video menjadi bukti visual sekaligus bahan pembelajaran yang dapat diolah menjadi produk edukatif. Metode ini memberi ruang bagi siswa untuk mengalami sejarah secara kontekstual, bukan hanya sekadar teori di kelas.
Hasil lapangan menunjukkan bahwa pengalaman melihat langsung artefak dan narasi perjuangan dapat memicu perasaan yang memperkuat pemahaman tentang keberanian, pengorbanan, serta pentingnya persatuan. Wawancara dengan petugas mengungkapkan peran museum dalam merawat memori kolektif; sementara refleksi pengunjung menegaskan bahwa museum masih relevan sebagai medium pembentukan karakter kebangsaan. Temuan ini menegaskan keterkaitan kuat antara kunjungan lapangan dan meningkatnya kesadaran bela negara di kalangan siswa.
Dari sisi pelaksanaan, proyek ini juga menghasilkan luaran yang aplikatif: e-booklet, video edukasi, poster, serta artikel populer yang dirancang untuk menyebarkan pemahaman sejarah ke audiens lebih luas. Selain memberikan pengalaman akademis, kegiatan ini meningkatkan soft skills peserta mulai dari komunikasi, kerja sama tim, sampai kemampuan analisis kualitatif.
Kunjungan ini juga membuka peluang kolaborasi antara museum dan institusi pendidikan untuk mengembangkan program edukasi berkelanjutan. Melalui lokakarya, pameran keliling, dan materi pembelajaran digital, nilai-nilai kebangsaan dapat diintegrasikan ke kurikulum secara lebih efektif. Partisipasi aktif siswa dalam proses dokumentasi dan interpretasi sejarah mendorong rasa kepemilikan terhadap narasi kolektif, sekaligus melatih keterampilan riset dan komunikasi. Dengan dukungan teknologi dan keterlibatan komunitas, museum dapat menjadi pusat pembelajaran yang dinamis, relevan, dan mudah diakses oleh generasi muda di era digital. Upaya ini harus didukung kebijakan pendidikan yang mengakui pentingnya pembelajaran berbasis lokasi sebagai bagian integral pengembangan karakter kebangsaan. agar dampaknya berkelanjutan bagi generasi.
Evaluasi akhir merekomendasikan agar museum mengembangkan elemen edukatif berbasis teknologi, contohnya panel informasi QR atau multimedia interaktif agar generasi muda semakin terlibat. Di tingkat sekolah, program kunjungan rutin dan tugas-refleksi pasca-kunjungan disarankan untuk memperdalam penghayatan nilai-nilai kebangsaan. Proyek ini menunjukkan bahwa museum bukan sekadar gudang benda, melainkan laboratorium etis di mana jiwa kebangsaan dapat ditempa dan diwariskan.
Penulis: Mikhael kevin, mahasiswa Universitas Airlangga









