JATENGKU.COM, SEMARANG – Sebagai wujud nyata dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada, sekelompok Mahasiswa Magang Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di SMP Negeri 39 Semarang menginisiasi sebuah agenda besar berupa program edukasi komprehensif mengenai mitigasi bencana gempa bumi.
Kegiatan yang dilaksanakan di SMP Negeri 39 Semarang ini dirancang bukan sekedar sebagai sosialisasi formal, melainkan sebagai upaya sistematis untuk membangun kesadaran kolektif dan ketangguhan mental bagi para murid dalam menghadapi potensi ancaman bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Pemilihan topik gempa bumi ini didasarkan pada fakta geografis bahwa wilayah Jawa Tengah secara umum memiliki kerentanan terhadap aktivitas seismik, sehingga pemahaman mengenai langkah-langkah penyelamatan diri menjadi keterampilan hidup (life skill) yang bersifat wajib dan sangat krusial untuk dikuasai oleh generasi muda sejak dini.
Dalam sesi pemaparan materi yang berlangsung dengan sangat mendetail, tim mahasiswa memberikan penjelasan yang bersifat fundamental hingga teknis mengenai fenomena gempa bumi. Materi dimulai dari pengenalan struktur lapisan bumi, pergerakan lempeng tektonik yang menjadi pemicu utama guncangan, hingga pemahaman mengenai sesar-sesar aktif yang berada di sekitar wilayah pemukiman penduduk.
Para mahasiswa menjelaskan secara gamblang bahwa dampak destruktif dari sebuah gempa bumi seringkali tidak disebabkan secara langsung oleh guncangan tanah itu sendiri, melainkan oleh kegagalan struktur bangunan yang tidak mampu menahan beban lateral. Oleh karena itu, murid diberikan edukasi mengenai:
Identifikasi Bahaya di Sekitar: Mengenali benda-benda di dalam kelas atau rumah yang berpotensi jatuh dan rusak, seperti lemari yang tidak dipaku ke dinding, lampu gantung, hingga kaca jendela.
Zona Aman dalam Ruangan: Memahami area mana saja yang memiliki perlindungan lebih kuat, misalnya di bawah kolong meja yang berbahan kayu solid atau beton atau di samping pilar bangunan yang kokoh.
Analisis Jalur Evakuasi: Mempelajari bagaimana cara membaca rambu-rambu evakuasi dan menentukan rute tercepat menuju ruang terbuka tanpa harus terjebak dalam kejadian yang panik.

Bagian paling krusial dari kegiatan ini adalah sesi praktik lapangan yang dilakukan secara berulang agar gerakan penyelamatan diri menjadi sebuah refleksi alami bagi para murid. Mahasiswa Magang UPGRIS di SMP Negeri 39 Semarang memandu simulasi dengan skenario menyerupai kejadian nyata, di mana murid dilatih untuk mengajarkan metode “Drop, Cover, and Hold On” secara sempurna:
Drop (Merunduk): Murid mengajarkan untuk segera menjatuhkan diri ke lantai begitu merasakan getaran pertama, guna mencegah risiko terjatuh akibat hilangnya keseimbangan saat lantai bergoyang hebat.
Cover (Lindungi): Murid diarahkan untuk berlindung di bawah meja untuk melidungi diri dari material bangunan. Jika dirasa sudah aman murid dihimbau untuk keluar bangunan dengan membawa tas ransel yang digunakan untuk melindungi kepada dan organ vital lainnya. Kemudian mencari tempat terbuka atau tempat yang aman dari gempa.
Hold On (Bertahan): Murid diinstruksikan untuk memegang erat kaki meja agar tempat perlindungan tersebut tidak bergeser akibat kuatnya intensitas guncangan yang terjadi.
Selain itu, simulasi juga mencakup tata cara evakuasi massal yang tertib, di mana murid dilarang untuk berlari secara membabi buta, melainkan berjalan cepat dengan melindungi kepala menggunakan tas ransel sebagai tameng tambahan menuju titik kumpul yang telah ditentukan di lapangan terbuka.
Pihak otoritas SMP Negeri 39 Semarang menyambut baik kegiatan ini dan mengakui bahwa literasi bencana merupakan elemen pendidikan yang seringkali terabaikan tetapi memiliki urgensi yang sangat tinggi. Dengan adanya pendampingan dari murid, lingkungan sekolah kini memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai Standar Operasional Prosedur (SOP) saat terjadi keadaan darurat.
Salah satu murid koordinator kegiatan menyatakan bahwa target jangka panjang dari sosialisasi ini adalah agar para murid mampu menjadi perpanjangan tangan bagi keluarga mereka. Mereka diharapkan dapat pulang ke rumah dan berbagi pengetahuan dengan orang tua maupun lingkungan sekitar mengenai pentingnya menyiapkan “Tas Siaga Bencana” yang berisi dokumen penting, obat-obatan, pengirim, dan makanan darurat.
Kegiatan ini ditutup dengan harapan besar bahwa seluruh warga sekolah, terutama murid SMP Negeri 39 Semarang, tidak lagi merasa asing atau menerima ketakutan saat menghadapi ancaman gempa bumi. Melalui pembekalan pengetahuan yang matang, diharapkan akan terbentuk mentalitas yang tenang, taktis, dan responsif dalam menghadapi situasi krisis.
Mahasiswa Magang Universitas PGRI Semarang di SMP Negeri 39 Semarang menegaskan komitmen mereka untuk terus melakukan pemantauan dan koordinasi keberlanjutan dengan sekolah-sekolah lain, guna memastikan bahwa semangat kesiapsiagaan bencana ini menjadi budaya yang melekat di seluruh lapisan masyarakat, demi meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua.







