JATENGKU.COM, BOYOLALI — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 87 Universitas Diponegoro menggelar rangkaian pelatihan dan sosialisasi untuk pelaku usaha olahan susu di Desa Banyuanyar, Kamis (3/7). Bertempat di UMKM Omah Cowboy, kegiatan ini menjadi bagian dari program bertema “Peningkatan Mesin Pembentuk Keju, Produksi, dan Strategi Penjualan guna Penguatan Kapasitas dan Keberlanjutan Usaha.” Program ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan UMKM lokal untuk meningkatkan efisiensi produksi serta memperluas jangkauan pemasaran, seiring dengan tingginya potensi olahan susu di Desa Banyuanyar yang belum dimaksimalkan.
Kegiatan dimulai dengan pengenalan metode 5S, yakni Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke, sebagai dasar menciptakan tempat kerja yang bersih, rapi, dan produktif. Para pelaku usaha juga dikenalkan dengan konsep Economic Order Quantity (EOQ) untuk menghitung kebutuhan produksi secara optimal, sekaligus memanfaatkan kalkulator EOQ berbasis website yang dikembangkan oleh tim KKN.
Tak hanya fokus pada produksi, tim juga membimbing peserta dalam memperkuat kerja tim internal, mendorong komunikasi dan pembagian tugas yang lebih jelas. Tim KKN menjelaskan prinsip dasar kerja tim yang efektif serta memberikan contoh pembagian peran yang dapat diterapkan sesuai kondisi UMKM Susu “Cowboy”.
Menjawab kebutuhan pemasaran digital, peserta dibekali pelatihan Instagram Ads dan teknik dasar fotografi produk menggunakan smartphone. Pelatihan ini mencakup pemilihan pencahayaan, komposisi, serta sudut pengambilan gambar agar produk olahan susu tampil lebih menarik saat dipromosikan di media sosial. “Pelatihan ini sangat membantu, kami jadi tahu cara menampilkan produk supaya lebih menarik di media sosial,” ujar salah satu pelaku usaha dengan antusias.
Menariknya, promosi produk juga didorong melalui edukasi manfaat. Dalam sesi terakhir, tim menyampaikan sosialisasi manfaat yogurt bagi kesehatan kulit, terutama bagi remaja dan anak-anak, sebagai bagian dari strategi promosi berbasis edukasi. Edukasi semacam ini diyakini mampu membentuk citra positif UMKM di mata konsumen yang makin peduli kesehatan.
Pelaku UMKM berharap pendampingan semacam ini dapat terus berlanjut, khususnya dalam manajemen usaha dan promosi digital. “Kami jadi makin semangat dan terbantu, terutama soal pemasaran online dan mengelola bahan baku,” ujar salah satu pelaku usaha.
Tak berhenti di sana, pada Senin (21/7), Tim KKN juga menggelar sesi tambahan yang membahas isu pengelolaan limbah produksi. Pertama, sosialisasi potensi nutrisi dan peran mikroorganisme dalam pemanfaatan limbah whey, yang menyoroti peluang penggunaan limbah keju sebagai sumber pakan ternak atau bahan tambahan pupuk organik. Kedua, sosialisasi penyimpanan limbah whey berbasis kontrol suhu yang bertujuan meminimalisir pencemaran lingkungan dan menjaga kualitas limbah agar tetap bisa dimanfaatkan.
Sementara itu, Tim KKN 87 juga merancang mesin pembentuk keju mozzarella sebagai bentuk teknologi tepat guna yang menyesuaikan kebutuhan dan kapasitas pelaku usaha lokal. Tak hanya merancang, tim juga melakukan optimalisasi efisiensi kelistrikan mesin agar hemat daya dan tetap fungsional. Hasil rancangan tersebut kemudian dikemas dalam booklet yang bisa digunakan sebagai panduan penggunaan dan perawatan mesin secara mandiri oleh pelaku UMKM.











