Pernah enggak sih kamu merasa ada seseorang mulai “menjauh” dari hidupmu, tapi anehnya dia belum juga benar-benar pergi? Atau sebaliknya — justru kamu sendiri yang masih bertahan di hubungan ini, tapi hatimu sudah mulai diam-diam melirik ke arah lain?
Kalau kamu atau pasanganmu pernah merasakan hal ini, bisa jadi salah satu dari kalian sedang terjebak dalam tren hubungan yang belakangan ini ramai disebut sebagai monkey barring.
Coba bayangkan seekor monyet yang sedang bergelantungan, berpindah dari satu palang besi ke palang berikutnya. Monyet itu tidak akan pernah melepaskan palang yang lama sebelum tangannya benar-benar berhasil menggenggam kuat dan mencengkeram palang yang baru. Begitu pula dengan orang yang melakukan monkey barring dalam hubungan — mereka tidak akan meninggalkan pasangan sekarang sebelum ada “opsi pengganti” yang sudah siap di tangan.
Istilah ini bukan sekadar gosip di media sosial. Tinder sendiri, dalam laporan tahunan Year in Swipe Report mereka, menyebut monkey barring sebagai salah satu tren kencan yang paling banyak dibahas belakangan ini. Dan kalau kita mau jujur melihat ke lingkungan sekitar — atau bahkan berkaca ke diri sendiri — pola hubungan seperti ini ternyata tidak sesempurna kelihatannya dan cukup sering terjadi di sekitar kita.
Tanda-Tandanya Halus, tapi Nyata
Yang membuat monkey barring berbeda dari putus biasa adalah prosesnya yang terselubung. Hubungan yang berjalan terlihat “baik-baik saja” dari luar. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengakuan. Tapi di balik layar, salah satu pihak sudah mulai mencari, mendekat, dan membangun koneksi emosional dengan orang lain.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain: pasangan mulai lebih protektif terhadap ponselnya, intensitas percakapan bersamamu menurun tapi ia tidak terlihat sedih atau murung — malah sebaliknya, ada “teman baru” yang namanya sering disebut, dan ketika kalian bicara soal masa depan, jawabannya terasa semakin buram dan tidak konkret.
Psikolog hubungan sering menyebut pola ini sebagai bentuk ketidakamanan emosional (emotional insecurity). Orang yang melakukan ini biasanya punya ketakutan besar terhadap kesepian dan kesendirian. Mereka takut menghadapi rasa sepi atau kekosongan setelah putus, sampai-sampai merasa membutuhkan “jaring pengaman” sebelum benar-benar berani melangkah pergi.
Lalu, Apakah Fenomena Ini Sama dengan Berselingkuh?
Ini pertanyaan yang sering ditanyakan, dan sejujurnya jawabannya cukup abu-abu.
Kalau “palang baru” itu cuma sebatas teman mengobrol biasa tanpa niat lebih atau ketertarikan yang belum diwujudkan, mungkin sebagian orang tidak akan menganggapnya selingkuh. Tapi kalau sudah melibatkan kedekatan emosional yang dalam dan intens, komunikasi rahasia yang berulang dan terus-menerus disembunyikan, atau bahkan lebih dari itu — maka batas aman tersebut jelas sudah terlewati. Tidak peduli apakah hubungan kalian sudah resmi berakhir atau belum.
Yang jelas, monkey barring selalu melibatkan ketidakjujuran. Dan dalam hubungan atau komitmen apa pun, ketidakjujuran adalah retakan kecil yang lambat laun pasti akan meruntuhkan semuanya.
Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi — dan Apa Solusinya?
Kalau kamu sadar pasanganmu mulai menunjukkan tanda-tanda ini, duduk berdua dan mengobrol secara langsung dan jujur adalah jalan satu-satunya yang paling ampuh. Kuncinya bukan konfrontasi penuh emosi atau amarah, melainkan sebuah percakapan terbuka untuk melihat kejelasan arah hubungan kalian saat ini.
Sebaliknya, kalau kamu yang menyadari bahwa dirimu sendiri sedang terjebak pola ini, kamu juga butuh kejujuran yang sama besarnya. Cobalah bertanya ke diri sendiri: “Kenapa aku takut melepaskan sebelum ada orang lain? Apa sih yang sebenarnya aku cari?” Sering kali jawabannya bukan soal orang baru itu, tapi soal rasa tidak aman dalam diri sendiri yang belum pernah diselesaikan.
Hubungan yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut kehilangan. Ia dibangun di atas keberanian untuk jujur — bahkan ketika kejujuran itu menyakitkan.
Monkey barring mungkin terasa seperti “strategi bertahan” yang aman. Tapi yang sering terlupakan adalah: ada satu orang yang terus menunggu di ujung palang lama itu, tidak tahu bahwa tangannya sudah mulai melepas.
Dan orang itu berhak untuk tahu.
