JATENGKU.COM, Surabaya — Di tengah kesibukan orang tua membesarkan anak, kesehatan gigi dan mulut seringkali luput dari perhatian. Padahal, gigi anak memiliki nilai kesehatan yang signifikan yang memengaruhi pertumbuhan mereka, pola makan, kepercayaan diri, bahkan kualitas hidup mereka di masa depan. Berbagai permasalahan gigi dan mulut pada anak umumnya timbul akibat kebiasaan buruk yang dibentuk sejak dini.
Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut di Indonesia mencapai 57,6%, dengan prevalensi karies gigi pada anak usia 5–9 tahun mencapai 92,6% dan pada usia 10–14 tahun sebesar 73,4%. Angka ini masih jauh dari target nasional dalam Rencana Aksi Indonesia Bebas Karies 2030 yaitu Menurunkan prevalensi karies gigi pada anak usia 12 tahun menjadi kurang dari 50% pada tahun 2030.
Ini adalah fakta bahwa masalah gigi dan mulut masih sering diabaikan padahal penyakit ini dapat dicegah. Beberapa sumber menyatakan bahwa menjaga gigi sejak gigi pertama muncul lebih dari hanya menyikat gigi secara teratur. Ini juga memerlukan penerapan pola hidup sehat dan kebiasaan yang bertahan seumur hidup. Sehingga, kesehatan mulut anak seharusnya dimulai jauh sebelum mereka dapat menyikat gigi sendiri.
Menurut pendapat saya, menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak usia dini adalah investasi jangka panjang yang kerap diremehkan. Ada beberapa alasan mengapa perhatian kita harus lebih serius.
Pertama, mencegah selalu lebih mudah daripada mengobati. Gigi berlubang bukan sekadar lubang biasa, ia dapat menyebabkan nyeri, infeksi, kesulitan makan dan tidur, bahkan mengganggu aktivitas kita.
Jika dibiarkan, dapat mempengaruhi pembentukan rahang dan susunan gigi tetap. Padahal, dengan kebiasaan menjaga kebersihan dan kontrol rutin ke dokter gigi, masalah ini bisa ditekan secara signifikan.
Kedua, kesehatan mulut mempengaruhi kesehatan tubuh secara umum. Anak dengan kondisi mulut tidak sehat cenderung memiliki asupan nutrisi yang buruk karena kesulitan mengunyah, sehingga berdampak pada tumbuh kembang, hal ini pun terjadi pada diri saya sendiri.
Ketiga, masa kecil adalah fase terbaik untuk membangun kebiasaan. Anak yang dibiasakan menyikat gigi dua kali sehari, membatasi gula, dan rutin memeriksakan gigi cenderung membawa pola itu hingga dewasa. Kebiasaan yang tertanam sejak dini jauh lebih efektif daripada mengubah pola saat sudah menginjak usia dewasa.
Keempat, peran orang tua sangat vital. Anak itu tidak bisa menjaga kesehatan mulutnya sendiri, mereka meniru kebiasaan orang tuanya. Sayangnya, banyak orang tua baru membawa anak ke dokter gigi saat sudah sakit. Padahal, kunjungan pertama dianjurkan ketika gigi pertama muncul atau saat usia satu tahun. Pola pikir “tidak sakit berarti sehat” ini harus segera diubah menjadi “mencegah sebelum sakit”.
Ditengah kondisi sekarang yang mudah untuk mendapatkan akses ke makanan manis dan minuman kemasan, menjaga kesehatan gigi dan mulut anak menjadi tantangan tersendiri. Justru karena itulah, edukasi dan pembiasaan sejak kecil menjadi semakin penting.
Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi anak selain tumbuh dengan rasa percaya diri untuk tersenyum lebar dan nyaman untuk makan dan tidur.
Pada akhirnya, kesehatan gigi dan mulut bukan hanya urusan dokter gigi saja, melainkan juga tanggung jawab orangtua, sekolah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
Jika kita ingin menciptakan generasi yang lebih sehat, maka mulailah dari hal sederhana yaitu ajarkan cara menyikat gigi yang baik dan benar sejak dini, batasi konsumsi gula, lakukan kontrol rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali, dan jadikan kesehatan mulut dan gigi sebagai bagian dari gaya hidup keluarga.
Penulis: Aida Qonita Andaru










