JATENGKU.COM, Jakarta — Indonesia itu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tapi anehnya, bank syariah masih belum jadi pilihan utama banyak orang buat urusan keuangan. Gimana ceritanya?
Data OJK per Maret 2025 menunjukkan pangsa pasar perbankan syariah nasional baru menyentuh 7,42 persen dari total industri perbankan. Angka itu masih jauh dari potensi yang harusnya bisa diraih negara dengan 270 juta jiwa penduduk, mayoritas muslim.
Salah satu penyebabnya cukup klasik ya itu banyak orang yang belum paham betul bedanya bank syariah dan bank konvensional. Mereka tahu bank syariah itu ada, tapi menganggap perbedaannya cuma di nama produk doang. Padahal sistem bagi hasil, transparansi, dan orientasi sosial yang ditawarkan bank syariah itu beda banget dari bunga di bank konvensional.
Faktor kebiasaan juga nggak bisa diabaikan. Bank konvensional udah ada duluan, jaringannya luas, dan orang-orang udah nyaman pakainya. Susah banget ngajak orang pindah kalau mereka ngerasa “ya udah, sama aja.”
Terus ada tantangan baru seperti: fintech dan digitalisasi. Sekarang orang maunya transaksi cepat, mudah, bisa dari mana aja. Kalau bank syariah nggak adaptif soal ini, bakal makin ketinggalan.
Kabar baiknya, prinsip syariah justru makin relevan di era ekonomi yang butuh inklusivitas dan keadilan. Yang perlu dilakukan sekarang, seperti perkuat literasi, inovasi produk, dan percepatan transformasi digital tanpa mengorbankan nilai syariahnya.
Kondisi ini menunjukan bahwa yang di hadapin bank syariah bukan hanya sekedar menawarkan produk yang sesuai dengan prinsip Islam, Tetapi harus mampu membangun kepercayaan masyarakat seperti pelayanan yang berkualitas dan bertransaksi yang bikin nyaman.
Di tengah perkembangan teknologi, masyarakat cenderung memilih layanan yang praktis, cepat, dan mudah diakses. Oleh karena itu penerapan nilai-nilai syariah tetap menjadi prinsip utama, tetapi juga perlu meningkatkan kualitas pelayanan serta pengembangan kualitas bank syariah tetap menjadi pilihan dan mampu bersaing dengan bank konvensional.
Peran generasi muda juga menjadi penentu masa depan industri perbankan syariah. Generasi Z dan milenial saat ini bukan hanya mencari tempat menyimpan uang, tetapi juga menginginkan layanan keuangan yang cepat, fleksibel, dan sesuai dengan gaya hidup digital mereka. Jika bank syariah mampu menghadirkan aplikasi yang nyaman digunakan, proses pembukaan rekening yang sederhana, serta layanan digital yang inovatif, peluang untuk memperluas pangsa pasar akan semakin besar. Sebaliknya, jika transformasi digital berjalan lambat, bank syariah akan semakin sulit bersaing di tengah pesatnya perkembangan teknologi finansial.
Pemerintah dan regulator juga memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan industri ini. Program literasi dan inklusi keuangan syariah perlu diperluas agar masyarakat tidak hanya mengenal istilah “bank syariah”, tetapi juga memahami manfaat dan perbedaannya dengan bank konvensional. Edukasi tersebut sebaiknya tidak hanya dilakukan melalui seminar atau sosialisasi formal, melainkan juga memanfaatkan media digital dan media sosial yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pada akhirnya, potensi besar yang dimiliki bank syariah harus diikuti dengan langkah nyata untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern. Meningkatkan literasi, memperkuat inovasi produk, mempercepat transformasi digital, dan menjaga konsistensi terhadap prinsip-prinsip syariah merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Dengan begitu, bank syariah tidak hanya dikenal sebagai alternatif bagi umat Islam, tetapi juga sebagai lembaga keuangan yang kompetitif, inklusif, dan mampu memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Lebih dari itu, sudah saatnya bank syariah jangan hanya mengandalkan identitas sebagai lembaga keuangan berbasis agama. Persaingan industri perbankan saat ini ditentukan oleh kemampuan menghadirkan solusi keuangan yang relevan, efisien, dan bernilai tambah bagi nasabah. Masyarakat akan memilih layanan yang mampu menjawab kebutuhan mereka, terlepas dari label yang digunakan. Karena itu, jika bank syariah mampu menggabungkan prinsip-prinsip syariah dengan inovasi, teknologi, dan pelayanan yang unggul, maka potensi pasar yang selama ini belum tergarap dapat dioptimalkan. Dengan modal populasi muslim yang besar dan dukungan ekosistem ekonomi syariah yang terus berkembang, bukan hal yang mustahil pangsa pasar bank syariah akan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
