JATENGKU.COM, SEMARANG — Di balik ramainya lampu kendaraan yang memenuhi siang dan malam Tembalang, ada hal yang sering luput, tanah yang mulai rusak pelan-pelan. Jalan Banjarsari Raya, jalur yang setiap hari dilintasi mahasiswa dan warga, kini justru penuh lubang, ambles di beberapa titik, dan bikin antrean kendaraan panjang setiap hari. Alih-alih menjadi penghubung, jalan ini kini menjadi cerminan dari beban berlebih yang tak lagi mampu ditopang.

Fenomena amblesnya jalan di kawasan Tembalang bukan sekedar musibah biasa. Kejadian ini menunjukkan betapa cepatnya pembangunan berjalan, sementara kesadaran akan kondisi dan kekuatan justru tertinggal. Setiap hari, truk-truk bermuatan berat melintas tanpa henti, membawa material pembangunan yang ironisnya justru mempercepat kerusakan jalan itu sendiri. Sementara di bawahnya, lapisan tanah lempung yang terus-menerus dipaksa menahan beban mulai melemah, seolah memberi sinyal bahwa ia butuh jeda untuk bernapas.

Sekarang ini, kemajuan sering diukur dari seberapa banyak pembangunan yang dilakukan, padahal kita sering lupa bahwa tanah juga memiliki keterbatasan. Di Jalan Banjarsari Raya, aktivitas kendaraan berat yang lalu-lalang seolah tak pernah berhenti. Truk pengangkut material dan kendaraan besar lainnya kerap melintas melewati jalur yang sempit dan padat. Namun, di tengah kesibukan itu, tampak jelas bahwa perhatian terhadap kondisi jalan dan daya dukung tanah belum menjadi prioritas. Setiap kali hujan turun, genangan air terbentuk di sisi jalan yang menandakan sistem drainase belum bekerja optimal. Perlahan tapi pasti, lapisan tanah di bawah permukaan mulai kehilangan kekuatannya untuk menopang beban di atasnya. Amblesnya jalan bukan sekedar soal rusaknya aspal, melainkan tanda bahwa kita sedang mengabaikan ritme alam yang perlahan lelah menanggung beban manusia.

Masalah seperti ini sebetulnya tidak hanya terjadi di Tembalang. Di banyak kota lain, fenomena serupa terjadi, pembangunan yang berpacu dengan waktu tapi melupakan struktur dasar bumi yang menopang. Jalan diperlebar, gedung bertambah, tapi tidak diimbangi dengan kesadaran akan batas kemampuan tanah menanggung beban. Pemerintah daerah sering

terjebak dalam logika “cepat selesai”, padahal setiap keputusan pembangunan selalu meninggalkan jejak di alam. Tanah yang rusak hari ini adalah hasil dari kebiasaan kita yang terlalu sering mengabaikan keseimbangan alam.

Selain faktor teknis, ada juga sisi sosial yang jarang diperhatikan. Ketika jalan rusak dan akses terganggu, yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil, pengendara ojek daring kehilangan waktu, pedagang yang sepi pembeli, dan mahasiswa yang terlambat kuliah. Semua itu membentuk rantai kerugian yang sebenarnya bisa dihindari jika perencanaan lebih berpihak pada manusia. Infrastruktur yang baik mestinya mempermudah langkah orang untuk bekerja, belajar, dan hidup dengan nyaman, bukan menambah lelah di tengah kesibukan yang sudah berat.

Sebagai kawasan pendidikan, Tembalang seharusnya menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus dibayar dengan kerusakan alam. Infrastruktur memang penting, tapi pembangunan yang tidak memperlihatkan kondisi tanah dan tata air hanya akan membuat kerusakan yang sama terus berulang setiap tahun. Jalan yang diperbaiki hari ini bisa rusak lagi dalam beberapa bulan jika pola pikir kita terhadap pembangunan tidak berubah.

Bagi warga dan mahasiswa yang setiap hari melintas, jalan ambles itu bukan sekedar hambatan fisik. Hal itu menunjukan bahwa bukan hanya jalan yang retak, tapi juga keseharian kita yang ikut terganggu. Macet di jam sibuk, debu beterbangan, genangan yang menutup lubang di malam hari, semuanya menjadi rutinitas baru yang perlahan dianggap

biasa. Namun, di antara keluhan dan kejenuhan itu, terselip pertanyaan sederhana, sampai kapan kita membiarkan lingkungan menanggung dampak pembangunan yang tak seimbang dengan alam?

Kita sering mengira bahwa kemajuan selalu diukur dari bangunan yang tinggi dan jalan yang luas. Padahal, kemajuan yang sebenarnya lahir dari cara kita memperlakukan tanah tempat kita berpijak. Jalan Banjarsari Raya mungkin bisa diperbaiki dalam hitungan minggu, tapi tanah di bawahnya tak akan kembali kuat selama cara kita memandang pembangunan belum berubah. Amblesnya jalan di Tembalang bukan sekedar retakan di aspal, melainkan cermin bahwa manusia kadang lupa bumi yang menopang kita juga bisa lelah, dan ketika ia retak, barangkali yang rapuh bukan hanya tanahnya tapi kesadaran kita sendiri.

Penulis: Zahra Khairunnisa

Editor: Handayat