JATENGKU.COM, Surabaya — Di Indonesia, budaya jalan kaki mulai berkurang hingga seolah menjadi sesuatu yang “tidak biasa”. Ketika seseorang memilih berjalan ke suatu tempat yang jaraknya sebenarnya dekat, ia justru terlihat seperti minoritas di tengah lautan kendaraan bermotor. Padahal, dalam konteks kehidupan perkotaan yang semakin padat, berjalan kaki seharusnya menjadi pilihan yang wajar dan bahkan penting.

Fenomena ini tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang menganggap aneh ketika kita memilih berjalan kaki, sementara yang lain hampir selalu menggunakan kendaraan. Di era sekarang, anak sekolah pun tak lagi berjalan kaki atau naik transportasi umum; mereka banyak yang justru mengendarai sepeda motor pribadi, bahkan mobil, untuk jarak yang sebenarnya masih dapat ditempuh dengan berjalan.

Ketika hendak menyeberang jalan pun, pejalan kaki sering kesulitan mendapatkan prioritas. Jumlah pengendara motor yang mendominasi jalan raya serta minimnya kesadaran untuk mengalah membuat pejalan kaki harus berjuang sendiri demi keselamatannya. Padahal secara aturan, para pengendara wajib mendahulukan pejalan kaki yang sedang menyeberang.

Data juga mendukung kenyataan ini. Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara dengan penduduk paling malas berjalan kaki. Rata-rata masyarakat Indonesia hanya menempuh 3.513 langkah per hari, hampir setengah dari warga Tiongkok yang mencapai 6.189 langkah. Ini menjadi gambaran bahwa berjalan kaki bukan lagi bagian dari budaya hidup sehari-hari masyarakat Indonesia.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu penyebabnya adalah lingkungan perkotaan yang belum mendukung pejalan kaki. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Medan, posisi pejalan kaki sering kali menjadi yang paling lemah. Trotoar, yang seharusnya menjadi ruang aman untuk berjalan, justru sering terputus, sempit, atau rusak. Tidak jarang pula trotoar berubah fungsi menjadi tempat parkir motor, lapak pedagang, atau bahkan jalur alternatif kendaraan bermotor.

Selain itu, suhu yang panas dan tingkat polusi udara yang tinggi juga membuat orang enggan berjalan kaki dalam jarak jauh. Di sisi lain, di negara-negara seperti Jepang dan Swiss, trotoar luas, bersih, dan nyaman sehingga masyarakat lebih terbiasa berjalan kaki sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Selain infrastruktur, pola pikir masyarakat juga berpengaruh besar. Banyak orang merasa gengsi berjalan kaki dan lebih memilih kendaraan meskipun hanya menempuh jarak dekat. Budaya serba instan membuat mobilitas tanpa mesin dianggap “kurang modern”.

Kebiasaan anak-anak yang kini diantar dengan motor atau mobil sejak kecil juga membentuk generasi yang tidak terbiasa berjalan. Dari sini terlihat bahwa masalah budaya jalan kaki tidak hanya disebabkan oleh fasilitas fisik, tetapi juga perubahan nilai sosial dan gaya hidup di masyarakat.

Karena itu, penting untuk menegaskan bahwa berjalan kaki bukanlah sesuatu yang aneh, tidak modern, atau memalukan. Justru berjalan kaki adalah bagian dari gaya hidup sehat dan perkotaan yang beradab. Untuk mengembalikannya menjadi budaya, kita membutuhkan dua hal: pembiasaan dari masyarakat dan penyediaan infrastruktur yang memadai dari pemerintah. Selain itu, edukasi tentang prioritas pejalan kaki harus terus disuarakan agar pengendara memahami bahwa keselamatan pejalan kaki adalah yang utama.

Jalan kaki adalah bentuk sederhana dari cinta kepada diri sendiri, lingkungan, dan sesama manusia. Dengan berjalan kaki, kita membantu mengurangi polusi, meningkatkan kesehatan, dan menghidupkan kembali interaksi sosial di ruang publik.

Karena itu, saya menyerukan kepada individu, komunitas, sekolah, pemerintah, hingga pengambil kebijakan kota untuk menormalisasi kembali budaya berjalan kaki. Mari saling menghargai pejalan kaki sebagai bagian penting dari wajah transportasi Indonesia yang lebih aman, manusiawi, dan berkelanjutan.

Penulis: Revani Saidah Azzahrah, Mahasiswa Universitas Airlangga

Editor: Handayat