JATENGKU.COM, SURAKARTA – Tim Pengabdian Kepada Masyrakat Hibah Grup Riset (PKM HGR) Masyarakat Media, Khalayak, dan Sistem Sosial Budaya, Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP), Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta melaksanakan kegiatan pengabdian bertajuk “Penguatan Literasi Digital bagi Anak Usia Dini di Era Society 5.0”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Rabu (10/6/2026) di Pusat Studi Anak (PSA) BOCAHPINTAR, Jaten, Karanganyar.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 22 peserta yang terdiri dari para peserta didik dan guru Kelompok Bermain (KB) BOCAHPINTAR yang berada dibawah naungan Lembaga PSA BOCAHPINTAR. Ketua Tim PKM HGR, Dr. phil. Eka Nada Shofa Alkhajar, S.Sos., M.Si., memaparkan bahwa literasi digital bagi anak usia dini menjadi sangat krusial mengingat anak-anak saat ini tumbuh di tengah teknologi.
“Anak-anak perlu dibekali kemampuan memahami, menggunakan, dan menyaring informasi digital sejak awal agar tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga pengguna yang bijak. Literasi ini mencakup perlindungan diri dari konten berbahaya, hoaks, dan potensi risiko di dunia maya; pengembangan kognitif; ruang kreativitas; hingga pemahaman etika di ruang digital,” terang Dr. Eka dalam sambutannya. Ia meyakini, melalui pembiasaan literasi digital sejak usia dini, fondasi untuk anak tumbuh sebagai generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter di era teknologi dapat tertanam.
Kegiatan pengabdian ini juga relevan dengan keresahan nyata orang tua dan para guru terkait bahaya kecanduan gawai. Kepala Pelaksana Lembaga PSA BOCAHPINTAR, Nining Sholikhah, SE., M.Si., mengatakan bahwa paparan layar (screen time) berlebih pasca-pandemi memberikan dampak jangka panjang. Ia menyoroti banyaknya anak yang mengalami keterlambatan bicara (speech delay) karena kurangnya interaksi komunikasi, hingga gejala virtual autism.
“Lebih jauh, muncul fenomena yang disebut virtual autism, yaitu gejala mirip autisme akibat paparan layar berlebihan. Anak menjadi sulit fokus, kurang respons sosial, dan cenderung menarik diri. Dari sisi emosional, anak sering menunjukkan tantrum ketika penggunaan gawai dibatasi,” ungkap Nining.
Ia juga menambahkan bahwa fenomena ini sering dikeluhkan oleh para orang tua. Banyak yang merasa kesulitan menghentikan kebiasaan anak bermain ponsel, yang ironisnya sering berawal dari kebiasaan orang tua memberikan gawai agar anak tenang saat ditinggal menyelesaikan pekerjaan rumah.
Menjawab tantangan tersebut, tim PKM HGR mengadakan edukasi dengan fokus bahaya penggunaan gawai berlebih pada anak usia dini. Kegiatan ini dibuka dengan sesi ice breaking oleh Kepala Sekolah KB BOCAHPINTAR, Dian Kencana Ayudhia. Saat Dian melakukan pra-evaluasi terkait pemahaan anak-anak tentang bahaya gawai, hanya 2-3 anak yang menyadari risikonya, dan sebatas dampak buruk pada mata.

Dalam penyampaian materi, tim PKM HGR menggunakan pendekatan interaktif storytelling menggunakan boneka tangan dengan materi yang disisipkan ke dalam dongeng di sesi pertama dan video animasi di sesi kedua. Pendekatan ini terbukti efektif membuat anak-anak tampak antusias dan penuh keceriaan mengikuti jalannya kegiatan. Di penghujung acara, saat panitia dari tim PKM HGR sebagai pemateri mengukur kembali pemahaman peserta, terlihat peningkatan yang signifikan. Anak-anak merespons secara serempak dan satu per satu mampu menyebutkan berbagai bahaya penggunaan gawai secara berlebih dengan gaya bahasa mereka masing-masing.
Adapun kegiatan edukasi dilaksanakan di jam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) KB BOCAHPINTAR. Kegiatan ini ikut serta mendukung pelaksanaan Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya pada SDGs 4, yaitu Pendidikan Berkualitas (quality education) dan SDGs 17, yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals).
