Rekomendasi

    Bukan Cuma Label Halal, Ini Alasan Gen-Z Mulai Melirik Bank Syariah

    Firman Setiawan

    Penulis: Hanna Arina Al-Haq

    Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

    JATENGKU.COM, Jakarta — Dulu, bank syariah sering diasosiasikan dengan hal-hal yang serius dan “boomer banget”: antre di teller, formulir kertas, dan citra yang kaku. Tapi coba lihat sekarang. Makin banyak anak muda pindah atau mulai buka rekening di bank syariah, dan alasannya nggak melulu soal agama. Ada dua kata kunci yang bikin gen Z dan milenial mulai serius melirik: digital experience yang makin kece, dan ethical banking alias keuangan yang lebih etis.

    Gen-Z dan Uang: Bukan Sekadar Nabung, Tapi Juga Soal Value

    Riset akademik terbaru soal minat generasi Z terhadap bank syariah maupun konvensional di Indonesia menemukan hal yang menarik: sustainability dan financial ethics terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat generasi Z, baik pada bank syariah maupun bank konvensional. Artinya, isu keberlanjutan dan etika keuangan bukan lagi sekadar jargon CSR ini beneran jadi salah satu pertimbangan anak muda saat memilih ke mana uangnya “dititipkan”.

    Ini masuk akal kalau kita lihat siapa yang lagi masuk usia produktif sekarang. <cite index=”22-1″>Generasi Z sudah mencapai 27,9% dari total penduduk Indonesia, sementara generasi milenial mendominasi dengan porsi 28,87% atau sekitar 69,38 juta orang</cite>. Dua generasi ini gabungannya lebih dari separuh populasi usia produktif Indonesia dan mereka tumbuh besar dengan ekspektasi yang beda soal bagaimana institusi keuangan seharusnya berperilaku.

    Bukan Cuma Halal, Tapi Juga “Adil”

    Prinsip dasar bank syariah bagi hasil, larangan riba, larangan spekulasi berlebihan ternyata resonan dengan cara gen Z memandang uang: nggak melulu soal untung sebesar-besarnya, tapi juga soal keadilan dan dampak. Sistem bagi hasil bikin risiko dan keuntungan ditanggung bersama antara bank dan nasabah, bukan sepihak. Buat generasi yang tumbuh di tengah diskursus soal ketimpangan ekonomi dan greenwashing korporasi, model bisnis yang “transparan by design” ini jadi nilai plus tersendiri bukan cuma soal label halal di brosur.

    Industrinya Juga Lagi Serius Berbenah Secara Digital

    Bukan cuma soal nilai, industrinya sendiri memang sedang all-in membenahi sisi digital. OJK, lewat Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023–2027, secara eksplisit menjadikan optimalisasi infrastruktur teknologi informasi dan layanan digital sebagai salah satu langkah strategis, di samping peningkatan literasi dan inklusi keuangan syariah bagi masyarakat luas. Jadi bukan kebetulan kalau makin banyak bank syariah berlomba merilis fitur mobile banking yang setara bahkan mencoba menyamai bank digital konvensional.

    Biar nggak cuma modal feeling, aset industri perbankan syariah tercatat sebesar Rp979 triliun hingga Agustus 2025, tumbuh 8,15 persen secara tahunan, menurut OJK dan pertumbuhan ini konsisten mengungguli bank konvensional: aset perbankan syariah nasional tumbuh 7,83 persen yoy pada Juni 2025, lebih tinggi dibanding pertumbuhan aset perbankan konvensional yang hanya 6,29 persen di periode yang sama. Artinya, bank syariah bukan cuma “niche” buat kalangan tertentu, tapi industri yang lagi tumbuh lebih cepat dari rata-rata pasar.

    Instrumen yang Makin Relevan Buat Gaya Hidup Anak Muda

    Selain tabungan dan deposito biasa, bank syariah sekarang juga mengembangkan produk-produk yang lebih “kekinian” dan gampang dipahami anak muda mulai dari instrumen investasi sosial seperti Cash Waqf Linked Deposit (CWLD), sampai layanan berbasis aplikasi yang memudahkan transaksi harian tanpa perlu ke cabang. Asosiasi perbankan syariah bahkan secara terbuka mendorong pengembangan instrumen semacam ini agar makin diminati masyarakat, karena mereka sadar generasi muda menuntut kombinasi antara kemudahan digital dan nilai yang bisa dipertanggungjawabkan.

    Hal ini juga sejalan dengan gaya hidup gen Z yang serba cepat dan serba transparan. Buka rekening nggak perlu lagi antre di cabang, mutasi transaksi bisa dicek real-time, sampai fitur-fitur seperti pembayaran zakat, infak, atau wakaf yang kini terintegrasi langsung di aplikasi mobile banking. Dulu, urusan “ibadah finansial” kayak zakat atau wakaf identik dengan proses manual dan berbelit. Sekarang, semuanya bisa dilakukan dalam hitungan detik semudah transfer saldo ke teman. Kombinasi kemudahan teknis dan kemudahan berbuat baik inilah yang bikin bank syariah terasa relevan buat generasi yang terbiasa serba instan tapi tetap peduli dampak.

    Jadi, Kenapa Gen-Z Mulai Beralih?

    Kalau dirangkum, ada tiga alasan utama:

    1. Fitur digital yang makin setara dengan bank digital konvensional, hasil dari dorongan regulator lewat roadmap digitalisasi industri.
    2. Prinsip ethical banking bagi hasil, transparansi, dan larangan spekulasi yang resonan dengan cara gen Z memandang uang dan dampak sosial.
    3. Pertumbuhan industri yang nyata secara angka, bukan cuma citra, dengan laju pertumbuhan aset yang konsisten mengungguli bank konvensional.

    Buat gen Z, memilih bank bukan cuma soal bunga atau promo cashback lagi. Ini soal ke mana uangmu “bekerja” dan nilai apa yang dibawanya. Dan bank syariah, dengan kombinasi digitalisasi yang makin matang plus fondasi etika yang sudah built-in dari sananya, pelan-pelan jadi pilihan yang masuk akal bukan cuma buat yang cari label halal, tapi buat yang cari cara ngatur uang yang lebih align sama value mereka.

    Avatar photo
    Avatar photo
    Handayat
    Penulis