JATENGKU.COM, Jakarta — Perubahan sosial di era modern telah mempengaruhi cara generasi muda memandang institusi pernikahan dan arah masa depan. Generasi muda masa kini sering kali berhadapan dengan dilema mendalam antara cita-cita karir profesional dan ketakutan emosional akan komitmen pernikahan (gamophobia), yang sebagian besar dipicu oleh anggapan kegagalan rumah tangga atau perceraian. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dinamika psikologis dan sosiologis yang mendasari dilema itu dengan memanfaatkan dua pendekatan teoretis utama, yaitu Teori Kelekatan (Attachment Theory) karya John Bowlby dan Teori Hierarki Kebutuhan yang berasal dari Abraham Maslow.
Dengan pendekatan analisis deskriptif-kualitatif yang berlandaskan literatur, penelitian ini mengungkap bahwa ketakutan untuk berkomitmen dipengaruhi oleh gaya kelekatan yang tidak aman (insecure attachment style) sebagai hasil dari transmisi trauma antar generasi. Sebaliknya, pergeseran perhatian terhadap karier berfungsi sebagai alat perlindungan diri untuk memenuhi kebutuhan akan keamanan dan aktualisasi diri yang lebih rendah risikonya. Sebagai solusi, penelitian ini mengemukakan urgensi rekonstruksi kognitif, penyembuhan trauma, serta reposisi pernikahan modern sebagai kerja sama yang mendukung agar pencapaian karier dan kebahagiaan rumah tangga dapat berlangsung secara bersamaan.
Waktu terus berjalan, dan cara pikir generasi muda tentang institusi pernikahan dan masa depan pun ikut berubah. Apabila beberapa tahun yang lalu menikah di usia muda dan membangun keluarga menjadi tujuan utama di awal masa dewasa, saat ini kenyataannya telah sangat berubah. Generasi muda sekarang sering disebut sebagai generasi yang berada di titik pertemuan. Mereka menghadapi dilema serius: di satu sisi terdapat ambisi karier dan cita-cita yang luas, sementara di sisi lain ada ketakutan mendalam untuk mengambil komitmen, terutama dipicu oleh tingginya angka atau bayangan kegagalan pernikahan berupa perceraian.
Dilema ini bukan hanya sekadar trend, melainkan suatu respons psikologis dan sosiologis terhadap kenyataan yang mereka amati di lingkungan mereka. Banyak orang dewasa muda pada akhirnya memilih untuk menunda, atau bahkan meragukan kembali pentingnya pernikahan demi mengejar keamanan finansial dan pencapaian karier.
1. Teori Kelekatan dan Ketakutan Berkomitmen
Salah satu penyebab utama ketakutan untuk menikah (gamophobia) di kalangan anak muda adalah pengalaman sebelumnya, baik yang dialami secara langsung di dalam keluarga broken home maupun yang terlihat melalui fenomena sosial. Dalam perspektif psikologi, fenomena ini dapat dianalisis melalui Teori Kelekatan yang diperkenalkan oleh John Bowlby. Teori ini mengungkapkan bahwa pola interaksi yang dijalin anak dengan orang tua sewaktu kecil akan mempengaruhi cara mereka membangun komitmen romantis ketika dewasa (Bowlby, 1969).
Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang berantakan atau melihat perceraian biasanya kehilangan teladan tentang cara menjalani hubungan yang sehat dan harmonis. Sebagai hasilnya, mereka menjadi rentan untuk mengembangkan gaya kelekatan yang tidak aman, terutama tipe cemas-menghindar. Ainsworth et al. (1978) dalam penelitian klasiknya tentang Strange Situation Procedure mengidentifikasi bahwa pola kelekatan tidak aman pada masa kanak-kanak berkorelasi signifikan dengan kesulitan menjalin hubungan intim di masa dewasa. Saat memasuki usia dewasa muda, mereka menginginkan keakraban, tetapi di saat yang bersamaan, ada rasa takut yang mendalam bahwa ikatan pernikahan yang mereka bangun akan berujung tragis seperti perceraian orang tua mereka. Trauma inilah yang menjadikan institusi pernikahan tampak sebagai sebuah risiko emosional yang sebaiknya dihindari (Hazan & Shaver, 1987).
2. Hierarki Kebutuhan Maslow: Karier Sebagai Ruang Nyaman dan Pencapaian Diri
Saat hubungan antarpribadi dinilai sarat dengan ketidakpastian dan kemungkinan kegagalan, generasi muda mengalihkan perhatian dan tenaga mereka ke area yang dapat mereka kuasai secara mandiri: pekerjaan dan impian. Perubahan fokus ini sejalan dengan Teori Hierarki Kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow (1943). Menurut teori ini, individu cenderung memenuhi kebutuhan dasar mereka terlebih dahulu (seperti keamanan dan kestabilan finansial) sebelum menuju kebutuhan yang lebih tinggi.
Mengingat pernikahan di zaman modern dianggap “tidak aman” karena adanya kemungkinan perceraian, generasi muda memilih untuk memenuhi kebutuhan rasa aman mereka secara pribadi melalui kestabilan finansial di lingkungan kerja. Mengejar cita-cita profesional berfungsi sebagai cara untuk melindungi diri (mekanisme pertahanan). Muncul keyakinan bahwa mengalokasikan waktu, usaha, dan perasaan ke dalam pekerjaan jauh lebih logis karena memberikan hasil yang jelas—seperti promosi, gaji yang stabil, dan pengakuan dari masyarakat. Di puncak hierarki Maslow, keberhasilan dalam karier dan pencapaian tujuan dianggap sebagai jalan utama menuju self-actualization yang memiliki risiko jauh lebih kecil dibandingkan menyerahkan kebahagiaan hidup pada komitmen pernikahan yang mudah runtuh (Maslow, 1954).
3. Menjaga Keseimbangan: Menemukan Solusi untuk Dilema
Dilema antara ketakutan untuk menikah dan ambisi dalam karier sebenarnya tidak perlu berakhir dengan meninggalkan salah satunya. Solusi untuk memutus siklus kecemasan ini adalah dengan melakukan rekonstruksi pola pikir (cognitive restructuring) serta proses penyembuhan trauma (trauma healing). Beck et al. (1979) menekankan bahwa restrukturisasi kognitif merupakan komponen inti dalam terapi yang efektif untuk mengatasi pola pikir maladaptif, termasuk ketakutan yang tidak realistis terhadap komitmen.
- Menghentikan Siklus Trauma Antar Generasi: Generasi muda harus dengan jelas menyadari bahwa mereka berbeda dari orang tua mereka. Kegagalan cinta di masa lalu merupakan pelajaran penting, bukan nasib yang pasti akan terulang. Hubungan yang baik dapat terjalin melalui komunikasi yang jujur dan kedewasaan emosional (Siegel, 2010).
- Karier dan Pernikahan sebagai Dukungan Saling: Pernikahan yang sehat di era modern seharusnya mengutamakan prinsip kemitraan (partnership). Dalam hubungan yang mendukung, pasangan sebenarnya dapat menjadi sistem penyangga terbesar bagi seseorang untuk meraih ambisi karier dan impiannya (Gottman & Silver, 1999).
- Kesiapan Sebelum Berkomitmen: Kesiapan secara mental, keuangan, serta pemahaman yang mendalam tentang manajemen konflik merupakan dasar yang penting agar pernikahan tidak mudah terguncang oleh tantangan kehidupan modern (Stanley et al., 2004).
Rangkuman
Dilema yang dihadapi anak muda antara rasa takut terhadap perceraian dan keinginan berkarier mencerminkan proses pendewasaan yang sangat hati-hati. Kekhawatiran terhadap pernikahan bukanlah indikasi bahwa generasi ini menolak komitmen, melainkan merupakan respons adaptif terhadap pengalaman trauma yang diamati atau dialami secara langsung. Berdasarkan Teori Kelekatan Bowlby (1969), individu yang tumbuh dalam lingkungan keluarga tidak stabil cenderung mengembangkan gaya kelekatan tidak aman, yang pada akhirnya menghambat kemampuan mereka untuk membentuk ikatan emosional yang sehat di masa dewasa. Ketakutan ini bersifat nyata secara psikologis dan tidak boleh disepelekan, melainkan harus dipahami sebagai titik awal untuk intervensi dan pemulihan diri.
Di sisi lain, orientasi yang kuat terhadap karier dan pencapaian profesional juga memiliki dasar psikologis yang dapat dijelaskan melalui Teori Hierarki Kebutuhan Maslow (1943; 1954). Ketika hubungan romantis dirasakan sebagai sumber ketidakpastian, individu secara alami beralih menuju domain yang memberikan rasa kendali, kepastian, dan pengakuan—yakni karier dan prestasi. Pemenuhan kebutuhan akan rasa aman melalui stabilitas finansial menjadi prioritas utama sebelum seseorang berani memasuki komitmen pernikahan. Meskipun strategi ini dapat dipahami secara psikologis, mengeksklusifkan diri dari hubungan intim dalam jangka panjang justru dapat menghambat tercapainya self-actualization yang sesungguhnya, karena kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki merupakan tangga penting dalam hierarki Maslow yang tidak dapat dilewati begitu saja.
Karier dan tujuan hidup memang penting untuk menjadi nyata sebagai bentuk aktualisasi diri, tetapi pernikahan juga tidak perlu ditakuti secara berlebihan apabila landasan emosional, gaya kelekatan yang sehat, dan komunikasi antarpasangan telah dipersiapkan dengan baik. Pendekatan cognitive restructuring (Beck et al., 1979) dan trauma healing dapat membantu individu memutus siklus trauma antargenerasi, sehingga mereka mampu membangun hubungan yang didasari oleh pilihan sadar dan kesiapan emosional yang matang, bukan oleh rasa takut. Dengan demikian, keberhasilan dalam pekerjaan dan kebahagiaan dalam keluarga adalah dua hal yang dapat berjalan beriringan secara harmonis, saling memperkuat satu sama lain sebagai dua pilar utama dalam kehidupan manusia yang seimbang dan bermakna.
Daftar Pustaka
Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of attachment: A psychological study of the strange situation. Lawrence Erlbaum Associates.
Beck, A. T., Rush, A. J., Shaw, B. F., & Emery, G. (1979). Cognitive therapy of depression. Guilford Press.
Bowlby, J. (1969). Attachment and loss: Vol. 1. Attachment. Basic Books.
Gottman, J. M., & Silver, N. (1999). The seven principles for making marriage work. Crown Publishers.
Hazan, C., & Shaver, P. (1987). Romantic love conceptualized as an attachment process. Journal of Personality and Social Psychology, 52(3), 511–524.
Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370–396.
Maslow, A. H. (1954). Motivation and personality. Harper & Row.
Siegel, D. J. (2010). The mindful therapist: A clinician’s guide to mindsight and neural integration. W. W. Norton & Company.
Stanley, S. M., Whitton, S. W., & Markman, H. J. (2004). Maybe I do: Interpersonal commitment and premarital or nonmarital cohabitation. Journal of Family Issues, 25(4), 496–519.
Nama :

