JATENGKU.COM, SRAGEN — Desa Pungsari, yang terletak di Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, dikenal sebagai salah satu sentra batik di Jawa Tengah. Di desa ini, membatik bukan sekadar pekerjaan, tapi sudah menjadi bagian dari budaya turun-temurun. Banyak warga Pungsari yang menggantungkan hidup dari batik—dari membatik di rumah hingga menjadi bagian dari jaringan produksi yang lebih besar.
Namun, seiring waktu, banyak pengrajin mulai beralih ke batik printing yang dianggap lebih cepat, praktis, dan mudah dipasarkan dalam jumlah besar. Batik tulis, dengan prosesnya yang rumit dan memakan waktu, makin jarang ditekuni. Di tengah arus perubahan itu, Batik Welas Asih muncul sebagai satu dari sedikit UMKM yang tetap bertahan memproduksi batik tulis secara tradisional.
Dikelola oleh Bu Welas, usaha ini mempertahankan proses membatik dengan tangan, melibatkan para perempuan desa, dan menjaga keaslian motif yang dibuat sendiri. Di sinilah kisah tentang kesetiaan pada budaya dan ketekunan dalam tradisi dimulai.
Awal Mula: Dari Iseng hingga Jadi Usaha Serius

Usaha batik tulis Welas Asih mulai dirintis sekitar dua hingga tiga tahun lalu. Awalnya, Bu Welas hanya menjual kain mentahan ke produsen besar. Namun, saat pandemi COVID-19 datang, semuanya berubah. Produsen langganan tak lagi menerima barang, sementara hasil batik di rumah sudah menumpuk.
“Waktu itu udah punya banyak pembatik, tapi nggak tahu mau dikemanain hasilnya. Akhirnya coba tak jadiin produk utuh, tak pasarkan sendiri lewat Facebook dan Instagram. Alhamdulillah, hasilnya sampai sekarang,” cerita Bu Welas.
Apa yang dimulai dari iseng akhirnya menjadi usaha yang serius dan berkembang perlahan-lahan.
Memilih Tetap di Jalur Batik Tulis
Ketika banyak pelaku usaha batik di Pungsari sudah beralih ke printing, Bu Welas justru memilih bertahan dengan batik tulis. Alasannya bukan karena mudah, tapi karena ada nilai yang ingin dijaga.
“Pengen nguri-uri budaya, Mba. Kalau nggak dilestarikan, nanti bisa punah. Apalagi sekarang ini yang bisa batik tulis sudah sedikit banget. Kebanyakan orang lebih milih kerja lain, yang cepat dan hasilnya kelihatan,” ujarnya.
Menurut Bu Welas, membatik tulis juga memberi ruang bagi perempuan desa untuk tetap produktif, meski dari rumah. Banyak pembatik di tempatnya yang menyambi mengurus anak, bertani, atau mengerjakan pekerjaan rumah.
Proses yang Panjang, Tapi Penuh Makna

Batik tulis tidak dibuat dalam sehari. Satu lembar kain bisa memakan waktu hingga satu bulan untuk diselesaikan. Itupun tergantung jumlah warna, ukuran pola, dan tingkat kerumitan motif.
Prosesnya dimulai dari membuat pola secara manual, yang bisa memakan waktu 1–2 jam. Setelah itu, malam atau lilin batik ditorehkan mengikuti pola. Pewarnaan dilakukan beberapa kali, tergantung banyaknya warna yang digunakan. Warna yang digunakan Bu Welas kebanyakan tone klasik seperti sogan Solo dan sogan Jogja, yang menjadi ciri khas Batik Welas Asih.
“Warnaku nggak warna-warni, lebih ke warna soft, klasik. Biasanya sogan. Kalau terlalu banyak warna kan biaya juga nambah, karena semua masih manual,” jelasnya.
Kain Berkualitas dan Produk Bernilai

Batik Welas Asih menggunakan kain dengan kualitas baik. Bu Welas memakai katun halus hingga sutra—baik sutra baron maupun sutra tulis. Kain sudah berpola, lengkap dengan bagian punggung, kerah, dan kantong.
Harga dari satu lembar batik tulis ini bervariasi. Untuk kain katun biasanya dijual mulai dari Rp500.000, sedangkan batik berbahan sutra bisa mencapai Rp1.500.000. Bila dijual lewat toko, harganya bisa naik menjadi Rp2 juta lebih.
Meski margin keuntungannya tidak besar, sekitar Rp200 ribu per lembar, Bu Welas tetap menjaga kualitas. “Kalau tak jual mahal-mahal, nggak laku. Tapi batik tulis itu ada nilainya. Disimpan makin lama makin mahal,” ujarnya.
Motif Eksklusif, Tidak Dibeli di Pasaran
Satu hal yang membedakan Batik Welas Asih dari pengrajin lain di Pungsari adalah soal motif. Bu Welas tidak membeli motif dari luar. Ia membuat motif sendiri agar desain batiknya tidak bisa ditiru dengan mudah.
“Kalau beli motif, itu bisa dicetak ulang sama orang. Bahkan pernah ada yang beli batik tulis, terus dijiplak, dibikin versi printing-nya. Jadi sekarang aku lebih milih bikin motif sendiri aja, lebih aman,” katanya.
Dalam satu tahun, hanya 3–5 lembar kain yang dibuat dengan satu motif. Setelah itu, motif akan diganti dan digarap ulang tahun depan. Inilah yang membuat batik tulis menjadi produk yang benar-benar terbatas dan eksklusif.
Pemasaran Lewat WhatsApp dan Facebook
Meski tidak punya showroom atau toko online, Batik Welas Asih sudah punya pasar sendiri. Pemasaran dilakukan lewat Facebook, Instagram, dan jaringan reseller. Pembeli biasanya memilih batik lewat foto yang dikirim lewat WhatsApp, lalu memesan secara langsung.
“Biasanya dari Jogja, Sleman, Tanah Abang, atau Pati. Ada yang ngambil sebulan sekali, ada juga dua bulan sekali. Semua tanpa stok banyak. Karena prosesnya lama, paling cepat satu bulan,” jelas Bu Welas.
Platform seperti Shopee atau TikTok Shop belum digunakan karena tidak cocok dengan sistem produksi batik tulis yang serba terbatas dan berbasis pesanan.
Tantangan Terbesar: Regenerasi Pembatik

Tantangan utama yang dihadapi bukan pada pemasaran, melainkan regenerasi. Menurut Bu Welas, makin sedikit orang—terutama generasi muda—yang mau atau bisa membatik.
“Anak muda sekarang sudah nggak bisa mbatik. Yang masih bisa itu biasanya umur 40 ke atas. Padahal kalau nggak ada yang nerusin, ya bisa punah. Makanya aku ngajak ibu-ibu sekitar sini buat belajar dan bantu produksi, walau cuma sambilan,” katanya.
Bagi Bu Welas, membatik adalah budaya yang harus dijaga bersama, bukan sekadar peluang usaha.
Meski belum memiliki brand besar atau toko sendiri, Bu Welas tetap mempertahankan nama Welas Asih sebagai identitas.
“Yang penting punya nama, Mba. Jadi kalau ada yang nyari gampang. Aku belum ada showroom, belum besar. Tapi dari kecil-kecil ini bisa jalan, asal konsisten,” ucapnya.
Ia sadar bahwa brand punya pengaruh besar dalam harga jual. Pernah ia jual batik seharga Rp400.000–500.000 ke orang yang kemudian menjual ulang dengan harga hampir dua kali lipat karena sudah punya nama.
Batik Welas Asih bukan hanya tentang bisnis. Ia adalah bentuk perlawanan kecil terhadap modernisasi yang menggerus budaya. Lewat tangan-tangan perempuan desa dan keteguhan Bu Welas, batik tulis terus hidup—meski pelan, meski dalam skala kecil.
Di tengah maraknya batik printing yang bisa diproduksi ribuan potong dalam sehari, batik tulis hadir sebagai pengingat: bahwa keindahan kadang lahir dari proses yang panjang, sabar, dan dikerjakan sepenuh hati.
Penulis: Siti Aisyah










