Blacanan, 22 Juli 2025 — Strategi promosi UMKM kini tak lagi terpaku pada pendekatan konvensional. Hal ini dibuktikan oleh Audifa Moza Maghfira, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam tim KKN-T 15 di Desa Blacanan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Melalui konten video bertema sinematik dan emosional, ia membantu mempromosikan produk lokal baju anak Bosskids dengan cara yang segar dan menyentuh.
Konten berdurasi satu menit tersebut menyuguhkan pertemuan tak sengaja antara dua mantan kekasih di jalan desa. Saat mereka bertabrakan, baju edisi kemerdekaan dari Bosskids yang dibawa jatuh berserakan, memicu kilas balik ke masa lalu—masa ketika keduanya masih merancang desain bersama. Potongan memori seperti saling mencoret sketsa dan tertawa di meja kerja menjadi kekuatan emosional dalam video tersebut.
“Lewat cerita ini, kami ingin memperlihatkan bahwa produk UMKM tidak hanya soal jual beli, tapi juga ada nilai, emosi, dan proses yang bisa menginspirasi,” ujar Audifa, mahasiswa Sastra Indonesia sekaligus kreator konten tersebut.
Konten ini merupakan bagian dari program KKN Tematik Universitas Diponegoro bertajuk “Pengembangan UMKM melalui Teknologi Digital dan Kebudayaan sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan Menuju Desa Kreatif,” dengan bimbingan dari Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum., Riris Tiani, S.S., M.Hum., dan Dr. Nailul Fauziah, S.Psi., M.Psi., Psikolog selaku Dosen Pendamping Lapangan (DPL).
Dengan pendekatan visual storytelling yang kuat, serta tone emosional yang pas, video ini ditujukan untuk menarik hati target utama pasar Bosskids, yakni para ibu muda. Platform TikTok (@bosskids_store) dipilih sebagai kanal distribusi konten karena potensinya dalam menjangkau audiens yang luas dan aktif secara digital.
Meski masih dalam tahap penyuntingan akhir, cuplikan dari konten ini telah menuai apresiasi positif dari masyarakat setempat dan pelaku UMKM lainnya. Visual yang apik, alur naratif yang menyentuh, serta pengemasan yang kekinian membuat Bosskids tampil berbeda dan memiliki nilai tambah di mata konsumen.
Menurut para dosen pendamping, langkah ini merupakan bukti bahwa mahasiswa KKN tidak hanya hadir untuk menjalankan program kerja, tetapi juga mampu membawa inovasi dan daya cipta yang relevan dengan kebutuhan desa. “Pendekatan ini menunjukkan sinergi antara kreativitas, teknologi, dan pemberdayaan lokal,” ujar salah satu DPL.
Melalui kisah romansa yang dibalut semangat kemerdekaan dan identitas produk lokal, mahasiswa KKN-T 15 Undip membuktikan bahwa promosi UMKM dapat tampil hangat, estetik, dan berdampak.











