Desa Kacangan, 29 Januari 2026 – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Kacangan menunjukkan inovasi nyata dalam mendukung program pertanian berkelanjutan. Pada Rabu (29/1) pukul 11.00 WIB, mahasiswa KKN Universitas Diponegoro (UNDIP) Tim I Tahun Akademik 2025/2026 melakukan sosialisasi dan demonstrasi alat sistem ventilasi termal otomatis untuk komposter cerdas kepada Kelompok Tani Desa Kacangan.
Kegiatan yang berlangsung di balai pertemuan desa ini dihadiri oleh pengurus dan anggota kelompok tani setempat, serta beberapa tokoh masyarakat yang peduli terhadap pengembangan pertanian berkelanjutan di wilayah tersebut. Acara dibuka dengan sambutan hangat dari ketua kelompok tani yang menyampaikan apresiasi atas kepedulian mahasiswa KKN terhadap kemajuan pertanian di desanya.

Teknologi Komposter Cerdas untuk Pertanian Modern
Mahasiswa KKN memperkenalkan teknologi komposter cerdas yang dilengkapi sistem ventilasi termal otomatis, sebuah inovasi yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi proses pengomposan limbah organik pertanian. Teknologi ini merupakan hasil pengembangan yang menggabungkan prinsip-prinsip biologi, kimia, dan teknologi otomasi untuk menghasilkan kompos berkualitas tinggi dalam waktu yang lebih singkat.
“Alat ini akan membantu petani dalam mengolah limbah pertanian menjadi kompos berkualitas dengan lebih cepat dan efisien. Sistem ventilasi termal otomatis mengatur suhu dan sirkulasi udara secara optimal, sehingga proses dekomposisi berjalan lebih sempurna. Yang menarik, petani tidak perlu lagi membalik-balik tumpukan kompos secara manual karena sistem ventilasi akan memastikan distribusi oksigen yang merata ke seluruh bagian komposter,” jelas salah satu mahasiswa KKN dalam pemaparannya.
Komposter cerdas ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode pengomposan konvensional. Pertama, sistem sensor suhu yang terintegrasi dapat mendeteksi panas berlebih dan secara otomatis mengaktifkan kipas ventilasi untuk mendinginkan material kompos. Kedua, desain chamber berlapis memungkinkan proses aerasi yang optimal tanpa perlu pembalikan manual. Ketiga, waktu pengomposan dapat dipangkas hingga 50% dari metode tradisional yang biasanya memakan waktu 2-3 bulan menjadi hanya 3-6 minggu.
Sosialisasi Komprehensif dan Demonstrasi Langsung
Dalam sosialisasi tersebut, mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan teoritis, tetapi juga melakukan demonstrasi langsung cara kerja dan perawatan alat. Para petani diberi kesempatan untuk melihat secara detail komponen-komponen komposter, mulai dari sistem sensor, kipas ventilasi, hingga struktur chamber yang dirancang khusus untuk memaksimalkan proses dekomposisi.
Tim mahasiswa menjelaskan secara rinci tentang jenis-jenis limbah pertanian yang dapat diolah, seperti jerami, sekam padi, sisa tanaman, kotoran ternak, dan limbah organik lainnya. Mereka juga memberikan panduan tentang komposisi ideal bahan-bahan organik, rasio karbon dan nitrogen yang tepat, serta tingkat kelembaban yang harus dijaga agar proses pengomposan berjalan optimal.
“Kami juga mengajarkan cara monitoring suhu dan kelembaban kompos, karena kedua faktor ini sangat krusial dalam menentukan kualitas hasil akhir. Suhu ideal untuk pengomposan adalah antara 55-65 derajat Celsius, dan kelembaban sekitar 50-60 persen. Dengan komposter cerdas ini, parameter-parameter tersebut lebih mudah dikontrol,” tambah mahasiswa KKN.
Para petani tampak antusias mengikuti penjelasan dan aktif bertanya mengenai aplikasi teknologi ini di lahan pertanian mereka. Beberapa pertanyaan yang muncul antara lain mengenai kapasitas komposter, kebutuhan listrik untuk sistem otomatis, biaya perawatan, hingga kualitas kompos yang dihasilkan dibandingkan dengan metode konvensional.
Salah satu petani senior yang hadir menyampaikan, “Selama ini kami mengompos secara tradisional dan memang cukup melelahkan karena harus membalik tumpukan kompos setiap minggu. Dengan teknologi ini, pekerjaan kami jadi lebih ringan dan hasilnya lebih cepat. Kami berharap bisa segera mengimplementasikan teknologi ini di kelompok tani kami.”

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan
Selain aspek teknis, mahasiswa KKN juga menekankan manfaat ekonomi dan lingkungan dari penggunaan komposter cerdas. Dari sisi ekonomi, petani dapat menghemat biaya pembelian pupuk kimia karena kompos yang dihasilkan memiliki kualitas setara bahkan lebih baik dalam hal kandungan nutrisi dan mikroorganisme menguntungkan. Dengan produksi kompos yang lebih cepat dan konsisten, petani juga dapat memenuhi kebutuhan pupuk organik mereka secara mandiri.
Dari perspektif lingkungan, teknologi ini membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang biasanya dihasilkan dari pembakaran limbah pertanian. Proses pengomposan yang terkontrol juga meminimalkan produksi gas metana yang berbahaya bagi atmosfer. Selain itu, penggunaan kompos organik akan meningkatkan kesehatan tanah, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air.
“Dengan mengadopsi teknologi ini, petani tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan mereka, tetapi juga berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim dan pelestarian lingkungan. Ini sejalan dengan konsep pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan,” ujar mahasiswa KKN.
Respons Positif dan Rencana Tindak Lanjut
Ketua Kelompok Tani Desa Kacangan menyambut baik inisiatif ini dan berharap teknologi komposter cerdas dapat segera diimplementasikan secara luas. “Ini sangat membantu kami dalam mengelola limbah pertanian sekaligus menghasilkan pupuk organik berkualitas untuk meningkatkan produktivitas. Kami akan mengusulkan kepada anggota kelompok tani untuk mulai menggunakan teknologi ini secara bertahap,” ujarnya.
Beliau juga menyampaikan rencana untuk mengalokasikan lahan khusus sebagai area percontohan penggunaan komposter cerdas, sehingga anggota kelompok tani lainnya dapat belajar dan melihat langsung hasilnya sebelum mengadopsi teknologi ini di lahan masing-masing.
Tim mahasiswa KKN menyatakan kesediaan mereka untuk terus mendampingi kelompok tani dalam proses implementasi dan akan memberikan bantuan teknis jika diperlukan. “Kami akan melakukan monitoring berkala untuk memastikan alat ini berfungsi dengan baik dan memberikan hasil yang optimal. Kami juga akan membuat panduan operasional sederhana dalam bahasa yang mudah dipahami petani,” kata koordinator tim KKN.
Kontribusi untuk Pertanian Berkelanjutan
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KKN yang fokus pada pemberdayaan masyarakat desa melalui transfer teknologi tepat guna. Program ini juga sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor pertanian yang modern, efisien, dan berkelanjutan.
Diharapkan dengan adanya komposter cerdas ini, Desa Kacangan dapat menjadi contoh dalam penerapan pertanian ramah lingkungan di wilayah sekitarnya. Keberhasilan implementasi teknologi ini di Desa Kacangan juga dapat menjadi model yang dapat direplikasi di desa-desa lain, sehingga memberikan dampak positif yang lebih luas bagi sektor pertanian di tingkat regional.
Selain itu, program ini juga membuka peluang kerjasama antara perguruan tinggi dengan masyarakat dalam mengembangkan dan mengaplikasikan inovasi teknologi pertanian. Mahasiswa mendapat pengalaman praktis dalam implementasi teknologi, sementara petani mendapat akses terhadap teknologi terkini yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka.
Acara ditutup dengan dokumentasi bersama dan komitmen dari kedua belah pihak untuk terus menjalin komunikasi dan kerjasama demi kemajuan pertanian berkelanjutan di Desa Kacangan.
Narahubung:
Tim KKN UNDIP Tim I TA 2025/2026
Desa Kacangan
Email: [muhammadnurulfurqon2003@gmail.com]
Telepon: [08966999009]







