JATENGKU.COM, PEKALONGAN — Sebuah pohon rindang yang dipercaya sebagai penjaga desa, cahaya seribu lilin yang menyinari malam penuh doa dan harapan—itulah bagian dari kisah yang mewarnai budaya masyarakat Desa Rembun, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan. Kini, tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun tersebut dihidupkan kembali dalam bentuk yang lebih modern dan atraktif: video animasi dongeng berjudul “Pohon Rindang dan Tradisi Seribu Lilin”.
Inisiatif ini digagas oleh Afifah Rizqi Muharram, mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, yang tengah melaksanakan program KKN-T IDBU Tim 15 Kelompok 6. Mengusung semangat pelestarian budaya, Afifah menggali cerita rakyat lokal langsung dari Kepala Desa Rembun, Nur Hayyi, serta tokoh masyarakat setempat, lalu mengadaptasinya menjadi sebuah karya visual yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, baik lokal maupun publik luas.
“Desa Rembun punya warisan cerita yang luar biasa, tapi selama ini hanya diceritakan secara lisan. Lewat animasi ini, saya ingin memperkenalkannya secara lebih luas dan lestari — tidak hanya sebagai kisah, tapi sebagai identitas budaya desa yang hidup,” ujar Afifah.
Video animasi ini menampilkan narasi dongeng dengan gaya bertutur khas, visual ilustratif yang menggugah, serta elemen musik yang menambah kedalaman emosi cerita. Diluncurkan pada 20 Juli 2025, program ini menyasar seluruh masyarakat Desa Rembun, dari anak-anak hingga orang dewasa, sebagai sarana edukasi budaya dan penyemai nilai tradisi.

Cerita “Pohon Rindang dan Tradisi Seribu Lilin” bukan sekadar dongeng biasa. Ia mencerminkan nilai-nilai gotong royong, spiritualitas, dan kebersamaan masyarakat Desa Rembun yang hingga kini masih kuat menjaga warisan leluhur mereka. Tradisi “Seribu Lilin” sendiri merupakan simbol harapan dan penghormatan, dinyalakan bersama di malam-malam tertentu sebagai bentuk pengingat akan sejarah desa dan doa untuk masa depan yang lebih baik.
Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yakni Riris Tiani, S.S., M.Hum., Fajrul Falah, S.Hum., M.Hum., dan Dr. Nailul Fauziyah, S.Psi., M.Psi., program ini menjadi bentuk nyata implementasi lintas disiplin antara seni, sastra, dan teknologi visual dalam pengabdian masyarakat berbasis budaya.
Program ini juga merupakan bagian dari pelaksanaan tema besar KKN-T IDBU Tim 15 Universitas Diponegoro tahun 2025: “Pengembangan UMKM Melalui Teknologi Digital dan Kebudayaan sebagai Upaya Pengentasan Kemiskinan Menuju Desa Kreatif di Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan.”
Melalui pendekatan visual dan naratif, animasi ini diharapkan menjadi media intergenerasional — menjembatani generasi muda yang tumbuh dengan teknologi dan generasi tua yang memegang erat tradisi. Tidak hanya berfungsi sebagai alat dokumentasi budaya, tetapi juga sebagai sarana promosi desa, menjadikan Rembun tak sekadar tempat di peta, tetapi juga pusat cerita yang hidup dan menginspirasi.
“Harapannya, video ini bisa menjadi pemantik semangat bagi desa lain untuk mulai mendokumentasikan kisah dan tradisi mereka. Budaya adalah kekayaan yang tidak boleh hilang, dan sekarang saatnya kita menjaganya dengan cara yang relevan,” tambah Afifah.
Dengan karya ini, Afifah membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu berbentuk seminar atau arsip. Lewat kreativitas dan sentuhan teknologi, kisah-kisah lokal bisa menjangkau dunia — menjadi warisan yang lestari, dikenang, dan diwariskan lintas zaman.
Saksikan bagaimana dongeng dan tradisi Desa Rembun dihidupkan kembali lewat sentuhan visual dan narasi yang menyentuh hati.
Video Animasi Dongeng Desa Rembun “Pohon Rindang dan Tradisi 1000 Lilin” di Youtube
Jangan hanya membaca ceritanya—rasakan dan hayati dalam bentuk visual! Tonton kisah “Pohon Rindang dan Tradisi Seribu Lilin”.









