JATENGKU.COM, Batang — Dalam rangka mendukung perencanaan dan pemanfaatan lahan yang berkelanjutan tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Tim I-73 Universitas Diponegoro yang melaksanakan program KKN di Desa Bandung, Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah melakukan kegiatan penyusunan Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) di wilayah Desa Bandung.

Hal ini dikarenakan Desa Bandung memiliki potensi alam khususnya pada kebun buah. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan lahan berdasarkan kondisi fisik lingkungan sehingga pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara tepat dan minim risiko lingkungan.

Penyusunan Peta SKL diawali dengan pengumpulan data sekunder, meliputi peta topografi, kemiringan lereng, jenis tanah, curah hujan, penggunaan lahan, serta data hidrologi. Data tersebut kemudian diolah menggunakan perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui proses analisis spasial dan tumpang susun (overlay) untuk menghasilkan beberapa parameter kemampuan lahan.

Parameter yang dianalisis dalam Peta SKL meliputi morfologi wilayah, kemudahan lahan untuk dikerjakan, kestabilan lereng, kestabilan pondasi, ketersediaan air, kemampuan drainase, tingkat kerentanan terhadap erosi, kemampuan pembuangan limbah, serta potensi bencana alam. Setiap parameter diklasifikasikan berdasarkan tingkat kemampuan, mulai dari rendah hingga tinggi.

Hasil analisis Peta Satuan Kemampuan Lahan (SKL) menunjukkan bahwa wilayah kebun buah Desa Bandung memiliki variasi kemampuan lahan yang cukup beragam. Dengan terbagi menjadi 3 zona yaitu zona hijau, zona kuning dan zona merah. Di mana hasil analisis dan pengolahan menunjukkan bahwa secara keseluruhan kebun buah di dominasi oleh zona kuning.

  • Zona hijau merupakan zona SKL tinggi yang mana kemampuan lahan baik sampai dengan sangat baik, dalam zona ini faktor pembatas sangat minimal. Zona hijau sendiri mempunyai karakteristik diantaranya yaitu lereng landai, tanah relatif stabil, drainase baik, risiko erosi rendah. Pada zona ini memiliki potensi pemanfaatan sebagai usat kegiatan kebun buah, fasilitas pendukung agrowisata dan bangunan ringan (gazebo, pos informasi).
  • Zona kuning merupakan zona SKL rendah yang mana kemampuan lahan cukup sesuai untuk pemanfaatan terbatas, masih dapat dikembangkan, namun memerlukan pengelolaan khusus.  Biasanya pada zona ini memiliki karakteristik lereng landai sampai dengan agak miring, tanah cukup stabil tetapi rentan erosi ringan–sedang, drainase alami sedang. Pada zona ini memiliki potensi pemanfaatan sebagai kebun buah, pertanian lahan kering dan fasilitas ringan agrowisata. Zona ini tidak bermasalah, tapi tidak boleh dieksploitasi berlebihan tanpa konservasi tanah dan air.
  • Zona merah merupakan zona SKL rendah yang mana kemampuan lahan rendah memiliki faktor pembatas serius. Zona merah sendiri memiliki karaketristik lereng curam, potensi erosi tinggi, kestabilan lereng dan pondasi rendah, dan drainase buruk atau rawan longsor. Pada zona ini memiliki arahan pemanfaatan yaitu tidak disarankan untuk bangunan permanen, tidak ideal untuk kebun intensif, dan lebih cocok sebagai zona konservasi, vegetasi penutup tanah, area penyangga.

Peta Satuan Kemampuan Lahan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah desa Bandung, Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dan masyarakat dalam menentukan arah pemanfaatan lahan, perencanaan pembangunan, serta upaya konservasi lingkungan.

Dengan adanya Peta SKL, pengelolaan wilayah kebun buah Desa Bandung dapat dilakukan secara lebih terencana, berkelanjutan, dan selaras dengan kondisi alam setempat.

Editor: Handayat

Tag