Rekomendasi

    Mengulik Konsep Bread and Circus dalam Lagu “Bread & Circus” Karya The SIGIT: Ketika Konsumerisme Hiburan Mengaburkan Partisipasi Masyarakat dalam Negara Hukum

    Ketika panggung hiburan gemerlap berhasil mengalihkan perhatian kita dari sepinya ruang partisipasi publik. Sebuah kritik nyata atas konsumerisme yang menidurkan kesadaran masyarakat dalam negara hukum,
    Firman Setiawan

    Penulis: R. Ahmad Januar Andhika Sukmana

    Mahasiswa Program Studi Hukum, Universitas Airlangga

    JATENGKU.COM, Surabaya — Dalam Kekaisaraan Romawi, dikenal istilah panem et circenses atau dalam bahasa Inggris disebut bread and circus. Istilah ini merujuk pada bagaimana Kekaisaraan Romawi mengendalikan rakyatnya dengan cara memberikan gandum dan hiburan gratis untuk mengalihkan perhatian mereka dari pemerintah. Karena terjaganya dua hal itu, maka stabilitas negara akan terjaga karena jika rakyat tidak lapar dan senang, maka tidak akan ada gejolak diantara mereka. Jika ditinjau dari situ saja, konsep ini seakan-akan menempatkan keadaan masyarakt dalam keadaan makmur padahal jika dilihat dari bagaimana konsep ini muncul, hal ini merupakan sebuah ironi. Konsep bread and circus pertama kali dikenalkan oleh seorang penyair Romawi, Juvenal dalam karyanya “Satire X”. Dalam syair itu Juvenal melihat bagaimana pemerintah melakukan kontrol kepada masyarakat

    “….duas tantum res anxius optat, panem et circenses.”

    Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi,

    “…rakyat kini hanya menginginkan dua hal: roti dan hiburan”.

    The SIGIT dalam karya terbarunya dengan lagu “Bread & Circus” (2026) membawakan konsep yang sama seperti yang Juvenal dalam syair “Satire X”, bedanya jika Juvenal membawakan karyanya dengan bait-bait puitis, maka The SIGIT membawanya dengan lirik-lirik metafora dan nuansa psychedelic rock yang kental. The SIGIT menghadirkan karya tersebut sebagai kritik sosial atas bagaimana konsumerisme masyarakat terhadap hiburan dapat mengaburkan partisipasi mereka dalam pengawasan pemerintah, yang hal itu sangat fatal jika terjadi di negara hukum. Dalam liriknya The SIGIT menyebutkan:

    blinded by our dances, blinded for romances

    Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi,

    dibutakan dengan tarian, dibutakan dengan romansa

    Hal ini sangat selaras dengan bagaimana Juvenal membawakan konsep panem et circenses, karena pemerintah Kekaisaran Romawi menggunakan hiburan massal seperti pertunjukan music, gladiator, dan teater publik untuk membuat abai masyarkat dalam pengawasan kinerja pemerintah. Oleh The SIGIT konsep ini dibawakan dalam lagu mereka karena masih relevan dengan kondisi sekarang, dimana segala hiburan dapat menyebar secara masif karena cepatnya inovasi internet. Jika tidak digunakan dengan bijak, maka budaya konsumsi hiburan internet dapat mengaburkan atau membuat kita menjadi abai dengan kondisi realitas, ketika bagaimana tata kelola pemerintahan tidak efisien, kinerja pejabat buruk, dan budaya korupsi yang harusnya menjadi fokus utama dalam memperbaiki negara, malah terabaikan akibat konsumerisme hiburan.

    Dalam negara hukum, partisipasi masyarakat sangat penting sebagai antisipasi kesewenang-wenangan pemerintah, memastikan kebijakan tepat sasaran, dan sebagai upaya dalam membentuk pemerintahan yang baik (good governance). Partisipasi tersebut dapat berupa hak masyarakat untuk dapat berkontribusi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 12 tahun 2011. Selain itu, partisipasi masyarakat juga diatur dalam Asas-asas Umum Pemerintahan yang Baik (AUPB), yang merupakan landasan pemerintah dalam menjalankan negara.

    Secara keseluruhan, lagu ini tidak hanya menonjolkan kekaburan partisipasi masyarakat saja, melainkan mencakup bagaimana keuasaan tanpa wasit (kontrol), kerusakan alam, dan ketamakan manusia. The SIGIT berhasil membawa terobosan baru setelah enam tahun hiatus dengan menawarkan arasnmen yang tidak biasanya melalui lagu “Bread &Circus”.

    Avatar photo
    Avatar photo
    Handayat
    Penulis