Peluang Perbankan Syariah di Era Digital

Peluang Perbankan Syariah di Era Digital

Ukuran Teks:
Firman Setiawan

Penulis: Albiansyah Hasyim

Mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

JATENGKU.COM, Jakarta — Pertumbuhan aset perbankan syariah yang mencapai Rp957,33 triliun pada 2025 menunjukkan industri ini semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Kenaikan pangsa pasar hingga 7,41 persen juga menjadi sinyal positif bahwa layanan keuangan berbasis syariah terus berkembang dan berpotensi menjadi salah satu motor penggerak ekonomi nasional.

Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat, peluang perbankan syariah untuk memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan inklusi keuangan juga semakin terbuka. Melalui Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia (RP3SI) 2023–2027, OJK mendorong transformasi industri perbankan syariah agar lebih efisien, modern, dan kompetitif sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Peluang Perbankan Syariah di Era Digital Di tengah layar terdapat infografik berjudul “Nilai Aset Keuangan Syariah Tahun 2021–2024 (dalam triliun rupiah)” yang bersumber dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Di tengah layar terdapat infografik berjudul “Nilai Aset Keuangan Syariah Tahun 2021–2024 (dalam triliun rupiah)” yang bersumber dari Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS).

Industri keuangan syariah Indonesia terus berkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data periode 2021-2024, total aset keuangan syariah mencapai Rp6.195,2 triliun pada tahun 2021 dan tercatat sebesar Rp9.927,2 triliun pada tahun 2024.

Besarnya aset tersebut menunjukkan bahwa sektor keungan syariah masih memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Di tengah perkembangan teknologi, digitalisasi juga menjadi peluang bagi industri keuangan syariah untuk memperluas layanan, meningkatkan efisiensi, dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Peluang Perbankan Syariah di Era Digital
Gambar ini menampilkan infografis mengenai tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah di Indonesia periode 2022–2025 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Literasi keuangan syariah di Indonesia terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, tingkat literasi masih berada di angka 11,1 persen, kemudian melonjak menjadi 39,1 persen pada 2024 dan kembali naik menjadi 43,42 persen pada 2025. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan syariah masih berada di kisaran 11-13 persen. Data ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang memahami keuangan syariah, tetapi penggunaan produk dan layanannya masih perlu terus ditingkatkan agar sejalan dengan meningkatnya literasi.

Peluang Perbankan Syariah di Era Digital
Infografis menampilkan data pangsa pasar (market share) industri perbankan syariah di Indonesia per Januari 2025 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Struktur industri perbankan syariah di Indonesia hingga 2025 masih didominasi oleh Bank Umum Syariah (BUS). Berdasarkan data pangsa pasar perbankan syariah, BUS menguasai 62,15 persen dari total industri, disusul Unit Usaha Syariah (UUS) sebesar 29,23 persen dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) sebesar 2,62 persen. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa BUS masih menjadi motor utama pertumbuhan industri, sementara UUS dan BPRS tetap berperan dalam memperluas akses layanan keuangan syariah di berbagai segmen masyarakat.

Struktur industri perbankan syariah di Indonesia hingga 2025 masih didominasi oleh Bank Umum Syariah (BUS). Berdasarkan data pangsa pasar perbankan syariah, BUS menguasai 62,15 persen dari total industri, disusul Unit Usaha Syariah (USS) sebesar 29,23 persen dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) sebesar 2,62 persen. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa BUS masih menjadi motor utama pertumbuhan industri, sementara UUS dan BPRS tetap berperan dalam memperluas akses layanan keuangan syariah di berbagai segmen masyarakat.

Di tengah persaingan industri yang semakin dinamis, berbagai bank syariah terus memperkuat strategi bisnisnya. Salah satunya dilakukan oleh PT Bank Muamalat Indonesia Tbk melalui penyelenggaraan Synergy Roadshow 2025. Kegiatan ini menjadi langkah perusahaan untuk memperkuat sinergi internal sekaligus mendorong peningkatan kinerja bisnis agar mampu memanfaatkan peluang pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia.

Di tengah persaingan industri yang semakin dinamis, berbagai bank syariah terus memperkuat strategi bisnisnya. Salah satunya dilakukan oleh PT Bank Muamalat Indonesia Tbk melalui penyelenggaraan Synergy Roadshow 2025. Kegiatan ini menjadi langkah perusahaan untuk memperkuat sinergi internal sekaligus mendorong peningkatan kinerja bisnis agar mampu menmanfaatkan peluang pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia.

Peluang Perbankan Syariah di Era Digital

Dominasi Bank Umum Syariah menunjukkan bahwa lembaga tersebut masih menjadi motor utama pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia. Dengan jaringan yang lebih luas, modal yang lebih besar, serta ragam produk yang lebih lengkap, BUS memiliki kemampuan yang lebih kuat dalam menjangkau berbagai segmen masyarakat.

Bank Muamalat Gelar Synergy Roadshow 2025, Perkuat Kinerja Bisnis dan Komitmen Syariah

Peluang Perbankan Syariah di Era Digital

Direktur Utama PT Bank Muamalat Indonesia Tbk Imam Teguh Saptono (ketiga kiri) berfoto bersama pimpinan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dan Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia (UMI) usai penyerahan mock up kerja sama di Makassar, Kamis (2/10/2025). ANTARA/HO-Bank Muamalat.

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk menggelar Synergy Roadshow 2025 sebagai upaya memperkuat sinergi dan meningkatkan kinerja bisnis di seluruh wilayah operasional perusahaan. Kegiatan ini dilaksanakan di lima kota yang mewakili tujuh region Bank Muamalat di Indonesia, yakni Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dan Makassar.

Direktur Utama Bank Muamalat, Imam Teguh Saptono, mengatakan bahwa kegiatan roadshow tersebut bertujuan untuk menyampaikan arahan strategis manajemen sekaligus memperkuat semangat kolaborasi seluruh insan Bank Muamalat dalam mencapai target bianis perusahaan.

Peluang Perbankan Syariah di Era Digital Kegiatan Sinergy Roadshow 2025 yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama Bank Muamalat. Berdasarkan gambar yang ditayangkan, kegiatan tersebut berisi serangkaian pertemuan dan diskusi antara jajaran pimpinan kedua lembaga untuk memperkuat sinergi dan kerja sama.

Pelaksanaan Synergy Roadshow 2025 berlangsung pada Agutus hingga awal Oktober 2025 sebagai bagian dari dari upaya PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memperkuat sinergi internal sekaligus mengevaluasi kinerja bisnis di berbagai wilayah operasional. Dalam forum tersebut, manajemen memaparkan capaian perusahaan selama semester 1 2025 yang menunjukkan tren pertumbuhan positif seiring penerapan strategi refocusing bisnis dengan fokus pada penguatan segmen ritel.

Strategi tersebut turut mendorong peningkatan pembiayaan konsumer yang mencapai Rp3,4 triliun. Pertumbuhan ini didukkung oleh tingginya minat masyarakat terhadap sejumlah produk unggulan Bank Muamalat, seperti ProHajj Plus, KPR iB Hijrah, Multiguna, dan Solusi Emas Hijrah yang mencatat perkembangan positif sepanjang tahun berjalan.

Tak hanya fokus pada pertumbuhan bisnis, Bank Muamalat juga menegaskan komitmennya dalam menerapkan lima pilar maqashid syariah pada seluruh aktivitas usaha. Prinsip tersebut menjadi landasan perusahaan untuk menghadirkan layanan keuangan syariah yang tidak hanya mengejar profitabilitas, tetapi juga memberikan nilai tambah dan manfaat bagi masyarakat.

Melalui Synergy Roadshow 2025, Bank Muamalat berharap dapat memperkuat koordinasi antarwilayah, meningkatkan produktivitas bisnis, serta mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkokoh posisinya sebagai salah satu bank syariah yang kompetitif di tengah perkembangan industri perbankan syariah nasional.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan