JATENGKU.COM, SEMARANG – Sebagai wujud kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas infrastruktur pendidikan agama, Tim I KKN Tematik (KKN-T) 40 Universitas Diponegoro menyelenggarakan rangkaian program edukasi bertajuk “Pelatihan Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan Sosialisasi Keamanan Bangunan” pada Rabu, 4 Februari 2026. Kegiatan ini ditujukan bagi pengurus pondok pesantren guna membekali mereka dengan kemampuan manajemen konstruksi dan pemeliharaan gedung yang mandiri.
Program pelatihan RAB, yang dilaksanakan oleh Tim 1 KKN-T 40 UNDIP, difokuskan pada penyusunan rencana anggaran biaya sederhana untuk pembangunan atau perbaikan fasilitas seperti rumah dan gedung pesantren. Dalam sesi ini, peserta diajarkan cara menghitung volume pekerjaan dan mengestimasi kebutuhan material agar proses pembangunan dapat berjalan efisien dan transparan.
Tujuan utama dari pelatihan ini adalah agar pihak pesantren memiliki kemandirian dalam merencanakan renovasi gedung sesuai kaidah konstruksi yang benar, tanpa mengabaikan aspek ketersediaan dana.
Selain aspek biaya, Tim KKN-T 40 juga memberikan sosialisasi mendalam mengenai Keamanan dan Identifikasi Struktur Bangunan. Sosialisasi yang dikoordinasikan oleh Vincensius Putra Ariel Siregar ini menekankan pentingnya memahami fungsi elemen utama seperti pondasi, kolom, dan balok dalam menjaga stabilitas bangunan.
Berdasarkan materi yang disampaikan, pengelola pesantren diperkenalkan pada sistem “Kode Bahaya” untuk mendeteksi kerusakan pada bangunan yang sudah jadi:
- Kode Merah: Menandakan kerusakan struktural kritis yang menurunkan daya dukung bangunan, seperti retak geser atau kemiringan bangunan.
- Kode Kuning: Menunjukkan kerusakan sedang/ringan seperti pelapukan kayu, plafon runtuh, atau genteng yang lepas yang memerlukan perbaikan teknis terbatas.
- Kode Hijau: Kondisi bangunan sangat baik yang memenuhi standar kesehatan, pencahayaan, dan sanitasi yang memadai.
Mahasiswa juga membagikan panduan praktis (Do’s and Don’ts) mengenai proses pembangunan berkualitas, mulai dari pentingnya ketebalan selimut beton untuk mencegah korosi tulangan, hingga teknik penyiraman (curing) beton yang benar minimal selama 7 hari untuk mencapai kekuatan maksimal.
“Penyusunan peraturan dan sosialisasi ini bertujuan mewujudkan ketertiban serta menjamin keamanan dan kenyamanan penghuni sesuai karakteristik setempat,” jelas tim dalam materinya.
Kegiatan yang dibimbing oleh Prof. Ir. Jati Utomo Dwi Hatmoko, S.T., M.M., M.Sc., Ph.D. ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pesantren di Kota Semarang untuk memiliki lingkungan belajar yang lebih aman, tertata, dan berkelanjutan bagi para santri.







