JATENGKU.COM, SEMARANG – Tim I KKN Tematik Universitas Diponegoro (Undip) TA 2025/2026 melaksanakan aksi nyata pelestarian lingkungan melalui pembuatan lubang resapan biopori di Pondok Pesantren Doa’qu (Doa Ahli Al-Quran), Sadeng, Gunungpati, pada tanggal 30-31 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda Sosial Kemasyarakatan yang dirancang untuk memperkuat daya dukung lingkungan di wilayah pesantren.
Program ini didasari oleh kondisi geografis Kota Semarang yang rentan terhadap bencana banjir. Berdasarkan hasil konsultasi dan wawancara dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, pengadaan sumur resapan biopori dinilai sangat mendesak (urgent). Idealnya, setiap satu rumah memiliki 2-3 titik biopori untuk membantu aktivitas lingkungan secara kolektif di wilayah kota.
Pihak DLH menekankan bahwa biopori bukan sekadar lubang sampah organik, melainkan memiliki manfaat teknis yang luas:
- Resapan dan Cadangan Air: Mengganti cadangan air tanah yang telah banyak digunakan oleh masyarakat.
- Mencegah Bencana: Menahan laju aliran air permukaan (run-off) untuk mencegah banjir serta meminimalisir risiko longsor, terutama pada lahan dengan kemiringan tertentu.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menemukan tantangan yang selaras dengan temuan DLH. Meskipun pembuatan biopori disarankan mencapai kedalaman maksimal 1 meter, kondisi wilayah Semarang Bawah yang padat penduduk dan jenuh air sering kali menyulitkan proses peresapan dibandingkan wilayah Semarang Atas.
“Lahan yang sulit di daerah bawah yang sudah padat penduduk membuat air sulit meresap secara alami,” ungkap perwakilan tim dalam laporan hasil koordinasi dengan pemerintah daerah. Selain faktor lahan, kendala tenaga dan kurangnya pengetahuan masyarakat menjadi tantangan dalam menjaga keberlanjutan program ini.
Untuk mengatasi masalah pemantauan, DLH mendorong masyarakat dan instansi pendidikan seperti pesantren untuk bergabung dalam PROKLiM (Program Kampung Iklim). PROKLiM menjadi wadah integrasi bagi seluruh kegiatan lingkungan, mulai dari tingkatan terendah (RW) hingga mencapai kategori Lestari.
Meski pemerintah telah gencar memfasilitasi Bank Sampah di tingkat RT, respons masyarakat dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal kedisiplinan memilah sampah organik dan anorganik.

Melalui agenda yang berlangsung selama dua hari tersebut, mahasiswa KKN-T Undip memberikan edukasi praktis kepada para santri dan pengelola pesantren. Harapan besarnya adalah tumbuhnya kebiasaan “Memilah, Memilih, dan Mengelola” sampah di lingkungan pondok.
Jika sampah organik dikelola dengan benar melalui biopori, hasilnya dapat menjadi pupuk kompos yang memberikan nilai ekonomi atau pendapatan tambahan bagi pesantren. Langkah kecil di PP Doa’qu ini diharapkan menjadi pemantik bagi generasi muda untuk lebih peduli terhadap kualitas lingkungan hidup yang lebih sehat dan tangguh bencana di Kota Semarang.







