JATENGKU.COM, Surabaya — Di era digital, menjadi orang tua memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Jika dahulu informasi mengenai kesehatan anak lebih banyak diperoleh melalui buku, tenaga kesehatan, atau pengalaman orang tua terdahulu, kini hampir semua jawaban terasa ada di genggaman tangan. Ketika anak mengalami demam, ruam kulit, batuk berkepanjangan, atau mengalami keterlambatan berbicara, tidak sedikit orang tua yang langsung membuka TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, atau grup WhatsApp untuk mencari solusi. Kemudahan tersebut memang membantu masyarakat memperoleh informasi dengan cepat. Namun, di balik kemudahan itu, terdapat ancaman yang tidak bisa dianggap remeh, yaitu penyebaran informasi kesehatan yang belum tentu benar.
Media sosial telah menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus sumber informasi bagi jutaan orang tua di Indonesia. Sayangnya, tidak semua konten yang beredar dibuat oleh tenaga kesehatan atau berdasarkan bukti ilmiah. Banyak informasi yang hanya berasal dari pengalaman pribadi, opini, bahkan mitos yang diwariskan secara turun-temurun. Tidak sedikit pula konten yang sengaja dibuat sensasional agar menarik perhatian dan mendapatkan banyak penonton. Akibatnya, masyarakat sering kali kesulitan membedakan informasi yang benar dengan informasi yang menyesatkan.
Fenomena ini perlu menjadi perhatian bersama. Kesalahan dalam menerima informasi kesehatan bukan sekadar persoalan salah paham, tetapi dapat berdampak langsung terhadap keselamatan anak. Misalnya, orang tua memilih mengobati anak menggunakan ramuan yang sedang viral tanpa mengetahui efek sampingnya, menghentikan obat yang diberikan dokter karena mengikuti saran di media sosial, atau menggunakan produk tertentu hanya karena banyak direkomendasikan oleh influencer. Keputusan-keputusan seperti ini berisiko memperburuk kondisi kesehatan anak apabila tidak didasarkan pada informasi yang valid.
Di sinilah pentingnya literasi digital. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan gawai atau mengakses internet, tetapi juga kemampuan memahami, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi secara bijak. Orang tua yang memiliki literasi digital akan lebih kritis dalam menerima informasi. Mereka tidak mudah percaya pada judul yang provokatif, tidak langsung membagikan informasi yang belum jelas sumbernya, serta terbiasa memverifikasi informasi melalui tenaga kesehatan atau lembaga resmi sebelum mengambil keputusan.
Sayangnya, kemampuan tersebut belum dimiliki oleh semua masyarakat. Masih banyak orang tua yang menganggap informasi dengan jumlah penonton atau jumlah “like” yang tinggi sebagai informasi yang pasti benar. Padahal, popularitas sebuah konten tidak selalu sejalan dengan kebenaran isinya. Algoritma media sosial lebih mengutamakan konten yang menarik perhatian pengguna, bukan konten yang paling akurat. Oleh karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk berpikir kritis dalam menghadapi banjir informasi yang muncul setiap hari.
Membangun budaya literasi digital tentu tidak dapat dilakukan hanya melalui imbauan sesaat. Dibutuhkan sebuah kampanye komunikasi yang terencana, melibatkan berbagai pihak, serta memanfaatkan berbagai media agar pesan yang disampaikan dapat menjangkau masyarakat secara luas. Salah satu gagasan yang dapat diwujudkan adalah kampanye #SaringSebelumSharing dengan slogan “Saring Informasinya, Lindungi Anaknya.” Kampanye ini mengajak orang tua untuk membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai ataupun membagikannya kepada orang lain.
Kampanye ini terutama ditujukan kepada orang tua muda berusia 20–40 tahun yang aktif menggunakan media sosial sebagai sumber informasi mengenai kesehatan dan pengasuhan anak. Kelompok ini dipilih karena merupakan pengguna internet yang sangat aktif sekaligus berada pada fase kehidupan yang membutuhkan banyak informasi mengenai tumbuh kembang anak. Namun demikian, kampanye ini juga perlu melibatkan calon orang tua, guru PAUD, kader Posyandu, tenaga kesehatan, komunitas parenting, hingga kreator konten edukasi agar pesan yang disampaikan semakin luas dan konsisten.
Gagasan utama dari kampanye ini sederhana, yaitu menanamkan kesadaran bahwa kemampuan menyaring informasi sama pentingnya dengan kemampuan merawat anak. Orang tua tidak harus mengetahui semua informasi yang beredar di media sosial, tetapi mereka harus mampu memilih informasi yang benar. Dengan demikian, keputusan yang diambil benar-benar didasarkan pada sumber yang dapat dipercaya, bukan sekadar mengikuti tren atau konten yang sedang viral.
Agar tujuan tersebut tercapai, kampanye tidak cukup dilakukan hanya melalui satu media. Media sosial seperti TikTok, Instagram, Facebook, dan YouTube dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan video edukasi singkat, infografis, dan konten interaktif mengenai cara mengenali informasi kesehatan yang valid. Konten dibuat dengan bahasa yang sederhana, visual yang menarik, serta menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami oleh masyarakat.
Di sisi lain, publikasi artikel edukatif di media massa dan media online juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Artikel dapat memberikan penjelasan yang lebih mendalam mengenai bahaya hoaks kesehatan, pentingnya memverifikasi informasi, serta langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat sebelum mempercayai sebuah informasi. Melalui artikel yang mudah dipahami, masyarakat diharapkan semakin sadar bahwa setiap informasi perlu diuji kebenarannya.
Kampanye juga perlu diperkuat melalui kegiatan edukasi secara langsung, seperti seminar, webinar, penyuluhan di Posyandu, sekolah, maupun puskesmas. Kehadiran dokter anak, bidan, ahli komunikasi, serta praktisi literasi digital dalam kegiatan tersebut dapat membantu masyarakat memperoleh informasi yang benar sekaligus menjawab berbagai pertanyaan yang selama ini muncul akibat banyaknya informasi di media sosial. Pendekatan tatap muka juga mampu membangun kepercayaan masyarakat terhadap sumber informasi yang kredibel.
Selain itu, kolaborasi dengan influencer parenting dan tenaga kesehatan yang aktif di media sosial menjadi strategi yang efektif. Saat ini banyak orang tua yang mengikuti akun kreator konten untuk mendapatkan informasi sehari-hari. Oleh karena itu, keterlibatan influencer yang memiliki komitmen menyampaikan informasi berbasis fakta dapat membantu memperluas jangkauan kampanye sekaligus menjadi contoh bahwa media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi yang positif.
Keberhasilan kampanye ini tidak hanya diukur dari banyaknya orang yang melihat konten atau menggunakan tagar #SaringSebelumSharing. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika semakin banyak orang tua yang mulai membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membandingkan beberapa referensi, serta berkonsultasi kepada tenaga kesehatan sebelum mengambil keputusan yang berkaitan dengan kesehatan anak. Perubahan perilaku tersebut merupakan tujuan utama yang ingin dicapai melalui kampanye ini.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak dapat dihindari. Media sosial akan terus berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, yang perlu dipersiapkan bukanlah membatasi akses terhadap informasi, melainkan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola informasi tersebut secara bijak. Orang tua memiliki peran yang sangat penting karena setiap keputusan yang mereka ambil akan memengaruhi kualitas hidup anak di masa depan.
Melalui kampanye #SaringSebelumSharing, diharapkan lahir budaya baru di masyarakat, yaitu budaya memeriksa fakta sebelum percaya dan berbagi. Langkah sederhana seperti memastikan sumber informasi, membaca isi berita secara utuh, membandingkan dengan referensi lain, dan berkonsultasi kepada tenaga kesehatan dapat menjadi kebiasaan yang memberikan dampak besar bagi kesehatan keluarga.
Ketika semakin banyak orang tua memiliki literasi digital yang baik, maka semakin besar pula peluang terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan tumbuh dengan dukungan informasi yang benar. Pada akhirnya, literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi, melainkan bentuk tanggung jawab orang tua dalam melindungi anak dari dampak buruk misinformasi di era digital.
